Sabtu, 28 Mei 2016

TOTALITAS IPAN BLACK GANTUNG SEMPAK PINK

Ada yang berbeda memang dari diri Ipan Playboy 'Cap Orong-Orong' Black kali ini. Setelah sejak dua pekan kami tak bertemu. Kulihat wajahnya sedikit berseri-seri, meskipun agak pucat. Aku tak tahu apakah ia sedang sakit tapi yang jelas ada kebiasaan baru yang sering dilakukannya seperti rutin. Tak pernah kulihat ia berprilaku demikian sebelumnya, hanya sejak kami jumpa kali ini saja.

Ia dalam setiap selang beberapa menit sekali, berkala dan rutin, selalu mengulang-ulang tabiat seperti menahan rasa sakit. Seperti mengidap  Eccedentesiast. Sebagian bibir sebelah kanannya naik keatas  diikuti dengan kontraksi pipi dan kerlipan mata. Hampir tidak kelihatan jika tidak seksama. Tapi sebagai sejawat setongkrongan di kedai kopi bang Jamel, bagiku itu terlihat jelas. Atau apa hanya kebiasaan barunya? Aku namakan begitu saja; Kebiasaan Baru Ipan.

"Kemana saja kau, Pan?" Tanyaku menyapanya, pundaknya kutepuk lembut beberapa kali.

"Hei, Kulok! Biasalah ... bertapa sekejap." Katanya sambil tersenyum, kebiasaan barunya tadipun terlihat saat dihujung kalimatnya.

"Ah, bertapa saja kau." Kataku sambil duduk disampingnya.

Ipan 'Playboy Cap Orong-Orong' Black, tak banyak yang mengetahui sepak terjangnya sebagai Playboy Kampong, di kampung kami. Selain 'korban'nya, tak ada yang menyangka ia seorang Petualang Cinta. Gerakannya dalam senyap. Kata 'Playboy Cap Orong-Orong' gelar yang aku berikan padanya. Orang kampung kami lebih mengenalnya dengan Ipan Black. Black, ia dapat karena dulu, dimasa remajanya, ia pemilik sepeda motor Honda Astrea Prima berwarna hitam atau black; dalam Bahasa Inggris, satu-satunya di kampung kami. Tabiat Playboy harus didukung dengan kepemilikan sepeda motor, aset syarat wajib waktu itu. Entah sekarang? Sedikit dari sekian banyak profil Ipan 'Playboy Cap Orong-Orong' Black.

"Minum apa kau?" Ia tawarkan padaku.

"Kopi Susu lah. Bang Jamel, Kopi Susu satu!" Pesanku.

"Cemana, boy? Cerah warna sempakmu hari ini?" Ia bertanya kabarku.

"Ginilah, fren. Macam kaset, dari side A ke side B. Namanya jugak pengangguran eksklusif." Jawabku jujur agak malu-malu, tapi itulah kenyataannya.

"Bauklah?" Katanya.

"Sempakmu cam mana? Masih Pink?" Tak kujawab pertanyaannya, antusias aku bertanya balik kabarnya.

Ini serius! Ipan 'Playboy Cap Orong-Orong' Black penggemar berat sempak berwarna pink. Ia lebih baik memilih tak pakai sempak daripada harus pakai sempak tapi tak berwarna pink. Menurutnya ada arti dan nilai filosofi yang terkandung dari Sempak Pink. Sempak Pink artinya perlambang lelaki pencinta sejati. Sesuai keahliannya, Petualang Cinta. Apalagi kalau ada tambahan motif bunga renda-rendanya di sepotong sempak pink, berapapun ia bayar untuk menambah koleksinya. Jika aku terlihat antusias, itu karena Ipan Black selalu menarik historisnya. Maklum, Tokoh Sentral dijaman masa remaja kami. Aku masih tak bisa lepaskan euphoria indahnya masa remaja.

Gadis yang tak perawan mana di kampung kami yang tak kenal nama besar seorang Ipan Black? Tak ada! Ipan Black, dulu, adalah pemuda idola banyak wanita. Tampan, anak Orang Kaya, petualang, dan sebagainya yang menjadi idaman gadis-gadis itu. Apalagi tambahan bakat alami merayu dengan kelihaiannya bermusik. Kombinasi suara serak-serak batuk berdahak dan gitar, lengkaplah sudah. Lagu-lagu cinta dari Iwan Fals senjata pamungkasnya jika sedang merayu. Bikin klepek-klepek, istilah sekarang.

"Ah, masa lalu itu. Aku sudah gantungkan sempak, boy."

"A ... apa? Apa? Tak salah dengar aku, Pan? Gantungkan sempak kau bilang?!" Aku tak percaya, pelan tapi ucapanya tadi sungguh menyentakkan aku.

"Ssssst! Jangan keras-keras," Katanya sambil melirik kiri dan kanan, khawatir kalau lingkungan kami mendengar ucapanku yang agak keras.

Bagaimana mungkin? Tak mungkin rasanya orang yang begitu memuja Pornoisme dan Love Is Blindeisme yang panatik, bahkan Guru Spiritual Alam Cinta, bisa menggantungkan Sempak Pink-nya? Tak mungkin! Aku pasti salah dengar, pikirku.

Ipan Black, identik dengan Bad Boy, Dirtyman, Magister Lovers, kuanggap Doktor dari Universitas Dunia Percintaan. Mungkin, dialah satu-satunya lelaki di kampung kami yang telah mendedikasikan diri secara total, hampir seluruh umur hidupnya hanya untuk berpetualang di Dunia Cinta. Tidak dengan otodidak, atau learning by doing saja tapi Ipan Black juga pakar teoritis. Mengkoleksi banyak buku-buku referensi tentang bagaimana, apa, dan filsafat-filsafat cinta. Koleksi bundelan Enny Arrow, majalah Playboy, kaset video dan L/CD hingga DVD Porno, puluhan unit flashdisk dan memori eksternal berisi foto atau video film biru, bahkan poster-poster cewek barat pirang model setengah bugil hingga bulan kemarin masih kulihat terpajang di dinding ruang tamunya.

Buku-buku tulisan Giacomo Cassanova, bak Kitab Suci baginya. Sebut saja 'Memoirs of Jacques Casanova de Seingalt', bagaimana apiknya Sang Pecinta Sejati itu mengakui petualangannya. Ia hapal luar kepala buku setebal itu dengan detilnya. Ipan Black pernah hampir pingsan karena kekagumannya, saat meriwayatkan ulang padaku. Setiap kali berdalil, maka ia mengutip potong demi potong ucapan dan pengakuan Sang Maestro Alam Cinta, Cassanova. Sungguh aku tak percaya kalau seorang penganut panatik Cassanova itu sampai gantungkan Sempak Pink-nya!

"Kau tak salah dengar, Kulok. Ini aku, Ipan Black. Barusan dakulah yang mengatakan bahwa telah menggantungkan Sempak Pink-ku." Ia ulangi lagi pengakuannya, ngotot sambil setengah berbisik ke telingaku.

"Oooo emmmm ji! Kau dipaksa, Pan? Siapa yang memaksamu? Apakah Rita Betis Beton binimu itu yang memaksa?" Aku menebak, setengah kecewa.

"Tidak, Pren! Seperti dirimu yang juga mendukungku jalani cita-cita dan ambisiku menjadi Cassanova Wannabe, biniku pun terkejut kalau aku mau Gantung Sempak Pink. Kugantungkan Sempak Pink-ku karena kesadaranku sendiri," Ia terlihat jujur dengan kata-katanya, Kebiasaan Baru Ipan menyertai.

Aku wajar saja jika menduga ada yang memaksa atau meminta dengan kekerasan, seperti diintimidasi atau teror, untuk ia pensiunkan diri dari petualangannya di Dunia Cinta. Dan tuduhanku pada Rita, istri semata wayangnya itu, tak berlebihan. Sebab sepanjang pernikahan mereka, tak ada yang merupakan teror atau mampu mengintimidasi seorang Playboy Kampong Ulung seperti Ipan Black, tak seorangpun termasuk ayah dan ibunya kecuali Rita Betis Beton! Istrinya sendiri.

Rita Betis Beton, wanita berprilaku tomboy dengan keahlian bela diri Taekwondo, ban hitam Dan III terlatih, dua kali juara umum se-Kecamatan, yang dinikahinya empat tahun yang lalu. Pertemuan Rita dengan Ipan terbilang unik. Takdir perjodohan mereka dimulai ketika Ipan Black iseng-iseng berniat banting setir menjadi copet amatiran di Pasar Pekan dekat kampung kami. Unik bukan? Seperti kukatakan diawal, tak ada yang tidak unik dari seorang Ipan Black untuk diikuti perihal historis jalan hidupnya.

Ipan Black yang selain Playboy Kampong, juga pembalap liar di jalan-jalan belum jadi, jalan setapak kebun karet milik warga misalnya, di kampung kami dengan Honda Astrea Prima-nya tentunya. Ia hampir kehilangan nyawa, dihajar Rita Betis Beton yang waktu itu menjalani profesi sebagai HanWan alias Hansip Wanita di desa kampung kami. Sial, Ipan Black tertangkap massa ketika nyopet. Dan dibawa ke Pos Hansip. Nah! Disanalah hubungan asmara antara Ipan Black dan Rita Betis Beton berawal. Pandangan pertama, yang membuat Ipan Black langsung jatuh cinta pada dirinya, merasuk ke hati yang paling dalam ketika Jurus Tendangan Tanpa Bayangan milik Rita berkali-kali menghujam perut Ipan.

Ternyata perasaan jatuh cinta pada pandangan pertama Ipan Black itu ke Rita Betis Beton, bak gayung bersambut. Tinju ke lima belas yang dilancarkan Rita ke kening Ipan Black saat mengintrogasinya di Pos Hansip, pengakuan Rita, adalah dimana awal ia juga merasakan firasat bahwa Ipan lah lelaki yang bakal menemaninya duduk di pelaminan nanti, dan terwujud. Semua kudapat cerita itu dari penuturan mereka berdua sendiri ketika curhat padaku. Baik Ipan Black ataupun Rita, sebagai sahabat mereka.

"Ah ... serasa tak percaya aku, boy! Jadi, apa yang membuatmu tobat? Eh, maksudku ... Gantungkan Sempak Pink? Apa sudah kau pikirkan baik-baiknya, Pren?" Aku masih dengan perasaan kecewa karena ia memutuskan untuk menggantungkan Sempak Pink-nya.

"Ini sudah final. Keputusanku, tak bisa diganggu gugat lagi. Aku terpanggil sendiri dari hati nuraniku yang paling dalam, boy. Aku tau kau pasti kecewa karena kau adalah pengagum beratku sekaligus saksi hidup akan betapa hebatnya sepak terjangku dalam Dunia Percintaan." Katanya begitu mantap, tak biasanya aku melihat mimiknya demikian.

"Tapi, boy ... segala sesuatu itu harus ada akhirnya. Dan tak harus sama ending-nya. Cassanova terlalu suci untuk kuikuti jejak Petualangan Cinta-nya hingga akhir hayat. Siapalah aku? Apalah aku?" Sambung Ipan Black lagi, puitis tapi realistis menurutku.

Aku tertegun. Ipan Black memang ahli soal berargument. Bukan dia jika tak mampu membuatku speechless karena kagum. Tapi saat kulihat usai dengan kata-kata itu, Ipan Black seakan berkabut bola matanya. Spontan, aku menahan sedih, ingin menangis. Ini bagaikan sebuah perpisahan, yang kurasakan. Aku tak akan pernah mendengar curhat atau sekedar cerita pengalamannya dalam mengarungi Dunia Petualangan Cinta lagi! Rutinitas di kedai kopi yang bakal hilang dalam hari-hariku. Mengharukan karena aku sudah terbiasa dengan itu, pikirku.

---

Sekitar lima belas menit pertemuan kami, aku dan Ipan Black, di kedai kopi bang Jamel. Karena satu dan lain hal, Ipan Black terpaksa akhiri kebiasaan kami ngobrol, ngupil, dan nongkrong berlama-lama bahkan terkadang numpang mandi di kedai kopi. Dari menguping kutipan dan menyimak transkrip lisan, percakapannya di smartphone dengan istrinya, bisa kusimpulkan bahwa ia diminta agar segera pergi ke pasar untuk membeli susu anaknya yang paling kecil. Aku tak berdaya menahannya untuk tetap tinggal, ngobrol lebih lama lagi di kedai kopi bang Jamel, jika sudah demikian. Istrinya, Rita Betis Beton, otoritarian yang tak punya prinsip toleransi jika terkait kebutuhan rumah tangga. Harus!

Aku ingat dulu, pernah Ipan Black kulihat dengan kondisi dua matanya membiru. Akibat ditinju istrinya, Rita Betis Beton. Sekitar dua tahun yang lalu, paska masa-masa romantisme dan Bulan Madu mereka berakhir, awal ujian rumah tangga mereka bermula. Waktu itu aku sedang asyik menikmati lezatnya Kopi Susu racikan bang Jamel di kedai kopinya, dari kejauhan kulihat Ipan Black sedang berjalan dengan tergontai seperti penumpang yang berjalan diatas dek kapal layar yang sedang mengarungi lautan. Dengan lemahnya tapi kulihat seperti memakai kacamata raven di pagi buta, dari kejauhan. Pagi-pagi buta sudah berjalan-jalan dengan memakai kacamata raven? Pikirku. Setelah dekat, ternyata bukan berkacamata raven tapi dua belah selaput matanya sudah lebam membiru akibat ditinju oleh Rita Betis Beton. Pengakuannya, hanya gara-gara terlambat mengganti popok bayi, anaknya yang nomer dua sewaktu baru lahir!

Melihatnya begitu, aku prihatin kala itu. Kuusulkan padanya mengadukan masalah itu, ke Polisi atau Komnas HAM dan Dinas Peranan Wanita. Sebab menurutku, apa yang dilakukan Rita Betis Beton istrinya itu pada Ipan Black suaminya sudah termasuk bentuk perbuatan Tindak Pidana Kekerasan Rumah Tangga! Kujelaskan panjang lebar tentang pasal-pasal Pidana padanya. Tapi Ipan Black menolak melaporkan Rita isterinya itu ke Polisi. Malu, katanya. Ia takut kalau-kalau berita pemukulan pada dirinya oleh isterinya itu jadi bahan gosip sekampung kami. Ada benarnya, karena bukan lazimnya kalau suami yang babak belur dihajar oleh isteri. Tapi biasanya justru sebaliknya.

"Kemana kau, Kulok?!" Pakcik Semad, Mantri Puskesmas, yang juga masih tetanggaku menyapa.

"Ke gubok Wak Ongeh awak, pakcik! Mau kemana, pakcik?!" Tanyaku balik.

"Mau pulang. Ngapain pulak kau ke gubok Wak Ongeh tu?" Tanya pakcik Semad lagi, sambil menghentikan sepeda motor skutiknya disebelah sepeda mix BMX dengan Sepeda Mini-ku yang tergembok di sebatang pohon pisang di halaman samping kedai kopi bang Jamel.

"Ngantok kali aku, pakcik. Sedap ni, tidor siang di gubok Wak Ongeh tu. Banyak kali anginnya." Terangku.

"Ah! Tidor saja diutakmu. Tadak yang lain." Katanya.

"Habis ... ngapain lagi aku, pakcik? Tak mungkin ngitung sempak aku di jemuran orang." Jelasku.

"Cariklah kerja," Pakcik Semad beri saran.

"Kerja banyak, pakcik. Yang gaji tadak! Nanti kusapu halaman Kantor Bupati tu, pikir orang aku orang gilak." Jawabku sambil pelan-pelan mendorong sepedaku keluar dari lokasi kedai kopi bang Jamel.

"Kau mau job?" Ditawarkannya kepadaku.

"Mau! Job apa rupanya, pakcik?"

"Memupuk kebun jagungku tu. Semalam dah kusuruh si Jambek sama si Punggok. Ntah kemana pulak orang tu harini? Tak nampak batang hidungnya." Kata pakcik Semad.

"Si Punggok sama si Jambek pulak pakcik suroh?! Manalah tekerjakan orang tu. Ke muara orang tu mancing pakcik." Jelasku.

"Tak bisa diharap orang tu memang," Pakcik Semad kecewa.

"Tapi, pakcik ... usahlah sekarang, pakcik." Kupujuk ia agar tidak memintaku mengerjakan menabur pupuk di kebun jagungnya hari itu.

"Eh ... jadi kapan lagi?!"

"Besok sajalah. Dah jam sembilan ini, dah siang. Ngantok kali aku. Biarlah harini tidor siang aku dulu. Lagipun ... tanggung kurasa." Kujelaskan alasanku.

"Owalah ... Kulok, Kulok! Jam sembilan pagi dah nak tidor siang kau?! Memanglah kau." Pakcik Semad sedikit kesal padaku.

---

"Tau saja kau lapak tidor siang yang mantap ya, Lok?" Ucap pakcik Semad sambil meletakkan helmnya di sudut gubuk milik Wak Ongeh, tempat biasa aku tidur siang belakangan ini.

"Kulok, pakcik. Lubang semut mana yang tak awak tau di kampong kita ni?" Kataku membanggakan diri sambil merebahkan badan.

"Sering bang Ongeh tu kemari?" Tanya pakcik Semad padaku.

"Siapa? Wak Ongeh? Ada jugak, sebulan kadang-kadang dua kali. Kalau dia pelihara ternak kambeng ni ... iseng-iseng sajanya, pakcik. Hobi dia liat kambeng-kambeng tu berak di kandang. Apalagi kalau sampai Si Buden tu cengap-cengap bersihkannya. Ketawak-tawak beliau tu. Hilang sakit jantungnya katanya. Bukan macam kita, pakcik." Kujelaskan pada pakcik Semad.

"Iyalah ... Orang Kaya lah pulak, pabrik bulu ketiak palsunya di kota tu saja dah berapa bijik. Itu saja dah bikin repot ngurus duitnya. Namanya jugak Bisnisman." Kata pakcik Semad dengan mata yang mulai sayu karena kantuk.

"Apa, pakcik? Superman?"

"Bisnisman! Pokak kau pelihara," Ia kesal.

"Ooooo ... kupikir Batman."

Gubuk Wak Ongeh yang kami huni dijadikan tempat tidur siang itu, sebenarnya bagian dari kandang ternak kambing diatas lahan sebesar 6 Hektar milik Wak Ongeh. Si Buden, orang kepercayaan yang digaji Wak Ongeh untuk menjaga kandang ternak kambing Wak Ongeh yang membangunnya untuk keperluan jaga malam. Tapi karena adem ayem dan Wak Ongeh jarang-jarang inspeksi berkunjung ke kandang kambingnya, maka itu kujadikan tempat itu sebagai rumah ke-duaku untuk menumpang bersembunyi tidur siang.

Embekan kambing dibawah kolong tempat kami merebahkan badan jadi semacam sound effeck bagi kami diatas kandang ternak kambing Wak Ongeh. Ia jadi semacam terapi bunyi yang semakin membuat kami bertambah kantuk. Kulihat pakcik Semad sudah terlayang-layang karena sejuknya angin yang berhembus, masuk dari celah-celah atap daun nipah gubuk itu. Kujahili dia, "Pakcik! Cepat kali tidurnya?"

"Ha! Betol jugak cakap kau, Kulok. Sedap kali tidor siang di gubuk Wak Ongeh ni." Ia tersadar.

"Usah tidor dulu, pakcik. Cerita-cerita dulu kita," Aku bangkit, duduk dan membakar sebatang rokok.

"Cerita apa lagi? Oh iya ... teringatku, ngapa cepat kali kau keluar dari kedai kopi si Jamel tu tadi? Ditagihnya hutangmu?" Pakcik Semad bertanya padaku.

Tak biasanya memang aku pulang atau melakukan kegiatan diluar kedai kopi bang Jamel dibawah jam sepuluh pagi. Biasanya, mendekati waktu makan siang atau paling cepat setelah jam sebelas. Pakcik Semad yang letak Puskesmas tempatnya mengabdikan diri itu tak jauh dari kedai kopi bang Jamel, hapal sekali dengan tabiatku.

"Itulah, pakcik. Tapi tadi jumpa aku dengan Si Ipan." Kataku.

"Ha! Si Ipan Black? Dah lama tak nampak dia tu di kedai kopi. Kenapa rupanya dia?" Pakcik Semad ikut-ikutan bangkit dari berbaringnya.

"Aku agak kecewa denganya, pakcik. Jadi cerita dia, dua minggu tak pernah nampak tu karena menyendiri kaji dirilah dia. Dah gantungkan Sempak Pink, katanya." Ceritaku.

"Aihmak! Insyaf dia? Syukurlah. Kalau tidak sekarang ... kapan lagi?" Kata pakcik Semad padaku.

Diluar dugaan, ternyata penilaian pakcik Semad berbeda denganku tentang berita menggantungkan Sempak Pink-nya Si Ipan Black. Ia malah bersyukur. Kebalikan dari harapanku agar Ipan Black urung Gantung Sempak Pink-nya. Kalau kutelaah lagi, sewajarnya lah. Sebab pakcik Semad punya cara pandang lain atas bakat Ipan Black dalam mengarungi Dunia Percintaan di kampung kami. Pakcik Semad gaul, jadi ia selalu tahu dan mengikuti perkembangan setiap pemuda di kampung kami.

"Aku bukan mau begunjing, Kulok. Tapi ... kurasa ada baiknya lah si Ipan tu taubat. Akhirnya didengarnya jugak nasehatku." Sambung pakcik Semad.

"Yah ... kapan dia minta nasehat pakcik rupanya?" Tanyaku heran, sebab tak mungkin aku tidak diajak konsultasi oleh Ipan Black soal minta nasehat ke pakcik Semad.

"Ada sekitar seminggu lalu lah. Datang dia ke rumah tengah-tengah malam waktu itu. Dikawani bininya, kalau tak silap aku." Pakcik Semad mengingat.

"Tengah malam?" Aku jadi penasaran.

"Sekitar jam sebelas malam lah mungkin. Waktu itu pucat kali mukanya, macam kertas kau pikir. Jadi kutanyak lah sama dia, kenapa kau? Kubilang." Pakcik Semad mulai bersemangat bercerita.

Aku diam saja, mendengarkan sambil menikmati hisap demi hisapan rokokku. Pakcik Semad seorang Mantri Kesehatan yang andal di kampung kami. Tatkala rekan-rekan sejawatnya yang lain menolak mengabdikan diri di kampung kami yang terpencil, ia justru bekerja sendirian di Puskesmas yang kondisinya sudah dalam keadaan 'hidup segan, mati tak mau'. Satu-satunya lokasi tempat warga di kampung kami menggantungkan harapan akan nasib kesehatan. Pakcik Semad legenda pelaku abdi kesehatan, jasanya tak diragukan lagi.

Bayangkan, hampir semua penyakit bisa disembuhkan pakcik Semad yang notabene hanya seorang Mantri. Menurut ceritanya orang-orang di kampungku, gosip, pakcik Semad Punya Ilmu. Taukan maksudku dengan kata; Punya Ilmu? Itu, semacam kesaktian supranatural yang lekat dengan hal-hal gaib. Itulah mengapa pakcik Semad terkadang bisa melampaui keahliannya sebagai Mantri Kesehatan dalam pengabdiannya melayani pengobatan warga di kampung kami. Ia dipercaya sebagai dukun atau tabib juga. Itulah mengapa walaupun hanya pil generik tanpa merek berwarna putih, biru, merah, hijau dan kuning yang itu-itu saja diberikannya untuk dikonsumsi pada setiap jenis penyakit, ampuh! Termasuk terkadang dengan penyakit-penyakit aneh, diluar kelaziman. Kutil Kembar atau Panu Belang-Belang, misalnya.

"Mengeluh lah dia, tentang penyakitnya itu. Jadi kuperiksa lah. Sudah kuperiksa, kubilang sama dia, kalau penyakit macam kau ini ... besok ke kota saja kau berobat sama Dokter karena tadak obatnya sama aku. Kubilang, Lok." Lanjut pakcik Semad.

"Apa penyakitnya rupanya, pakcik?" Keingin-tahuanku sampai pada puncaknya.

"Aaaaaah ... tak enaklah kalau kucakapkan sama kau. Karena nanti kau pikir pulak aku Tukang Gosip!" Pakcik Semad menolak menjawab pertanyaanku.

"Tidaklah, pakcik. Tak mungkin lah aku becakap gitu. Inikan kita sama kita saja. Aku karena kesiannya sama si Ipan Black tu. Best friend-ku tu, pakcik. Jadi ... apa penyakitnya, pakcik?" Kuulangi lagi pertanyaanku padanya, berharap ia mau buka rahasia.

"Tapi janjilah kau. Jangan ceritakan sama orang,"

"Sumpah, pakcik!"

"Sama ... traktirlah aku Kopi Susu si Jamel tu nanti malam." Ia minta kompensasi atas kesediaanya untuk buka rahasia.

"Gampang itu, pakcik." Janjiku.

Ia tegakkan punggungnya yang sedari tadi menyandar di dinding gubuk kandang kambing milik Wak Ongeh itu. Seakan-akan ingin bercerita serius. Diambilnya sebatang rokok dari bungkus rokokku. Dibakarnya untuk bisa menikmati hisapan asap rokoknya. Ia mulai lagi, "Tau kau ... waktu kutanyak, mana yang sakit rupanya? Ditunjuknya lah kearah Sangkar Burung Punainya, Kulok."

"Sangkar Burung Punai? Maksudnya, pakcik?" Tanyaku kurang paham dengan kalimatnya.

"Selangkangannya lah! Telmi jugak kau ini." Katanya kesal.

"Iyah! Dah tu?"

"Iniku yang sakit, pakcik. Katanya. Kutanyak lagi, susah kencing? Kenak Anyang-Anyangan kau itu. Kupikir itu penyakitnya," Pakcik Semad kali ini bercerita dengan mimik wajah serius.

"Dah tu?"

"Bukan pakcik, katanya lagi. Penasaran, kusuruhlah dia liatkan Burung Punai-nya, Kulok. Aihmak, kenak Raja Singa rupanya dia kau pikir!" Pakcik Semad sebutkan nama penyakit yang diidap Ipan Black, sambil menepuk jidatnya.

"Raja Singa? Sipilis!" Aku tersontak seketika mendengar penjelasan pakcik Semad.

---

Sore hari, sesaat sebelum pergi ke sumur untuk mandi, aku merenung di meja makan dapur rumahku. Dengan hanya mengenakan celana pendek dan handuk yang kusimpulkan melilit leher, aku masih mengingat-ingat cerita pakcik Semad siang tadi tentang penyakit kelamin yang diidap Ipan Black. Sungguh diluar dugaanku. Tapi itu sesuai dengan resiko atas apa yang ia jalani selama ini. Petualang Cinta Liat Sejati.

Terlepas bahwa aku merasa dibohongi, dengan alasannya mengapa ingin totalitas Gantung Sempak Pink alias tobat jadi Playboy Kampong, sewaktu di kedai kopi, mendengar keterangan pakcik Semad saat memeriksa penyakit Ipan Black malam itu, ada hikmahnya. Menurut pakcik Semad, Rita Betis Beton istri semata wayangnya Ipan Black menangis terisak-isak ketika mengetahui bahwa Burung Punai suaminya telah mengidap penyakit Raja Singa alias Sipilis! Ini tidak biasanya. Sepengetahuanku, Rita Betis Beton tak bisa menangis dengan alasan apapun.

"Mau mandi, apa mau melamun kau?" Suara teguran ibuku pecahkan lamunanku.

"Mandilah, mak. Mamak mau mandi jugak?" Aku bertanya.

"Tidak. Mau nyuci beras. Eh, Kulok! Kau kalau menjemur sempak, jangan di jemuran yang dekat dengan rumah Si Bedah tu," Ibuku peringatkan aku.

"Kenapa rupanya, mak?"

"Macam tak tau adat kau. Ngadu Si Bedah tu sama aku tadi siang, malu dia mau kesamping mengambil daun pisang ... gara-gara jemuran sempakmu!" Ibuku jelaskan.

"Halaaaaah, mak ... banyak kali cerita Si Bedah tu, mak! Nampak sempakku aja ... malu dia." Aku kesal.

Si Bedah anak gadisnya tetanggaku. Selepas Kursus Menjahit di kota, ia sudah tiga bulan ini menganggur di rumah. Karena itu mungkin terkadang tingkahnya, menurutku, suka mengada-ada. Baru melihat sempak yang kujemur saja dia alergi, bagaimana kalau melihat Sempak Pink-nya Ipan Black, pikirku. Padahal sempak-sempakku itu, meskipun sudah mirip Kain Lap, tapi tak pernah kugunakan dalam petualangan Dunia Liar. Paling vulgar, kuperlihatkan memakainya didepan publik saat berenang menombak ikan di muara.

"Lain kali kau jemur saja sempakmu dalam sumur kita tu. Makanya pasang kawat, kan dari dulu dah becakap aku." Celoteh ibuku, sambil mencuci beras untuk ditanak, makan kami malam nanti.

"Iyalah, mak. Nanti awak pasang." Aku berpikir lebih baik mengalah saja.

Aku tak lagi setuju dengan perasaan kecewaku diawal saat mendengar Ipan Black telah Gantungkan Sempak Pink-nya. Terlambat dan tidak benar pada prinsip murni panggilan nuraninya jika ia Gantung Sempak Pink paska terkena Penyakit Kelamin. Ia gantungkan Sempak Pink karena memang sudah tak bisa mengandalkan isi Sempak Pink-nya lagi. Bukan karena hidayah. Itu, pikirku. Jadi sepantasnya ia memang harus sudah pensiun dari Cassanova Wannabe.

Tapi aku justru tertarik dengan pandangan pakcik Semad. Mensyukuri jika Ipan Black telah taubat. Hanya saja, apakah peristiwa menggantungkan Sempak Pink itu sungguh-sungguh, tidak kambuh lagi? Sebagaimana jika nanti penyakit Raja Singa-nya telah sembuh, totalitas menggantungkan Sempak Pink-nya Ipan Black akan ku upayakan dan kukawal agar tidak ia kembali terjun ke Dunia Petualangan Cinta yang liar. Tapi untuk itu, aku butuh kerjasama Rita Betis Beton, istrinya Ipan Black, untuk mewujudkannya. Tekadku.

---

Timba demi timba air sumur kucurahkan ke tubuh, saat mandi untuk penuhi kebutuhan membersihkan diri sore itu. Meskipun hari sudah tak lagi kuat pancarkan sinar matahari, tapi tak surut diri ini dari menantang dinginnya air sumur dibelakang rumahku. Kusabuni dan shampo tubuh yang merupakan titipan Ilahi padaku. Agar bersih dari kotoran. Menjaga kebersihan adalah tuntutan iman. Begitu setidaknya yang dikatakan Ustad jika ceramah di Masjidku.

Syukur, aku masih punya kesadaran untuk menjaga kebersihan diri. Termasuk menjaga jasad yang kasar tempat ruh bersemayam hanya amanah titipan ini, dari penyakit. Penyakit yang datang dari sesuatu yang terlihat enak, sedap dilakukan, moderen, dan identik dengan image bersih tapi ternyata tidak! Seperti Ipan Black yang begitu 'beruntung' telah banyak torehkan pengalaman sejarah dalam Dunia Percintaan yang liar dengan Sempak Pink-nya.

Tak ada yang lebih pantas dari Gantung Sempak Pink secara total, sebagaimana dulu Ipan Black pernah begitu totalitasnya menjalani hidup dengan Sempak Pink-nya, untuk benar-benar bertaubat. Siapq yang tidak salah atau khilaf? Tapi sebaik-baiknya orang yang bersalah atau khilaf itu adalah orang yang mau total bertaubat. Begitu.

Wassalam.

Jumat, 27 Mei 2016

KUTANG BASAH MAK TIMAH

Bang Udin Sengal sedari tadi menatapku dengan penuh curiga. Tak kuhiraukan. Aku sadari bahwa pandanganku kearah jemuran tetangga, tempat dimana kedai kopi yang sedang aku dan bang Udin Sengal tongkrongi, telah membuatnya curiga padaku. Bagaimana tidak, aku memang tak lepas-lepas dengan menatap ke benda satu-satunya yang tergelantung di kawat jemuran itu sedari tadi, bh alias kutang. Sejak kami masuk dan duduk di kedai kopi bang Jamel.

"Mau kau curi bh basah yang kau pandangi tu?" Akhirnya bang Udin Sengal pecahkan benaknya dengan pertanyaan itu padaku.

"Aku ada ide, bang!" Jawabanku tak menjawab pertanyaannya, bersemangat.

Diaduknya Kopi Susu dalam gelas pesanannya tadi dengan sendok teh, raut wajahnya tak tunjukkan rasa gembira meskipun kukatakan, menurutku, sebuah kabar gembira. Datar saja.

"Aku, tak usahlah kau ajak kalau cuma untuk mencuri jemuran." Ia lantaskan padaku.

Sepertinya bang Udin Sengal yang sedang kesal karena tak bisa lagi menyewa becak milik pakcik Burhan Polit, tak tertarik dengan segala macam tawaran alih 'profesi' baru dariku. Pakcik Burhan Polit, juragan becak motor, memutuskan hubungan kerja secara sepihak dengan bang Udin Sengal gara-gara setorannya sering terlambat. Tak menyerah, ku utarakan ideku. "Gini bang, bagaimana kalau kita dagang bh!? Ke pajak-pajak (pasar) pekan, bang."

"Ah ... ada-ada saja kau!"

"Inilah abang ... dengarlah dulu ceritaku!" Aku bersikeras.

Dipalingkannya arah duduknya dariku. Seakan tak mau perduli. Tapi aku kenal bang Udin Sengal, meskipun kesal dan hatinya mendongkol tapi kupingnya tak lepas dari kegiatan menguping akan ocehan-ocehanku. Tak mau menyerah meskipun ia tak perduli, jadi kenapa tidak kuteruskan saja utarakan 'proposal' ku padanya, pikirku.

"Bang, memang nampaknya sepele. Tapi cubaklah abang pikir ... berapa banyak kalilah pemain bh di pajak (pasar) pekan-pekan tu, bang? Langka, bang!" Kuyakinkan ia.

Diliriknya aku sekelibat. Matanya melotot, keningnya masih mengernyit. Seperti menganggap aku sedang membual. Bh? Lucu dan aneh memang. Tapi melihat peluang dan permintaan besar, sedangkan 'pemain' tadi yang hanya sedikit jumlahnya, pasti menguntungkan! Berdasarkan telaahan analisa Ilmu Ekonomi Pasar-ku yang pas-pasan. Hukum Supply and Demand.

"Cemana maksudmu?" Tampaknya ia mulai berikan aku peluang, setidaknya pertanyaannya dengan nada seperti itu.

"Yah, bang ... lihatlah bh basah Mak Timah di jemuran tu! Entah macam mana bentuknya. Kita usahakan bisa penuhi kebutuhan bh, atau sempak dengan harga murah. Bang, sekmen orang-orang yang tak mau buang-buang uang bayar kutang atau sempak mahal besar, bang. Ini prospek, bang. Kalau kita bisa menjual bh dengan harga dibawah pemain bh lain, pasti kita untung!"

Bang Udin Sengal melirik ke arah jemuran, yang dimana bh milik Mak Timah pagi itu menggantung terjemur. Tangannya masih memain-mainkan sendok teh, mengaduk-aduk Kopi Susu-nya yang sudah teraduk rata. Air cucian masih menetes diantara renda-renda yang telah rusak dan karet tali kutangnya Mak Timah yang tak punya daya elastisitasnya lagi. Awalnya, bang Udin Sengal hanya melirik tapi akhirnya ia terang-terangan ikut melototi bh alias kutang basah di jemuran itu bersamaku. Aku tahu, pikirannya sedang menerawang jauh. Pastinya. Mudah-mudahan kami mulai ke arah pikiran yang sama dengan memandangi bh Mak Timah yang meskipun telah bersih, tapi masih terlihat jorok karena umur dan kondisinya yang tua. Sama tampilannya dengan separuh baya umur Mak Timah.

"Sudah kau pelajari cara main bh tu, Kulok?" Bang Udin Sengal mendalami ideku.

"Bah! Tiga hari ini ... utakku tak jauh-jauh dari memikirkan bh, bang. Semalam, waktu aku keliling pasar mengayuh sepeda tu ... cari-cari grosir bh lah aku. Survei aku, bang." Aku berupaya meyakinkannya.

Untuk sementara ini, tak ada yang lebih hebat dari usahaku untuk mampu meyakinkan bang Udin Sengal. Ini sangat urgent, agar kedepan ia mantap dengan bisnis bh atau kutang ini. Jika sudah penuh keyakinannya, maka aku tak perlu lagi bersusah payah memikirkan hal-hal lain. Karena biasanya bang Udin Sengal lebih punya solusi dan kiat jika ia sudah punya tekad menjalankan suatu profesi. Ia cukup kreatif, apalagi mungkin terkait dengan bh alias kutang.

"Dapat?" Tanyanya penasaran.

"Bang Udin tak usah khawatir. Dah ditanganku semua tempat grosir jual bh termurah se-Nusantara. Kalau ada modal kita ... tak usah ragu. Semuanya sudah diakalku, bang. Yakinlah cakapku. Dalam tempo dua bulan ini saja, kalau rajin kita ke pajak-pajak pekan jajakan bh kita, jadi juragan bh lah kita." Aku meyakinkan.

Kali ini bang Udin Sengal kulihat tak lagi tunjukkan raut wajah kesal, dengan pengajuan ide dagang bh alias kutangku. Ia justru tunjukkan wajah nafsu, nafsu ingin cepat-cepat realisasikan cita-cita kami berdagang kutang. Begitu dirinya jika sudah merasa dapatkan masukan, hasratnya terlihat seperti menggebu-gebu. Apalagi kali ini ideku tentang tak jauh-jauh soal bagaimana dapatkan penghasilan demi memenuhi kebutuhan. Terlihat dari bagaimana caranya menghisap asap rokoknya dan tatapan tajamnya ke bh basah Mak Timah di tali jemuran. Aku senang!

"Jamel!" Bang Udin Sengal tiba-tiba memanggil pemilik kedai kopi.

"Apa, boss?! Tambah kopinya?" Tanya bang Jamel melayani kami.

"Tak usah! Kau hitung berapa semua."

Kumat kamit bang Jamel menghitung minuman dan makanan yang kami santap pagi itu, sambil menunjuk ke sana sini, ke arah sajian piring dihadapan kami. Lantas ditagihnya, "Lima belas ribu, boss!"

"Ok! Catat ke bon aku dulu. Kemon, Kulok. Kita sambung cerita kita di rumah. Tak konsentrasi aku kalau cerita bisnis disini." Sambil bangkit dari tempat duduk, bang Udin Sengal mengajakku keluar dari kedai kopi.

---

Sepanjang jalan pulang menuju rumah bang Udin Sengal, kami tak lepas-lepas berbalas pantun dengan ide-ide jualan bh nanti. Kalau dihitung-hitung, mungkin ada seribu kali lebih hanya menyebut kata bh atau kutang selama dalam perjalanan yang memakan waktu tujuh menit ke rumah bang Udin Sengal, yang jaraknya tak lebih dari dua ratus meter dari kedai kopi bang Jamel. Bang Udin bak eksekutif muda yang memprospek aku, ia seakan-akan lebih mengerti menjelaskan padaku bagaimana nanti berstrategi memasarkan dagangan bh alias kutang rencana kami. Aku lebih banyak mengangguk dan berkata; iya dan setuju!

Aku belum tahu apakah ide berjualan bh itu akan terealisasi, dalam waktu dekat. Mengingat bang Udin Sengal pun sepertinya masih belum yakin mendapatkan modal darimana. Meskipun, akhirnya api semangatnya bang Udin Sengal lebih berkobar dari semangatku. Tapi paling tidak, pagi itu kami, aku dan bang Udin Sengal adalah dua laki-laki dewasa pengangguran yang penuh percaya diri dan optimistis, dimusababkan karena bh alias kutang. Mungkin dari sekian juta laki-laki dewasa lain yang juga tercatat atau tidak, oleh pemerintah, sebagai pengangguran.

Kami dua laki-laki nganggur yang berhasil keluar dari pesimistis dan tak berekspektasi melangit menanti uluran tangan pemerintah, serta kinerjanya dalam memberantas pengangguran. Dengan hanya memandang bh alias kutang basah Mak Timah di jemuran, pagi itu. Apa yang terjadi esok? Biarlah itu tangangan untuk besok. Wassalam.

Kamis, 26 Mei 2016

MISTERI BULU KETIAK PIRANG

Sulit melepaskan kebudayaan bergunjing dalam sebuah masyarakat, menurutku. Apalagi dalam budaya di masyarakat itu ada kebiasaan atau tradisi kumpul-kumpul, seperti Kenduri misalnya. Meskipun antara tabiat bergunjing dengan tradisi Kenduri itu dua hal yang berbeda, tapi tak terdikotomikan, ia terkontaminasi sehingga menjadi identik. Kumpul-kumpul, artinya bergunjing. Biasanya, Bagian Dapur paling vulgar soal bagaimana bertutur tentang gunjing mengunjing. Bayangkan, terkadang saudara atau famili yang di Arab Saudi sedang ngupil saja bisa jadi konsumsi gunjingan saat prosesi makan-makan Kenduri. Meskipun tak tertutup kemungkinan mengunjing, alias gosip dalam bahasa kerennya itu, juga terjadi di beranda tempat prosesi kenduri atau apalah-apalah itu. Hanya beda cara menyampaikan saja dalam bahasanya.

Nah! Dari situlah, dari tradisi kumpul-kumpul makan Kenduri, mengapa gosip isu rumah tangga bang Ujang Semekot dengan kak Menik Sapu Lidi yang sedang tak harmonis itu merebak ke seluruh penjuru kampung. Sengaja atau tidak, dalam kegiatannya, kondisi rumah tangga bang Ujang dan kak Menik dibahas tanpa solusi. Bagi yang punya unsur tidak suka, ini menjadi Lubang Cacing, sekecil apapun itu merupakan Pintu Masuk untuk mencemooh. Belum aku terima klarifikasinya secara langsung dari bang Ujang Semekot, patner kentalku kala mancing di muara itu, tapi yang sampai ke telingaku yang menjadi penyebab retaknya rumah tangga bang Ujang itu karena temuan benda mencurigakan dan mengejutkan oleh kak Menik, di saku celana bang Ujang. Bulu ketiak! Ya, bulu ketiak berwarna pirang.

"Yakin kau, Mbek?!" Tanyaku tak percaya sembari mengaduk Gulai Daun Ubi Tumbuk dalam belanga besar untuk keperluan kenduri.

"Sumpah, bang! Tak percaya abang, pergilah kedepan menguping." Yakin dan mantap sekali si Jambek tegaskan padaku.

"Kalau bual kau, cam mana?" Tantangku.

"Bang Kulok ambeklah sempak warna kuning yang baru kubelik di pajak semalam tu! Ikhlas aku." Ia berani bertaruh.

Si Jambek memang terkenal suka membual, sudah jadi Rahasia Umum, sekampungku juga tahu akan hal itu. Tapi jika ia berani bersumpah dan mempertaruhkan benda kesayangannya, misalnya sempak yang baru dibelinya, apalagi model terbaru, sulit untuk aku menampiknya. Lagipun sejelek-jeleknya kelakuan pembual Si Jambek tapi ia bukan tipe pemuda kriminal pemula yang suka Obral Sumpah. Ia tak pernah terbukti berkata dusta jika sudah bersumpah.

Ok lah! Untuk sementara waktu, selama aku masih terikat dengan Ikatan Kerja Sementara mengaduk Gulai Daun Ubi Tumbuk milik Kenduri Orang Kaya Haji Amer Jungkat Jungket ini, kuterima dulu informasi dari Si Jambek itu sebagai masukan, pikirku. Nanti setelah Job Borongan ini selesai, aku bisa investigasi turun langsung ke lapangan. Selidiki apa yang sedang terjadi. Walau bagaimanapun, kabar gosip retaknya rumah tangga bang Ujang dan kak Menik karena Bulu Ketiak Pirang itu jangan sampai tersebar lebih jauh lagi. Aku merasa punya tanggung jawab, panggilan moril, untuk mencegah agar tidak terjadi gunjingan lebih luas lagi.

---

Sekitar beberapa menit saja setelah selesai Maghrib, kutunaikan hajat hatiku untuk menemui bang Ujang Semekot. Seperti niatku siang tadi yang tak kesampaian karena sibuknya aku seharian, mengurus Gulai Daun Ubi Tumbuk milik Kenduri Orang Kaya Haji Amer Jungkat Jungket alias Haji Ajujung, baru malam ini bisa menemui bang Ujang langsung, empat mata. Minta klarifikasi akan kebenaran gosip keretakan rumah tangganya yang ratingnya lumayan tinggi, dibahas dalam Kenduri Haji Ajujung secara informal, menjadi bagian dalam Tradisi Kenduri.

Kulihat bang Ujang sedang duduk di teras rumahnya, menengadah dagu. Meskipun bola lampu di teras rumahnya tidak menyala karena putus, tapi kulihat seraut wajahnya kusut masai. Ini menjelaskan padaku, bahwa yang dikatakan Si Jambek tadi siang padaku adalah benar! Setidaknya prediksi sementara. "Assalamualaikom, bang Ujang!"

"Lekom salam," Jawabnya lesu.

"Yah. Lesu kali, bang? Belum ganti sempak rupanya?" Tanyaku, basa basi, mukadimah diskusi kami malam itu.

"Sempakku yang warna merah dipinjam Superman, Kulok." Ia rubah posisi duduknya, seakan-akan ingin tunjukkan bahwa ia tak punya masalah.

"Mantaplah kalau gitu, bang. Batman dengan Hulk udah kemari?" Tanyaku lagi asal-asalan.

"Tapi pergi panen Ikan Buntal orang tu ke laut." Tak kalah asalnya bang Ujang menjawab pertanyaanku.

Begitu terus, hingga beberapa menit percakapan kami. Itu tradisi kami, aku dan my best friend, bang Ujang. Rasanya ada yang kurang, kalau tidak memulai percakapan atau bersapa diawali dengan pertanyaan asal-asalan diantara kami. Seperti Orang Kristen yang pesta tanpa tebas leher atau menyucuk pantat babi atau anjing. Tak lengkap! Tapi tak ingin berpanjang-panjang, segera kulontarkan pertanyaan interogasi ke bang Ujang soal gosip Bulu Ketiak Pirang itu padanya.

"Gini, bang! Awak kemari ni ... bukan asal-asal main saja. Ada yang nak awak tanyak sama bang Ujang ni." Aku mulai masuk ke babak wawancara klarifikasi ke bang Ujang.

"Tak usah becakap kau, Kulok. Taunya aku apa yang nak kau tanyakan sama aku ni. Soal rumah tanggaku, kan?" Bang Ujang tak pakai basa-basi lagi, menebak hajatku.

"Eh! Kok tau abang?" Akupun terkejut, tapi syukurlah jika ia sudah duluan tahu.
Setidaknya, tak perlu aku memutar atau membelit kemana-kemana point pertanyaanku nanti untuk menjaga hatinya, agar tak tersinggung.

"Yah taulah aku. Tak jadi rahasia lagi, Kulok. Dah jadi bahan gosip sekampung cerita kami ni dah," jawabnya.

"Itulah, bang. Cemana rupanya ceritanya? Karena kalau info yang awak dapat ... katanya kak Menik jumpa Bulu Ketiak Pirang dalam kantong celana abang. Betulnya itu?" Tanyaku penasaran.

Sejenak ia terdiam. Wajahnya tanpa ekspresi sama sekali, dingin. Cepat sekali berubahnya sejak aku datang diawal tadi. Tatapan matanya pun sempat kosong beberapa saat. Sepertinya kali ini bang Ujang Semekot, rekan sejawatku memancing itu, mengalami masalah dengan tingkat trauma pikiran berat. Aku harus mampu meringankan sedikit bebannya. Tidak banyak sedikit pun jadi, pikirku. Begitukan yang dimaksud dengan solidaritas dan kesetia-kawanan?

"Jadi ... sudah tersebarlah kemana-mana tentang Bulu Ketiak Pirang tu, Kulok?" Pertanyaan bang Ujang kali ini dengan suara parau, berat.

"Itulah, bang. Entah hapa-hapa udah cerita Orang Kampong kita ni. Cemana ceritanya, bang?" Tanyaku lagi.

"Entahlah, Kulok. Biniku tu, terlalu posesif. Makan hati jugak aku dibuatnya. Kau tau, Kulok? Nanti kalau cari bini kau ... yang biasa-biasa sajalah. Tak usah cantik-cantik kali macam kakak kau itu. Susah aku dibuatnya," Keluh bang Ujang.

Kak Menik memang pernah masuk dalam daftar gadis terpopuler di kampungku, pada masanya. Rupanya yang cantik mirip artis Ely Sugigi itulah yang dulu menawan hati bang Ujang Semekot. Bukan tak pernah kuperingatkan bang Ujang waktu itu, untuk tak usah berupaya mengejar cinta dan menawan hati kak Menik. Tak sepadan, menurutku. Tapi akibat tak mau mendengarkan nasehatku, akhirnya pernikahan mereka berlangsung.

"Kan aku dah becakap dulu, bang!" Sanggahku.

"Itulah ... " Putus hingga disitu saja perkataannya kali ini.

"Jadi, apa penyebabnya?"

"Kalau kau dengar gunjingan orang-orang kampong tentang Bulu Ketiak Pirang tu. Betol lah adanya," Katanya membenarkan.

"Alahmak ... betolnya tu, bang?! Sama siapa rupanya bang Ujang selingkuh?!" Aku terkaget-kaget.

"Aku tak pernah selingkuh, Kulok! Tak pernah,"

Aku yakin seratus persen jika bang Ujang tak pernah selingkuh, meskipun tak terlalu yakin. Yakin, tapi tidak yakin? Bingungkan? maksudnya begini; keyakinanku itu berdasar sebab bang Ujang selama bergaul denganku, tak pernah punya reputasi 'gatal' atau pernah tunjukkan prilaku menyeleweng. Tapi yang buat aku kurang yakin ialah, pertanyaan tentang benda misterius Bulu Ketiak Pirang itu. Milik siapa? Aku semakin bingung.

"Kau tau, Kulok? Sebenarnya, Bulu Ketiak Pirang yang jumpa biniku itu ... bukan bulu ketiak siapa-siapa. Itu bulu ketiakku sendiri." Bang Ujang tegaskan padaku.

"Bulu ketiak bang Ujang Sendiri? Untuk apa abang nyimpan bulu ketiak sendiri, setelah dicabut? Dah gitu ... ngapain pulak bang Ujang mempirangkan bulu ketiak? Aihmak! Misterius kali abang ni ah," Bertubi-tubi pertanyaan kuhujamkan padanya.

"Itulah, Kulok. Sebenarnya begini ceritanya. Jadi, tau kau Si Noni Bencong kan?"

"Noni Bencong mana?" Belum usai penjelasannya bang Ujang, sudah kupotong lagi dengan pertanyaan, tentang sosok Bencong Noni.

"Halah ... Si Nonok!"

"Oooo ... pakcik Nonok! Bencong tua tu, bang." Aku mengingatnya.

"Iya ... dialah. Jadi waktu itu aku sedang makan rujak di simpang. Jumpalah aku sama Si Noni Bencong itu. Ditawarkannya aku jualan produk kecantikan. Termasuk cat rambut." Cerita bang Ujang panjang lebar.

"Kenapa bang Ujang cat bulu ketiak abang? Kenapa tidak ke rambut ... atau bulu kuduk? Ah, bang Ujang ni pun aneh-aneh saja!" Cetusku.

"Gini, Lok. Kalau ku cat ke rambut ... makin gilak curiga kakak kau tu nanti. Taulah kau, macam kubilang tadi ... posesif kali dia sama aku. Jadi, biar tak nampaknya aku seperti mau bergaya, kucat lah ke bulu ketiakku. Paham kau kan?" Bang Ujang ngotot kali ini paksakan aku agar paham.

"Terus?"

"Sudah kutolak. Tapi dia maksa. Dikasinya aku dua bungkus cat rambut. Katanya untuk kutes, sama sampel. Jadi, waktu itu penasaran aku. Kutes lah ke bulu ketiakku. Ternyata manjur, Lok! Mantap kali memang cat bulu ... eh, maksud aku cat rambutnya itu." Sambung bang Ujang.

"Jadi, gara-gara itulah mangkanya ada Bulu Ketiak Pirang tu? Tapi ... kenapa pulak bang Ujang simpan bulu ketiak abang tu?" Aku sempat tertegun kagum, lalu bertanya lagi ingin tahu.

"Itulah, jadi waktu kutengok mantap warna bulu ketiakku itu, rencanya mau kutunjukkan sama Si Ponah, gadis yang jualan Mi Pecal di simpang tu. Mau kutawarkan sama dia. Karena pernah kulihat dia aplod foto ketiaknya di Instagram, dicatnya bulu ketiaknya warna kuning sebelah. Sebelah lagi warna ungu. Cubak-cubaklah aku tawarkan sama dia. Biar lebih yakin dia rencananya mau kutunjukkan berapa lembar Bulu Ketiak Pirangku. Sampel. Mana tau ... bisa bisnis aku dari situ, hehe ..." Bang Ujang jawab pertanyaanku dengan lugas.

"Ooooooh gitu." Aku mengerti sekarang.

---

Menjelang menjemput larut malam, alam pikirku masih terbawa kedalam masalah Bulu Ketiak Pirang milik bang Ujang. Meskipun berpikir keras tapi aku tak temukan alasan untuk menyalahkan dirinya dalam Skandal Bulu Ketiak Pirang itu. Aku tak punya dalih untuk memberikan label bahwa bang Ujang layak dikatakan sebagai Sentral Masalah dalam hal ini. Dan mengenai bagaimana bergunjingnya masyarakat di kampungku tentang penyebab retaknya rumah tangga bang Ujang Semekot dengan kak Menik Sapu Lidi, sungguh tidak sesuai dengan realitas yang ada. Bahwa bang Ujang selingkuh, itu tidak benar sebagaimana yang dihembuskan selama ini! Itulah akibat bergunjing tanpa ingin minta klarifikasi. Akhirnya menjadi fitnah.

Untung, aku bersyukur tak ingin masuk dalam kegiatan gunjing menggunjing tersebut. Aku tak suka berasumsi tanpa dasar. Sebab itu adalah hal yang salah. Daripada tersesat, lebih baik minta klarifikasi langsung ke Si Pelaku atau yang sedang bermasalah. Jika tak punya keterangan sama sekali, lebih baik memposisikan diri pada posisi netral. Terkadang, Sangsi Sosial itu lebih sadis daripada Sangsi Hukum dan Politik sekalipun. Selalu terjadi penghakiman Main Hakim Sendiri, apakah itu sifatnya kekerasan verbal, gosip, fitnah bahkan terkadang sampai pada tingkat membully. Tapi tanpa mau melihat masalah itu dengan fakta dan dasar! Kejam.

Dalam perasaan ikut sedih dan gundah atas apa yang menimpa bang Ujang, tak sanggup tahankan kantuk, aku akhirnya menjemput Dunia Mimpi. Malam adalah Ratu Hari, yang dimana manusia hidup dalam kehampaan peraduannya. Terbuai dalam gelap dan dingin. Kepasrahan, menyerahkan diri pada Sang Pencipta menjadi keharusan disaat-saat Ruh sejenak terpisah dari jasad yang kasar ini. Selamat malam duniaku.

--- sekian ---