Ada yang berbeda memang dari diri Ipan Playboy 'Cap Orong-Orong' Black kali ini. Setelah sejak dua pekan kami tak bertemu. Kulihat wajahnya sedikit berseri-seri, meskipun agak pucat. Aku tak tahu apakah ia sedang sakit tapi yang jelas ada kebiasaan baru yang sering dilakukannya seperti rutin. Tak pernah kulihat ia berprilaku demikian sebelumnya, hanya sejak kami jumpa kali ini saja.
Ia dalam setiap selang beberapa menit sekali, berkala dan rutin, selalu mengulang-ulang tabiat seperti menahan rasa sakit. Seperti mengidap Eccedentesiast. Sebagian bibir sebelah kanannya naik keatas diikuti dengan kontraksi pipi dan kerlipan mata. Hampir tidak kelihatan jika tidak seksama. Tapi sebagai sejawat setongkrongan di kedai kopi bang Jamel, bagiku itu terlihat jelas. Atau apa hanya kebiasaan barunya? Aku namakan begitu saja; Kebiasaan Baru Ipan.
"Kemana saja kau, Pan?" Tanyaku menyapanya, pundaknya kutepuk lembut beberapa kali.
"Hei, Kulok! Biasalah ... bertapa sekejap." Katanya sambil tersenyum, kebiasaan barunya tadipun terlihat saat dihujung kalimatnya.
"Ah, bertapa saja kau." Kataku sambil duduk disampingnya.
Ipan 'Playboy Cap Orong-Orong' Black, tak banyak yang mengetahui sepak terjangnya sebagai Playboy Kampong, di kampung kami. Selain 'korban'nya, tak ada yang menyangka ia seorang Petualang Cinta. Gerakannya dalam senyap. Kata 'Playboy Cap Orong-Orong' gelar yang aku berikan padanya. Orang kampung kami lebih mengenalnya dengan Ipan Black. Black, ia dapat karena dulu, dimasa remajanya, ia pemilik sepeda motor Honda Astrea Prima berwarna hitam atau black; dalam Bahasa Inggris, satu-satunya di kampung kami. Tabiat Playboy harus didukung dengan kepemilikan sepeda motor, aset syarat wajib waktu itu. Entah sekarang? Sedikit dari sekian banyak profil Ipan 'Playboy Cap Orong-Orong' Black.
"Minum apa kau?" Ia tawarkan padaku.
"Kopi Susu lah. Bang Jamel, Kopi Susu satu!" Pesanku.
"Cemana, boy? Cerah warna sempakmu hari ini?" Ia bertanya kabarku.
"Ginilah, fren. Macam kaset, dari side A ke side B. Namanya jugak pengangguran eksklusif." Jawabku jujur agak malu-malu, tapi itulah kenyataannya.
"Bauklah?" Katanya.
"Sempakmu cam mana? Masih Pink?" Tak kujawab pertanyaannya, antusias aku bertanya balik kabarnya.
Ini serius! Ipan 'Playboy Cap Orong-Orong' Black penggemar berat sempak berwarna pink. Ia lebih baik memilih tak pakai sempak daripada harus pakai sempak tapi tak berwarna pink. Menurutnya ada arti dan nilai filosofi yang terkandung dari Sempak Pink. Sempak Pink artinya perlambang lelaki pencinta sejati. Sesuai keahliannya, Petualang Cinta. Apalagi kalau ada tambahan motif bunga renda-rendanya di sepotong sempak pink, berapapun ia bayar untuk menambah koleksinya. Jika aku terlihat antusias, itu karena Ipan Black selalu menarik historisnya. Maklum, Tokoh Sentral dijaman masa remaja kami. Aku masih tak bisa lepaskan euphoria indahnya masa remaja.
Gadis yang tak perawan mana di kampung kami yang tak kenal nama besar seorang Ipan Black? Tak ada! Ipan Black, dulu, adalah pemuda idola banyak wanita. Tampan, anak Orang Kaya, petualang, dan sebagainya yang menjadi idaman gadis-gadis itu. Apalagi tambahan bakat alami merayu dengan kelihaiannya bermusik. Kombinasi suara serak-serak batuk berdahak dan gitar, lengkaplah sudah. Lagu-lagu cinta dari Iwan Fals senjata pamungkasnya jika sedang merayu. Bikin klepek-klepek, istilah sekarang.
"Ah, masa lalu itu. Aku sudah gantungkan sempak, boy."
"A ... apa? Apa? Tak salah dengar aku, Pan? Gantungkan sempak kau bilang?!" Aku tak percaya, pelan tapi ucapanya tadi sungguh menyentakkan aku.
"Ssssst! Jangan keras-keras," Katanya sambil melirik kiri dan kanan, khawatir kalau lingkungan kami mendengar ucapanku yang agak keras.
Bagaimana mungkin? Tak mungkin rasanya orang yang begitu memuja Pornoisme dan Love Is Blindeisme yang panatik, bahkan Guru Spiritual Alam Cinta, bisa menggantungkan Sempak Pink-nya? Tak mungkin! Aku pasti salah dengar, pikirku.
Ipan Black, identik dengan Bad Boy, Dirtyman, Magister Lovers, kuanggap Doktor dari Universitas Dunia Percintaan. Mungkin, dialah satu-satunya lelaki di kampung kami yang telah mendedikasikan diri secara total, hampir seluruh umur hidupnya hanya untuk berpetualang di Dunia Cinta. Tidak dengan otodidak, atau learning by doing saja tapi Ipan Black juga pakar teoritis. Mengkoleksi banyak buku-buku referensi tentang bagaimana, apa, dan filsafat-filsafat cinta. Koleksi bundelan Enny Arrow, majalah Playboy, kaset video dan L/CD hingga DVD Porno, puluhan unit flashdisk dan memori eksternal berisi foto atau video film biru, bahkan poster-poster cewek barat pirang model setengah bugil hingga bulan kemarin masih kulihat terpajang di dinding ruang tamunya.
Buku-buku tulisan Giacomo Cassanova, bak Kitab Suci baginya. Sebut saja 'Memoirs of Jacques Casanova de Seingalt', bagaimana apiknya Sang Pecinta Sejati itu mengakui petualangannya. Ia hapal luar kepala buku setebal itu dengan detilnya. Ipan Black pernah hampir pingsan karena kekagumannya, saat meriwayatkan ulang padaku. Setiap kali berdalil, maka ia mengutip potong demi potong ucapan dan pengakuan Sang Maestro Alam Cinta, Cassanova. Sungguh aku tak percaya kalau seorang penganut panatik Cassanova itu sampai gantungkan Sempak Pink-nya!
"Kau tak salah dengar, Kulok. Ini aku, Ipan Black. Barusan dakulah yang mengatakan bahwa telah menggantungkan Sempak Pink-ku." Ia ulangi lagi pengakuannya, ngotot sambil setengah berbisik ke telingaku.
"Oooo emmmm ji! Kau dipaksa, Pan? Siapa yang memaksamu? Apakah Rita Betis Beton binimu itu yang memaksa?" Aku menebak, setengah kecewa.
"Tidak, Pren! Seperti dirimu yang juga mendukungku jalani cita-cita dan ambisiku menjadi Cassanova Wannabe, biniku pun terkejut kalau aku mau Gantung Sempak Pink. Kugantungkan Sempak Pink-ku karena kesadaranku sendiri," Ia terlihat jujur dengan kata-katanya, Kebiasaan Baru Ipan menyertai.
Aku wajar saja jika menduga ada yang memaksa atau meminta dengan kekerasan, seperti diintimidasi atau teror, untuk ia pensiunkan diri dari petualangannya di Dunia Cinta. Dan tuduhanku pada Rita, istri semata wayangnya itu, tak berlebihan. Sebab sepanjang pernikahan mereka, tak ada yang merupakan teror atau mampu mengintimidasi seorang Playboy Kampong Ulung seperti Ipan Black, tak seorangpun termasuk ayah dan ibunya kecuali Rita Betis Beton! Istrinya sendiri.
Rita Betis Beton, wanita berprilaku tomboy dengan keahlian bela diri Taekwondo, ban hitam Dan III terlatih, dua kali juara umum se-Kecamatan, yang dinikahinya empat tahun yang lalu. Pertemuan Rita dengan Ipan terbilang unik. Takdir perjodohan mereka dimulai ketika Ipan Black iseng-iseng berniat banting setir menjadi copet amatiran di Pasar Pekan dekat kampung kami. Unik bukan? Seperti kukatakan diawal, tak ada yang tidak unik dari seorang Ipan Black untuk diikuti perihal historis jalan hidupnya.
Ipan Black yang selain Playboy Kampong, juga pembalap liar di jalan-jalan belum jadi, jalan setapak kebun karet milik warga misalnya, di kampung kami dengan Honda Astrea Prima-nya tentunya. Ia hampir kehilangan nyawa, dihajar Rita Betis Beton yang waktu itu menjalani profesi sebagai HanWan alias Hansip Wanita di desa kampung kami. Sial, Ipan Black tertangkap massa ketika nyopet. Dan dibawa ke Pos Hansip. Nah! Disanalah hubungan asmara antara Ipan Black dan Rita Betis Beton berawal. Pandangan pertama, yang membuat Ipan Black langsung jatuh cinta pada dirinya, merasuk ke hati yang paling dalam ketika Jurus Tendangan Tanpa Bayangan milik Rita berkali-kali menghujam perut Ipan.
Ternyata perasaan jatuh cinta pada pandangan pertama Ipan Black itu ke Rita Betis Beton, bak gayung bersambut. Tinju ke lima belas yang dilancarkan Rita ke kening Ipan Black saat mengintrogasinya di Pos Hansip, pengakuan Rita, adalah dimana awal ia juga merasakan firasat bahwa Ipan lah lelaki yang bakal menemaninya duduk di pelaminan nanti, dan terwujud. Semua kudapat cerita itu dari penuturan mereka berdua sendiri ketika curhat padaku. Baik Ipan Black ataupun Rita, sebagai sahabat mereka.
"Ah ... serasa tak percaya aku, boy! Jadi, apa yang membuatmu tobat? Eh, maksudku ... Gantungkan Sempak Pink? Apa sudah kau pikirkan baik-baiknya, Pren?" Aku masih dengan perasaan kecewa karena ia memutuskan untuk menggantungkan Sempak Pink-nya.
"Ini sudah final. Keputusanku, tak bisa diganggu gugat lagi. Aku terpanggil sendiri dari hati nuraniku yang paling dalam, boy. Aku tau kau pasti kecewa karena kau adalah pengagum beratku sekaligus saksi hidup akan betapa hebatnya sepak terjangku dalam Dunia Percintaan." Katanya begitu mantap, tak biasanya aku melihat mimiknya demikian.
"Tapi, boy ... segala sesuatu itu harus ada akhirnya. Dan tak harus sama ending-nya. Cassanova terlalu suci untuk kuikuti jejak Petualangan Cinta-nya hingga akhir hayat. Siapalah aku? Apalah aku?" Sambung Ipan Black lagi, puitis tapi realistis menurutku.
Aku tertegun. Ipan Black memang ahli soal berargument. Bukan dia jika tak mampu membuatku speechless karena kagum. Tapi saat kulihat usai dengan kata-kata itu, Ipan Black seakan berkabut bola matanya. Spontan, aku menahan sedih, ingin menangis. Ini bagaikan sebuah perpisahan, yang kurasakan. Aku tak akan pernah mendengar curhat atau sekedar cerita pengalamannya dalam mengarungi Dunia Petualangan Cinta lagi! Rutinitas di kedai kopi yang bakal hilang dalam hari-hariku. Mengharukan karena aku sudah terbiasa dengan itu, pikirku.
---
Sekitar lima belas menit pertemuan kami, aku dan Ipan Black, di kedai kopi bang Jamel. Karena satu dan lain hal, Ipan Black terpaksa akhiri kebiasaan kami ngobrol, ngupil, dan nongkrong berlama-lama bahkan terkadang numpang mandi di kedai kopi. Dari menguping kutipan dan menyimak transkrip lisan, percakapannya di smartphone dengan istrinya, bisa kusimpulkan bahwa ia diminta agar segera pergi ke pasar untuk membeli susu anaknya yang paling kecil. Aku tak berdaya menahannya untuk tetap tinggal, ngobrol lebih lama lagi di kedai kopi bang Jamel, jika sudah demikian. Istrinya, Rita Betis Beton, otoritarian yang tak punya prinsip toleransi jika terkait kebutuhan rumah tangga. Harus!
Aku ingat dulu, pernah Ipan Black kulihat dengan kondisi dua matanya membiru. Akibat ditinju istrinya, Rita Betis Beton. Sekitar dua tahun yang lalu, paska masa-masa romantisme dan Bulan Madu mereka berakhir, awal ujian rumah tangga mereka bermula. Waktu itu aku sedang asyik menikmati lezatnya Kopi Susu racikan bang Jamel di kedai kopinya, dari kejauhan kulihat Ipan Black sedang berjalan dengan tergontai seperti penumpang yang berjalan diatas dek kapal layar yang sedang mengarungi lautan. Dengan lemahnya tapi kulihat seperti memakai kacamata raven di pagi buta, dari kejauhan. Pagi-pagi buta sudah berjalan-jalan dengan memakai kacamata raven? Pikirku. Setelah dekat, ternyata bukan berkacamata raven tapi dua belah selaput matanya sudah lebam membiru akibat ditinju oleh Rita Betis Beton. Pengakuannya, hanya gara-gara terlambat mengganti popok bayi, anaknya yang nomer dua sewaktu baru lahir!
Melihatnya begitu, aku prihatin kala itu. Kuusulkan padanya mengadukan masalah itu, ke Polisi atau Komnas HAM dan Dinas Peranan Wanita. Sebab menurutku, apa yang dilakukan Rita Betis Beton istrinya itu pada Ipan Black suaminya sudah termasuk bentuk perbuatan Tindak Pidana Kekerasan Rumah Tangga! Kujelaskan panjang lebar tentang pasal-pasal Pidana padanya. Tapi Ipan Black menolak melaporkan Rita isterinya itu ke Polisi. Malu, katanya. Ia takut kalau-kalau berita pemukulan pada dirinya oleh isterinya itu jadi bahan gosip sekampung kami. Ada benarnya, karena bukan lazimnya kalau suami yang babak belur dihajar oleh isteri. Tapi biasanya justru sebaliknya.
"Kemana kau, Kulok?!" Pakcik Semad, Mantri Puskesmas, yang juga masih tetanggaku menyapa.
"Ke gubok Wak Ongeh awak, pakcik! Mau kemana, pakcik?!" Tanyaku balik.
"Mau pulang. Ngapain pulak kau ke gubok Wak Ongeh tu?" Tanya pakcik Semad lagi, sambil menghentikan sepeda motor skutiknya disebelah sepeda mix BMX dengan Sepeda Mini-ku yang tergembok di sebatang pohon pisang di halaman samping kedai kopi bang Jamel.
"Ngantok kali aku, pakcik. Sedap ni, tidor siang di gubok Wak Ongeh tu. Banyak kali anginnya." Terangku.
"Ah! Tidor saja diutakmu. Tadak yang lain." Katanya.
"Habis ... ngapain lagi aku, pakcik? Tak mungkin ngitung sempak aku di jemuran orang." Jelasku.
"Cariklah kerja," Pakcik Semad beri saran.
"Kerja banyak, pakcik. Yang gaji tadak! Nanti kusapu halaman Kantor Bupati tu, pikir orang aku orang gilak." Jawabku sambil pelan-pelan mendorong sepedaku keluar dari lokasi kedai kopi bang Jamel.
"Kau mau job?" Ditawarkannya kepadaku.
"Mau! Job apa rupanya, pakcik?"
"Memupuk kebun jagungku tu. Semalam dah kusuruh si Jambek sama si Punggok. Ntah kemana pulak orang tu harini? Tak nampak batang hidungnya." Kata pakcik Semad.
"Si Punggok sama si Jambek pulak pakcik suroh?! Manalah tekerjakan orang tu. Ke muara orang tu mancing pakcik." Jelasku.
"Tak bisa diharap orang tu memang," Pakcik Semad kecewa.
"Tapi, pakcik ... usahlah sekarang, pakcik." Kupujuk ia agar tidak memintaku mengerjakan menabur pupuk di kebun jagungnya hari itu.
"Eh ... jadi kapan lagi?!"
"Besok sajalah. Dah jam sembilan ini, dah siang. Ngantok kali aku. Biarlah harini tidor siang aku dulu. Lagipun ... tanggung kurasa." Kujelaskan alasanku.
"Owalah ... Kulok, Kulok! Jam sembilan pagi dah nak tidor siang kau?! Memanglah kau." Pakcik Semad sedikit kesal padaku.
---
"Tau saja kau lapak tidor siang yang mantap ya, Lok?" Ucap pakcik Semad sambil meletakkan helmnya di sudut gubuk milik Wak Ongeh, tempat biasa aku tidur siang belakangan ini.
"Kulok, pakcik. Lubang semut mana yang tak awak tau di kampong kita ni?" Kataku membanggakan diri sambil merebahkan badan.
"Sering bang Ongeh tu kemari?" Tanya pakcik Semad padaku.
"Siapa? Wak Ongeh? Ada jugak, sebulan kadang-kadang dua kali. Kalau dia pelihara ternak kambeng ni ... iseng-iseng sajanya, pakcik. Hobi dia liat kambeng-kambeng tu berak di kandang. Apalagi kalau sampai Si Buden tu cengap-cengap bersihkannya. Ketawak-tawak beliau tu. Hilang sakit jantungnya katanya. Bukan macam kita, pakcik." Kujelaskan pada pakcik Semad.
"Iyalah ... Orang Kaya lah pulak, pabrik bulu ketiak palsunya di kota tu saja dah berapa bijik. Itu saja dah bikin repot ngurus duitnya. Namanya jugak Bisnisman." Kata pakcik Semad dengan mata yang mulai sayu karena kantuk.
"Apa, pakcik? Superman?"
"Bisnisman! Pokak kau pelihara," Ia kesal.
"Ooooo ... kupikir Batman."
Gubuk Wak Ongeh yang kami huni dijadikan tempat tidur siang itu, sebenarnya bagian dari kandang ternak kambing diatas lahan sebesar 6 Hektar milik Wak Ongeh. Si Buden, orang kepercayaan yang digaji Wak Ongeh untuk menjaga kandang ternak kambing Wak Ongeh yang membangunnya untuk keperluan jaga malam. Tapi karena adem ayem dan Wak Ongeh jarang-jarang inspeksi berkunjung ke kandang kambingnya, maka itu kujadikan tempat itu sebagai rumah ke-duaku untuk menumpang bersembunyi tidur siang.
Embekan kambing dibawah kolong tempat kami merebahkan badan jadi semacam sound effeck bagi kami diatas kandang ternak kambing Wak Ongeh. Ia jadi semacam terapi bunyi yang semakin membuat kami bertambah kantuk. Kulihat pakcik Semad sudah terlayang-layang karena sejuknya angin yang berhembus, masuk dari celah-celah atap daun nipah gubuk itu. Kujahili dia, "Pakcik! Cepat kali tidurnya?"
"Ha! Betol jugak cakap kau, Kulok. Sedap kali tidor siang di gubuk Wak Ongeh ni." Ia tersadar.
"Usah tidor dulu, pakcik. Cerita-cerita dulu kita," Aku bangkit, duduk dan membakar sebatang rokok.
"Cerita apa lagi? Oh iya ... teringatku, ngapa cepat kali kau keluar dari kedai kopi si Jamel tu tadi? Ditagihnya hutangmu?" Pakcik Semad bertanya padaku.
Tak biasanya memang aku pulang atau melakukan kegiatan diluar kedai kopi bang Jamel dibawah jam sepuluh pagi. Biasanya, mendekati waktu makan siang atau paling cepat setelah jam sebelas. Pakcik Semad yang letak Puskesmas tempatnya mengabdikan diri itu tak jauh dari kedai kopi bang Jamel, hapal sekali dengan tabiatku.
"Itulah, pakcik. Tapi tadi jumpa aku dengan Si Ipan." Kataku.
"Ha! Si Ipan Black? Dah lama tak nampak dia tu di kedai kopi. Kenapa rupanya dia?" Pakcik Semad ikut-ikutan bangkit dari berbaringnya.
"Aku agak kecewa denganya, pakcik. Jadi cerita dia, dua minggu tak pernah nampak tu karena menyendiri kaji dirilah dia. Dah gantungkan Sempak Pink, katanya." Ceritaku.
"Aihmak! Insyaf dia? Syukurlah. Kalau tidak sekarang ... kapan lagi?" Kata pakcik Semad padaku.
Diluar dugaan, ternyata penilaian pakcik Semad berbeda denganku tentang berita menggantungkan Sempak Pink-nya Si Ipan Black. Ia malah bersyukur. Kebalikan dari harapanku agar Ipan Black urung Gantung Sempak Pink-nya. Kalau kutelaah lagi, sewajarnya lah. Sebab pakcik Semad punya cara pandang lain atas bakat Ipan Black dalam mengarungi Dunia Percintaan di kampung kami. Pakcik Semad gaul, jadi ia selalu tahu dan mengikuti perkembangan setiap pemuda di kampung kami.
"Aku bukan mau begunjing, Kulok. Tapi ... kurasa ada baiknya lah si Ipan tu taubat. Akhirnya didengarnya jugak nasehatku." Sambung pakcik Semad.
"Yah ... kapan dia minta nasehat pakcik rupanya?" Tanyaku heran, sebab tak mungkin aku tidak diajak konsultasi oleh Ipan Black soal minta nasehat ke pakcik Semad.
"Ada sekitar seminggu lalu lah. Datang dia ke rumah tengah-tengah malam waktu itu. Dikawani bininya, kalau tak silap aku." Pakcik Semad mengingat.
"Tengah malam?" Aku jadi penasaran.
"Sekitar jam sebelas malam lah mungkin. Waktu itu pucat kali mukanya, macam kertas kau pikir. Jadi kutanyak lah sama dia, kenapa kau? Kubilang." Pakcik Semad mulai bersemangat bercerita.
Aku diam saja, mendengarkan sambil menikmati hisap demi hisapan rokokku. Pakcik Semad seorang Mantri Kesehatan yang andal di kampung kami. Tatkala rekan-rekan sejawatnya yang lain menolak mengabdikan diri di kampung kami yang terpencil, ia justru bekerja sendirian di Puskesmas yang kondisinya sudah dalam keadaan 'hidup segan, mati tak mau'. Satu-satunya lokasi tempat warga di kampung kami menggantungkan harapan akan nasib kesehatan. Pakcik Semad legenda pelaku abdi kesehatan, jasanya tak diragukan lagi.
Bayangkan, hampir semua penyakit bisa disembuhkan pakcik Semad yang notabene hanya seorang Mantri. Menurut ceritanya orang-orang di kampungku, gosip, pakcik Semad Punya Ilmu. Taukan maksudku dengan kata; Punya Ilmu? Itu, semacam kesaktian supranatural yang lekat dengan hal-hal gaib. Itulah mengapa pakcik Semad terkadang bisa melampaui keahliannya sebagai Mantri Kesehatan dalam pengabdiannya melayani pengobatan warga di kampung kami. Ia dipercaya sebagai dukun atau tabib juga. Itulah mengapa walaupun hanya pil generik tanpa merek berwarna putih, biru, merah, hijau dan kuning yang itu-itu saja diberikannya untuk dikonsumsi pada setiap jenis penyakit, ampuh! Termasuk terkadang dengan penyakit-penyakit aneh, diluar kelaziman. Kutil Kembar atau Panu Belang-Belang, misalnya.
"Mengeluh lah dia, tentang penyakitnya itu. Jadi kuperiksa lah. Sudah kuperiksa, kubilang sama dia, kalau penyakit macam kau ini ... besok ke kota saja kau berobat sama Dokter karena tadak obatnya sama aku. Kubilang, Lok." Lanjut pakcik Semad.
"Apa penyakitnya rupanya, pakcik?" Keingin-tahuanku sampai pada puncaknya.
"Aaaaaah ... tak enaklah kalau kucakapkan sama kau. Karena nanti kau pikir pulak aku Tukang Gosip!" Pakcik Semad menolak menjawab pertanyaanku.
"Tidaklah, pakcik. Tak mungkin lah aku becakap gitu. Inikan kita sama kita saja. Aku karena kesiannya sama si Ipan Black tu. Best friend-ku tu, pakcik. Jadi ... apa penyakitnya, pakcik?" Kuulangi lagi pertanyaanku padanya, berharap ia mau buka rahasia.
"Tapi janjilah kau. Jangan ceritakan sama orang,"
"Sumpah, pakcik!"
"Sama ... traktirlah aku Kopi Susu si Jamel tu nanti malam." Ia minta kompensasi atas kesediaanya untuk buka rahasia.
"Gampang itu, pakcik." Janjiku.
Ia tegakkan punggungnya yang sedari tadi menyandar di dinding gubuk kandang kambing milik Wak Ongeh itu. Seakan-akan ingin bercerita serius. Diambilnya sebatang rokok dari bungkus rokokku. Dibakarnya untuk bisa menikmati hisapan asap rokoknya. Ia mulai lagi, "Tau kau ... waktu kutanyak, mana yang sakit rupanya? Ditunjuknya lah kearah Sangkar Burung Punainya, Kulok."
"Sangkar Burung Punai? Maksudnya, pakcik?" Tanyaku kurang paham dengan kalimatnya.
"Selangkangannya lah! Telmi jugak kau ini." Katanya kesal.
"Iyah! Dah tu?"
"Iniku yang sakit, pakcik. Katanya. Kutanyak lagi, susah kencing? Kenak Anyang-Anyangan kau itu. Kupikir itu penyakitnya," Pakcik Semad kali ini bercerita dengan mimik wajah serius.
"Dah tu?"
"Bukan pakcik, katanya lagi. Penasaran, kusuruhlah dia liatkan Burung Punai-nya, Kulok. Aihmak, kenak Raja Singa rupanya dia kau pikir!" Pakcik Semad sebutkan nama penyakit yang diidap Ipan Black, sambil menepuk jidatnya.
"Raja Singa? Sipilis!" Aku tersontak seketika mendengar penjelasan pakcik Semad.
---
Sore hari, sesaat sebelum pergi ke sumur untuk mandi, aku merenung di meja makan dapur rumahku. Dengan hanya mengenakan celana pendek dan handuk yang kusimpulkan melilit leher, aku masih mengingat-ingat cerita pakcik Semad siang tadi tentang penyakit kelamin yang diidap Ipan Black. Sungguh diluar dugaanku. Tapi itu sesuai dengan resiko atas apa yang ia jalani selama ini. Petualang Cinta Liat Sejati.
Terlepas bahwa aku merasa dibohongi, dengan alasannya mengapa ingin totalitas Gantung Sempak Pink alias tobat jadi Playboy Kampong, sewaktu di kedai kopi, mendengar keterangan pakcik Semad saat memeriksa penyakit Ipan Black malam itu, ada hikmahnya. Menurut pakcik Semad, Rita Betis Beton istri semata wayangnya Ipan Black menangis terisak-isak ketika mengetahui bahwa Burung Punai suaminya telah mengidap penyakit Raja Singa alias Sipilis! Ini tidak biasanya. Sepengetahuanku, Rita Betis Beton tak bisa menangis dengan alasan apapun.
"Mau mandi, apa mau melamun kau?" Suara teguran ibuku pecahkan lamunanku.
"Mandilah, mak. Mamak mau mandi jugak?" Aku bertanya.
"Tidak. Mau nyuci beras. Eh, Kulok! Kau kalau menjemur sempak, jangan di jemuran yang dekat dengan rumah Si Bedah tu," Ibuku peringatkan aku.
"Kenapa rupanya, mak?"
"Macam tak tau adat kau. Ngadu Si Bedah tu sama aku tadi siang, malu dia mau kesamping mengambil daun pisang ... gara-gara jemuran sempakmu!" Ibuku jelaskan.
"Halaaaaah, mak ... banyak kali cerita Si Bedah tu, mak! Nampak sempakku aja ... malu dia." Aku kesal.
Si Bedah anak gadisnya tetanggaku. Selepas Kursus Menjahit di kota, ia sudah tiga bulan ini menganggur di rumah. Karena itu mungkin terkadang tingkahnya, menurutku, suka mengada-ada. Baru melihat sempak yang kujemur saja dia alergi, bagaimana kalau melihat Sempak Pink-nya Ipan Black, pikirku. Padahal sempak-sempakku itu, meskipun sudah mirip Kain Lap, tapi tak pernah kugunakan dalam petualangan Dunia Liar. Paling vulgar, kuperlihatkan memakainya didepan publik saat berenang menombak ikan di muara.
"Lain kali kau jemur saja sempakmu dalam sumur kita tu. Makanya pasang kawat, kan dari dulu dah becakap aku." Celoteh ibuku, sambil mencuci beras untuk ditanak, makan kami malam nanti.
"Iyalah, mak. Nanti awak pasang." Aku berpikir lebih baik mengalah saja.
Aku tak lagi setuju dengan perasaan kecewaku diawal saat mendengar Ipan Black telah Gantungkan Sempak Pink-nya. Terlambat dan tidak benar pada prinsip murni panggilan nuraninya jika ia Gantung Sempak Pink paska terkena Penyakit Kelamin. Ia gantungkan Sempak Pink karena memang sudah tak bisa mengandalkan isi Sempak Pink-nya lagi. Bukan karena hidayah. Itu, pikirku. Jadi sepantasnya ia memang harus sudah pensiun dari Cassanova Wannabe.
Tapi aku justru tertarik dengan pandangan pakcik Semad. Mensyukuri jika Ipan Black telah taubat. Hanya saja, apakah peristiwa menggantungkan Sempak Pink itu sungguh-sungguh, tidak kambuh lagi? Sebagaimana jika nanti penyakit Raja Singa-nya telah sembuh, totalitas menggantungkan Sempak Pink-nya Ipan Black akan ku upayakan dan kukawal agar tidak ia kembali terjun ke Dunia Petualangan Cinta yang liar. Tapi untuk itu, aku butuh kerjasama Rita Betis Beton, istrinya Ipan Black, untuk mewujudkannya. Tekadku.
---
Timba demi timba air sumur kucurahkan ke tubuh, saat mandi untuk penuhi kebutuhan membersihkan diri sore itu. Meskipun hari sudah tak lagi kuat pancarkan sinar matahari, tapi tak surut diri ini dari menantang dinginnya air sumur dibelakang rumahku. Kusabuni dan shampo tubuh yang merupakan titipan Ilahi padaku. Agar bersih dari kotoran. Menjaga kebersihan adalah tuntutan iman. Begitu setidaknya yang dikatakan Ustad jika ceramah di Masjidku.
Syukur, aku masih punya kesadaran untuk menjaga kebersihan diri. Termasuk menjaga jasad yang kasar tempat ruh bersemayam hanya amanah titipan ini, dari penyakit. Penyakit yang datang dari sesuatu yang terlihat enak, sedap dilakukan, moderen, dan identik dengan image bersih tapi ternyata tidak! Seperti Ipan Black yang begitu 'beruntung' telah banyak torehkan pengalaman sejarah dalam Dunia Percintaan yang liar dengan Sempak Pink-nya.
Tak ada yang lebih pantas dari Gantung Sempak Pink secara total, sebagaimana dulu Ipan Black pernah begitu totalitasnya menjalani hidup dengan Sempak Pink-nya, untuk benar-benar bertaubat. Siapq yang tidak salah atau khilaf? Tapi sebaik-baiknya orang yang bersalah atau khilaf itu adalah orang yang mau total bertaubat. Begitu.
Wassalam.