Senin, 30 Desember 2013

Fatamorgana Awal Tanpa Akhir

     Semua kisah pasti ada awalnya, begitu yang dikatakan Para Pujangga padaku. Awal merupakan uraian penting dari sebuah kisah. Tapi kali ini, tidak dengan kisahku. Tak tahu aku kapan, dimana dan darimana semuanya berawal. Terjadi begitu saja. Dan jika juga harus kukatakan, mungkin tak jauh dari tempatku semua berawal, yang kini aku berada dan dengan dia yang selalu kutemui. Awal dari semuanya. Semua kisah perasaan yang terpendam ini, dan semua kejadian yang indah ini.
     

     Jika orang-orang mengatakan purnama itu indah, mungkin aku satu-satunya saat ini yang menyangkalnya. Aku lah yang tak memuji keindahan purnama yang sedang terbit dimalam-malam kami belakangan ini. Dan hanya mengatakan dirinya sebagai mahluk Tuhan yang lebih indah dari purnama atau apapun itu. Aku juga tak perduli dikatakan sedang “Mabuk Kepayan” saat ini. Biarkan saja. Aku justru menikmatinya. Dan aku berdoa, semoga anugerah “Mabuk Kepayan” ini tak pergi lekas dariku. Tuhan, aku mensyukurinya.
     

     "Sudah kau masukkan ayam kita tu, Kulok?” Tiba-tiba saja ibuku bertanya hingga aku tersadar dari lamunanku.
     

     "Ayam apa, mak?” Karena terkejut, aku bertanya balik.
     

     “Iyah! Ayam kita lah. Ayam siapa lagi?!” Jawab ibuku dengan mata melotot.

     “Oh iya. Lupa awak, mak. Inilah baru mau awak masukkan kekandangnya.” Aku bangkit dengan malas dari tempat dudukku ditangga samping rumah panggung kami, yang sedari tadi kujadikan tempat melamun.

     Ketika itu waktu sudah mendekati senja. Temaram akan segera tiba. Memasukkan beberapa ekor ayam milik kami yang berkeliaran di halaman adalah tugas rutinku. Ditiap-tiap senja. Beberapa ekor ayam itu tak penting lagi bagiku belakangan ini. Aku terlalu sibuk dengan perasaan “Mabuk Kepayan”ku. Apalah itu namanya. Yang terpenting bagiku saat ini menikmati bayang-bayang senyumannya. Senyum memikat yang selalu ada dalam pikiranku saat ini, lebih indah dari purnama. Purnama yang bersinar terang pada temaramnya malam dengan sinar bintang-bintang.

     “Mak! Ayam kita yang bentol-bentol bulunya tu mana?!” Teriakku dari kandang ayam dibawah kolong rumah panggung kami yang sudah tua.

     "Kau carilah, Kulok! Kan sudah kubilang, jaga ayam kita tu. Jangan banyak melamun saja kau!” Jawab ibuku berteriak dari dalam rumah panggung tua, satu-satunya milik kami, sambil melipat kain dari jemuran tadi.

     Kemana pulak pergi ayam tu?! Takut awak hilang dicuri orang mak!” Kataku sambil sibuk membenahi kandang ayam kami yang tak seberapa besar itu.

     “Sudahlah. Jangan banyak cakap kau lagi, Kulok! Pergi lah kau cari sana ayam tu, sebelum jadi ayam bakar nanti!” Perintah ibuku.

     “Makjang! Kemana pulak lah mau kucari ayam tu?!” Tanyaku kesal.

     Dari bawah kolong lantai rumah panggung kami yang mulai lapuk, aku memandang keluar. Aku memandang luasnya alam. Dimana gerangan ayam kami yang berbulu bentol-bentol itu sedang bersembunyi? Aku tak punya insting tentang dimana ayam sialan itu kini berada. Semua yang ada dipikiranku adalah bayang-bayang senyuman manis Jaenab. Ya! Jaenab binti Kodir. Anak gadis Penghulu kampung kami. Yang dulu teman bermainku, kini ada perasaan lain yang hinggap. Sejak waktu yang entah kapan itu. Seperti kukatakan diawal, aku tak tahu kapan semuanya berawal.

     Gadis berwajah cantik dan berambut panjang itu, sejak hari itu menawan hati dan pikiranku. Ketika ia tersenyum menatapku sambil mengantarkan bekalku untuk makan siang saat diladang. Ketika aku ingat waktu itu, kami sama-sama bertamasya ke kampung diseberang kampung kami, ia duduk disebelahku diatas perahu kecil yang antarkan kami menyeberang. Dan banyak lagi “ketika-ketika” lain yang kuingat, berlahan-lahan menjadi momen aku tak dapat melupakannya. Walau sedetik pun dari pikiranku. Si Jelita, Jaenab binti Kodir anak gadis pak Penghulu.

     "Hei, Kudin! Nampak kau ayamku yang bentol-bentol tu bulunya?!” Tanyaku pada si Kudin yang sedang mengutak-atik sepeda motor tuanya, dihalaman rumahnya.

     “Ayam? Kalau kambing, ada kulihat tadi!” Katanya sambil menunjuk seekor kambing berbulu putih yang sedang merumput ditepi jalan setapak kampung kami.

     “Ayam yang kutanya ... kambing pulak yang kau bilang!” Kataku kesal pada si Kudin sambil berlalu pergi.

     "Woi, Kulok! Jadi tidak kau ikut mancing ke muara besok?!” Tanya si Kudin padaku.

     “Ah ... tak ikut lah aku! Kalian saja yang pergi.” Jawabku tak perduli sambil terus pasang mata mencari ayamku yang entah dimana keberadaanya, tiap kolong rumah tetanggaku seksama kuperhatikan.

     "Betol ni?! Jangan nyesal kau kalau tak ikut nanti ya. Si Jaenab, Maemunah dan Siti ikut. Tau kau?! Hehehe,” Kata si Kudin padaku, kemudian ia kembali sibuk dengan sepeda motor tuanya yang tak bisa diperbaiki lagi itu, menurutku.

     "Jaenab?! Ikut dia?” Seketika aku terperanjat dan menghentikan langkahku, mendengar si Kudin menyebut nama si Jelita, Jaenab binti Kodir, yang sedang bersinar cemerlang menyinari hatiku.

     Persetan dengan ayam! Meraih momen untuk bersama Jaenab lebih urgen bagiku, pikirku. Aku tak melanjutkan mencari ayamku yang hilang. Aku segera menghampiri si Kudin yang sedang sibuk memperbaiki sepeda motor tuanya. Sepeda motor yang sudah rusak sejak  tiga puluh tahun yang lalu. Umur rusaknya sepeda motor tua itu, hampir sama dengan seumur hidupnya. Aku ingin meyakinkan diriku, apakah memang benar yang kudengar tadi. Bahwa Si Jelitaku, Jaenab binti Kodir, akan ikut memancing ke muara esok hari?

     "Jaenab ikut, Kudin?” Tanyaku sambil duduk diatas jok sepeda motor tua si Kudin yang selalu saja ia utak-atik sejak sepuluh tahun lalu, semenjak ia lulus dari Sekolah Tehnik Mesin-nya.

     “Jangan kau duduk disitu, duduk disana!” Katanya melarangku menduduki sadel jok sepeda motor tuanya, sambil menunjuk kursi kayu tempat yang harus kududuki.

     "Halah, Kudin! Sampai kiamat nanti, tak kan hidup keretamu itu.” Kataku sambil bangkit dari sadel sepeda motor tuanya dan duduk dikursi tempat yang ditunjuknya tadi.

     “Slow kau, kawan! Kalau hidup benda ni nanti, kau juga yang senang. Bisa kita tiap Minggu ke pasar pekan di kampung sebelah tu.” Kata si Kudin.

     “Iyalah!” Sahutku, tak berharap banyak dengan janjinya itu, janji yang tak mungkin terwujud melihat kondisi sepeda motor tuanya yang sudah lama “pensiun” dan melihat keadaan isi kantong si tuannya.

     Persetanlah dengan sepeda motor tuanya si Kudin yang sudah lama teronggok dibawah kolong lantai rumah panggungnya itu. Aku bukan ingin menanyakan keadaan sepeda motornya. Tapi aku mengharap dan menanti jawaban pasti dari si Kudin, apakah si Jelitaku, Jaenab binti Kodir, ikut tamasya memancing kami esok hari? Itu yang lebih penting. Semua info tentang Jaenab adalah A1 bagiku. Si Kudin lah perekayasa dan panitia penyelenggara acara tamasya memancing kami esok hari, ke muara.

     "Jadi ... siapa saja yang ikut besok, Kudin?” Tanyaku sambil membakar rokok favoritku, rokok dengan tembakau American Taste bahasa kerennya, kalau bahasa kami sehari-hari rokok putih.

     “Aku ... si Jambek, Jack Playboy, bang Jamel dan Amat Sampan sebagai tekong kita besok. Tambah kau lah! Kalau kau ikut, Kulok.” Jawab si Kudin, melihatku asyik menghisap rokok ia pun berhenti mengutak-atik sepeda motor tuanya.

     “Kalau itu ... aku tau! Yang lain, siapa lagi?” Tanyaku penasaran.

     “Ada si Maemunah Hidung Mancung, Siti Rambut Kepang Dua ... dan si Jaenab Anak Penghulu. Ikut tidak?” Bertanya si Kudin sambil ikut menghisap rokok dari bungkusan, sebungkus rokokku, yang kubeli siang tadi di kedai wak Jah.

     “Jaenab ikut? Yakin kau?” Kali ini pertanyaanku ingin memastikan lagi bernada lebih ingin tahu, ekspresi  raut wajah penasaranku dan berharap akan jawaban si Kudin tak bisa kusembunyikan.

     "Hahaha ... kenapa kau dengan si Jaenab tu, Kulok? Ha? Coba kau jawab pertanyaanku dulu, kawan! Hahaha,” Si Kudin tertawa lepas melihat ekspresi raut wajahku ketika bertanya tentang si Jaenab tadi.

      Dia memang sudah curiga dengan gelagatku beberapa hari ini. Memang sulit berbohong pada si Kudin, bagiku. Aku itu, bagaikan bungkusan kantong pelastik yang tembus pandang baginya. Ia begitu mudah menebak apa yang ada didalam pikiranku. Apakah dalam pikiranku ini goreng pisang atau isinya sedang memikirkan kueh risol kampung buatan wak Jah.

     Si Kudin itu sahabatku dari sejak lahir. Jadi ia terkadang lebih tahu tentang perubahan atau apapun tentang diriku, daripada aku mengenal diriku sendiri. Setiap aku mengalami sesuatu, ia cepat sekali bisa menebaknya. Termasuk jika aku sedang kasmaran. Kami tidak ada pertalian saudara, tapi kami lebih akrab dari jalinan persaudaran. Aku pun sebaliknya, begitu mengenal dirinya.

     "Boy! Wajarkan aku jatuh cinta, boy?” Akhirnya aku berterus terang, lebih baik menurutku daripada harus berbohong lagi dari pertanyaan-pertanyaannya sebelumnya.

     “Hahaha ... apa kubilang?! Ha? Jangan bohong kau sama aku, kawan! Sejak kapan?” Tanya si Kudin lagi.

     "Sudahlah! Kapan ... tak penting, boy! Yang penting sekarang, ikut apa tidak dia besok?” Aku tak ingin menjawab pertanyaan itu.

     Pertanyaannya itu, tentang awal semua aku mulai memiliki perasaan aneh pada si Jaenab, sulit kujawab. Sebab seperti diawal tadi, aku tak tahu tepatnya kapan awal aku jatuh cinta padanya? Aneh memang. Tapi kan tak penting bagiku, menurutku. Yang kutahu hanya ketika aku sudah kasmaran padanya. Dan masih selalu menyimpan perasaan itu.

     Tapi jika kupikir-pikir lagi, memang penting artinya sebuah awal bagi si Kudin. Untuk menjawab seperti pertanyaan si Kudin tadi. Karena awal terkadang merupakan jawaban sebuah akhir. Seperti senja ini, merupakan akhir dari sebuah awal terbitnya mentari pagi tadi. Dan awal juga rangkaian kronologi sebuah sebab akibat. Berawal dari seorang nelayan yang pergi melaut, akhirnya ada ikan yang tersaji di meja makan kita. Seperti itulah! Aku tak sepandai Para Pujangga untuk deskripsikannya. Aku juga bukan Sastrawan.

     "Jawab dulu pertanyaanku, kawan! Sejak kapan?” Si Kudin masih memaksaku.

     "Tak tau aku kapan, boy! Tapi sudah sejak tiga bulan yang lalu kurasa.” Jawabku.

     “Sudah kuduga, kawan. Belakangan ini ... tingkahmu selalu aneh kalau kita lagi ngumpul di rumah si Jaenab. Tapi ... kenapa kau tak cerita dari dulu?” Si Kudin menepuk-nepuk bahuku.

     Sedikit lagi matahari tergelincir, maka berubah lah hari menjadi awal satu malam. Awal tak punya kriteria tertentu. Awal bisa darimana saja. Tergantung apa dan siapa yang ingin menggunakan awal dari sebuah akhir. Sama dengan jika si Kudin dalam dialog atau diskusi kami, jika ia menepuk-nepuk bahuku, artinya adalah sebuah awal nasehat atau dialog kami dimulai.

     Aku suka sekali dengan ekspresi mimik wajahnya jika kami sedang berdialog. Si Kudin itu bak seorang Profesor bagiku, dalam urusan tata asmara. Nasehat dan strateginya terkadang sekelas dengan Romeo dalam cerita Shakespare, atau visi dan misi Casanova dalam urusan asmara. Meskipun si Kudin sendiri belum pernah sukses dalam urusan asmara, tapi nasehatnya itu lebih hebat dan jitu ketimbang si Jack, Playboy kampung di kampung kami.

     "Kudin sahabatku ... apa pendapatmu, boy?” Aku meminta pendapatnya.

     “Sulit, kawan! Bukan aku ingin mematahkan hatimu ... atau aku tak ingin kau bahagia dengan si Jaenab gadis paling cantik di kampung kita tu, Kulok. Tapi ... ,” Apa yang dikatakan si Kudin kali ini tak seperti harapanku, ia tak begitu gembira dengan pengakuanku.

     "Kenapa rupanya, boy?” Tanyaku lagi, aku merasa tak sedap hati dengan perubahan katanya diakhir kali tadi.

     “Kulok, sebaiknya ... tak usahlah kau teruskan dengan main-main perasaanmu itu lagi. Kupikir nanti kau bakal terluka, kawan.” Datar saja kali ini si Kudin menasehatiku.

     Terluka? Apa maksudnya? Bukankah semuanya baik-baik saja, dari awal aku tak temukan hal-hal yang dapat melukaiku dari si Jaenab jika aku menaruh perasaan lebih padanya. Atau, ada hal lain dari sisi pandang si Kudin tentang si Jaenab yang akan mampu melukai perasaanku? Aku jadi murung dibuatnya. Seribu pertanyaan muncul dalam benakku. Ada apa gerangan?

     "Boy ...ceritalah kau padaku. Ada apa, boy? Sebelum lebih jauh aku terlanjur.” Desakku pada si Kudin.

     “Seharusnya ... dari awal kau itu cerita padaku, kawan! Selama ini kau kan tak pernah sembunyikan rahasia padaku. Kalau begini, akhirnya kan kau juga yang sedih nanti.” Kata si Kudin padaku, ia sambung puntung rokoknya dengan sebatang rokok lagi yang baru.

     “Kenapa, boy? Sudah punya pacar dia? Tapi tak pernah kuliat,” Aku penasaran, sekaligus berfirasat buruk.
“Kau tau kenapa si Jaenab mau ikut acara mancing kita besok ke muara?” Si Kudin berikan pertanyaan misterius padaku.

     “Tidak! Kenapa rupanya?” Aku ingin tahu, tapi aku juga tak berharap si Kudin berikan jawaban yang menyakitkan.

     “Sebab si Jaenab diajak si Jack, kawan! Kau tau ... malam Minggu kemaren, si Jack baru saja nyatakan cintanya pada si Jaenab. Dibawah pokok jambu rumahnya mak Joyah. Dan kau tau? Jaenab menerimanya. Jadi, mereka sepasang kekasih sekarang.” Cerita si Kudin berikan info dan pendapatnya padaku.

     Aku seperti ditampar seketika. Bukan, tepatnya seperti disambar petir! Tubuhku lemas mendengar info itu dari si Kudin. Aku serasa tak percaya, tapi juga tak bisa katakan bahwa si Kudin sahabatku itu berdusta. Si Kudin tak pernah berdusta padaku. Juga tak pernah dengan sengaja menjerumuskanku pada kekecewaan. Ini salahku, salahku mengapa tidak dari awal berbagi cerita dan perasaanku tentang si Jaenab pada si Kudin sahabatku. Apakah ini merupakan akhir perasaanku yang terpendam dari awal?

     “Dari mana kau tau cerita ini, Kudin?” Tanyaku pelan.

     “Dari mulut si Jack langsung, kawan. Semula aku tak percaya. Tapi semalam kulihat si Jack dan Jaenab berjalan mesra di Pasar Malam. Mesra sekali. Kulok ... jangan lemas gitulah kau, kawan!” Si Kudin khawatir dengan perubahan pada raut wajahku.

     “Ah, tidak! Aku biasa saja kok,” Aku berkilah, kukuatkan diriku meskipun aku tak bisa menahan tubuhku yang lemas dan harus bersandar disandaran kursi kayu milik si Kudin.

     Aku bagaikan jus buah kuini mengkal yang tanpa gula kini, asam. Aku bagaikan sirup buah rukam mentah, kecut. Aku hanya bisa berpura-pura tegar dihadapan si Kudin sahabatku itu. Ingin marah rasanya, tapi aku tak pernah mengawali. Dan aku tak pantas mengatakan bahwa perasaan yang menyiksaku ini adalah akhir yang dikhianati. Aku berusaha datar dan kuat. Walaupun aku terluka karena kenyataan, tak bisa berharap seperti awal harapan perasaanku pada si Jaenab.

     Sejenak aku kosong. Aku bak kehilangan jiwa. Aku butuh kata-kata pembangkit moral dari seorang Jenderal saat ini. Agar aku tidak runtuh hingga kedasar lantai. Tapi aku segera tersadar, setelah aku dikejutkan oleh si Kudin sahabatku itu. Ia berulang-ulang kali memukul bahuku. Menunjuk-nunjuk kearah pohon mangga yang begitu rindang tumbuh di halaman belakangku.

     “Itu ayammu, Kulok! Cepat tangkap! Nanti lari lagi dia!”

     “Ha? Mana?! Mana?!” Aku sibuk memperhatikan kearah yang ditunjuk si Kudin.

     “Itu! Diatas pokok empelam dibelakang rumahmu!” Teriaknya lagi.

     “Ooooo ... iya! Nampakku sekarang! Kurang hajar ayam ni, awas kau kalau kudapat ya! Ok, boy ... bak kutangkap dulu ayamku itu. Nanti malam kita lanjut lagi ceritanya, boy.” Kataku pada si Kudin, kata-kata pamit mengakhiri kebersamaan kami senja itu.

     “Ok! Tapi ... jadi tidak kau ikut mancing ke muara tu besok, Kulok? Kalau ikut, jangan lupa bawa uang untuk sewa perahu kita nanti!” Kata si Kudin mengingatkanku.

     “Beres tu, boy!” Jawabku sambil berlari-lari kecil kearah halaman belakangku dimana pohon mangga kampungku berdiri kokoh, ayamku bertengger diatas dahannya.

     Kupanjat pohon mangga yang tumbuh dibelakang rumahku itu. Kudekati ayam kampung jantan milikku itu. Rabun senja sudah menerpanya. Tak bergeming ia ketika kutangkap. Lalu aku sejenak duduk didahan pokok mangga itu. Cerita tentang si Jaenab gadis pujaanku itu telah menjalin kasih dengan si Jack Playboy kampung kami, kembali melintas dipikiranku. Aku harus kuat dengan kenyataan terakhir yang kuterima. Kenyataan bahwa akhir dari awal yang tak pernah kuketahui akan datangnya itu, harus berakhir dengan hati hampa.

     Tak kulihat lagi bentuk mentari yang menyinari hari ini, hanya cahaya merah yang menyeruak dari celah-celah langit. Bumi tempatku berpijak mulai gelap. Gelap, seperti gelapnya perasanku akibat terluka karena si Jack telah duluan menyatakan cintanya pada Jaenab. Aku ingin lampiaskan hatiku yang terluka ini. Agar perasaan yang diawal itu bisa pergi jauh dari otakku. Aku harus teriak. Dan aku berteriak!

     “Ayaaaaaaaaaaaaaaaam!!!”

     “Hoi, Kulok! Mengapa pulak kau menjerit diatas pokok empelam tu?! Kerasok an jin kau?!” Teriak ibuku dari bawah.

     "Eh, mamak! Ini, mak. Dah awak dapat ayam kita yang hilang tadi,” Jawabku malu.

     "Kalau dah dapat, kau masukkan lah kedalam kandang! Turun kau, mandi sana! Sebentar lagi dah mau Maghrib.” Perintah ibuku.

     "Iya, mak! Inilah mau turun awak.” Kuturuti anjuran ibuku itu.

     Ayam jantan itu kuletakkan dikandangya. Matahari semakin rebah menyinari belahan dunia lain. Singgasananya segera berganti diduduki Sang Rembulan. Mungkin akhirnya aku terpaksa akan mengatakan bahwa betapa indahnya Sang Rembulan yang bersinar purnama malam ini. Aku tak lagi mempertahankan deskripsiku tentang siapa ciptaan Tuhan yang terindah seperti diawal. Namun dihati kecilku, masih berharap ia menyediakan ruang untukku dihatinya.

     Bibir bisa berdusta, mengingkari apa yang menjadi kemauan nurani. Tapi batin pastilah tersiksa olehnya. Biarlah, sesuatu yang kuharapkan mungkin tak baik untukku saat ini. Sekarang aku harus belajar melihat sebuah awal, agar aku tahu bagaimana caranya dengan elegan mengakhiri. Tidak lagi membiarkan fatamorgana perasaan diawal. Dan tersakiti oleh sesuatu yang tak pernah kuawali, disebuah akhir. Sekian!