Menengadah dagu, wak Alang duduk disudut kedai kopi bang Jamel. Ditangan kanan rokok masih terbakar dan mengeluarkan asap dibiarkannya sia-sia. Pandangannya kosong dengan bola mata terlihat menerawang keatas atap daun rumbia kedai kopi bang Jamel. Duduknya sambil mengangkat kedua kaki naik keatas bangku, tinggalkan sepasang sendal jepitnya diatas lantai tanah.
Bang Jamel sambil meracik kopi, sesekali melirik wak Alang dari balik steling kayu. Kedai kopi bang Jamel masih terlihat sepi pagi itu. Belum ramai dengan suara-suara pelanggan setianya. Selesai meracik kopi, bang Jamel mengantarkan kopi panas pesanan wak Alang itu.
"Wak, ayamku kemarin melamun macam uwak ni. Tapi tak berapa lama kutengok dah tekapar jadi bangkai tak bernyawa," Kata bang Jamel sambil meletakkan kopi diatas meja wak Alang.
"Eh ... bukan melamun sembarang melamun aku, Jamel. Ada hal yang kupikirkan." Kata wak Alang tersadar dari lamunannya.
"Usah banyak kali berpikir wak. Masih pagi lagi ni, tidak wak Alang pergi ke ladang tu?" Tanya bang Jamel sambil duduk dibangku, tepat didepan wak Alang.
"Lagi tak semangat aku nak ke ladang tu, hari ini biarlah aku bersantai sejenak dahulu." Jawab wak Alang sambil menuangkan sedikit kopi panasnya kedalam piring kecil alas dari gelas kopinya.
Bang Jamel membakar rokoknya, ia melihat seperti ada yang menjadi beban dipikiran wak Alang. Bang Jamel sangat hapal akan tabiat dan sifat wak Alang. Ingin sedikit meringankan beban pikiran wak Alang, bang Jamel ikut duduk bersama wak Alang.
"Apa lagi sekali ni yang uwak pikirkan?" Tanya bang Jamel kali ini mau tahu akan perkara yang sedang dipikirkan wak Alang.
Wak Alang menyeruput kopinya dipiring kecil dari alas gelas kopinya yang ia tuangkan tadi. Sesekali ia menghembusnya. Uap putih tipis keluar dari kopi hitam pekatnya wak Alang. Tampak sejenak wajahnya menikmati kopi buatan bang Jamel yang terkenal enak itu. Sebelum ia menceritakan apa yang sedang dipikirkannya.
"Aku heran dengan keadaan negeri kita belakangan ni. Kenapa setiap kali aku membuka koran pagi di kedai kopi kau ni, selalu ada saja berita kerusuhan dalam kolom koran tu?" Kata wak Alang bertanya heran.
"Kalau itu, entahlah, wak. Manakan sanggup aku menjawabnya," Kata bang Jamel.
"Aku bukan minta jawapanmu, Jamel! Aku hanya memberi tau kau tentang apa yang kupikirkan. Tau aku, tak mampu otakmu itu menjawab pertanyaanku ni." Kata wak Alang yang kesal dengan jawaban bang Jamel.
"Hahahahaha ... hahaha," Bang Jamel tertawa mendengar perkataan wak Alang.
Wak Alang memang tak bisa menahan kata. Ia orang yang spontanitas, selalu ceplas-ceplos. Apa yang terpikirkannya ketika itu, maka itulah yang ia ucapkan seketika. Tapi gaya bicaranya yang spontanitas itu selalu dianggap lucu bagi masyarakat penghuni Kampong Srimerdu.
"Kalau menurut firasatku, tak kan mungkin semua kejadian kerusuhan itu tanpa ada maksud dan tujuan. Artinya, ada yang bermain wayang dalam usaha mewujudkan sebuah skenario," Kata wak Alang dengan dahi mengerut serius.
Bang Jamel diam saja mendengar celotehan wak Alang. Ia tersenyum dan menikmati asap dari hisapan sebatang rokoknya. Bagi bang Jamel, wak Alang seperti pelawak yang sedang menghiburnya karena memikirkan hal yang terlalu aneh bagi orang seperti wak Alang.
"Wak, usah dipikirkan kali. Baik uwak berpikir macam mana supaya pokok ubi dikebun uwak tu bisa berbuah tomat. Itu lebih bermanfaat menurutku," Kata bang Jamel pada wak Alang.
"Kau sajalah yang memikirkannya, tak pernah kudengar seumur hidupku ada pokok ubi bisa berbuah tomat!" Kata wak Alang semakin kesal.
Kalau sudah begitu, jiwa perajuknya pun muncul. Duduk menyamping dia tak ingin melihat bang Jamel.
"Susah becakap sama kau ni, Jamel. Wawasanmu kurang, taumu cuma seputar kedai kopimu ni sajalah."
"Buat apa uwak memikirkan kejadian yang terjadi jauh dari sini? Ada orang lain yang lebih pantas memikirkannya, wak! Para aparat kan ada disana," Kata bang Jamel ungkapkan pendapatnya.
"Ni lah tak ngerti kau. Kita sebagai warga negara berhak tau apa yang sedang terjadi pada kondisi negeri kita ni, jadi kita tau memposisikan diri apabila muncul sebuah gejala dalam suatu masyarakat. Kontrol Jamel, kontrol!" Kata wak Alang bersemangat menerangkan maksud pikirannya.
"Betul kata wak Alang tu, bang Jamel!" Sahut Marfu'ad dari bangku dihujung lain kedai kopinya bang Jamel itu.
Marfu'ad yang sedari tadi terlihat begitu khusuk membaca koran, akhirnya tergugah juga ingin ikut dalam pembicaraan pagi mereka. Dilipatnya koran yang baru saja selesai ia baca. Sambil bangkit berjalan menuju meja wak Alang dan bang Jamel duduk.
"Buatkan aku kopi susu lah bang!" Marfu'ad memesan minum paginya.
"Sekalian kau bawa kueh bakwan tu nanti kemari Jamel," Kata wak Alang pula.
"Menurut uwak, apa yang sedang terjadi sekarang ni wak? Analisa uwak lah!" Marfu'ad bertanya pendapat wak Alang.
Bang Jamel bangkit dari duduknya untuk membuatkan pesanan Marfu'ad. Marfu'ad duduk tepat disamping bekas bangku bang Jamel duduk tadi.
"Aku kurang paham kalau kau minta analisa. Karena aku main firasat saja, Fu'ad. Tapi yang pasti kalau kulihat latar belakang kejadian tu, tidaklah begitu mendasar pada filosofi atau isme," Jawab wak Alang.
"Betul, wak. Ini seperti suatu kejadian yang ditimbulkan dari provokasi yang kuat dalam suatu masyarakat. Tapi kita hanya dapat curiga, tak bisa menuduh." Marfu'ad setuju dengan firasat wak Alang.
"Benda, gitulah kunamakan. Nah semua urusan benda tu sudah diserahkan pada wakil kita. Sekarang tinggal bagaimana benda tu diolah oleh wakil kita menjadi benda aman," Kata wak Alang ungkapkan firasatnya.
"Setuju aku dengan firasat uwak tu. Tapi wak, kalau lah benda tu masih tetap menjadi duri bagi kita nanti. Macam mana, wak?" Marfu'ad bertanya lagi.
"Ha, itulah yang susah! Seperti kau tau, wakil kita yang diharap untuk mengelola benda tu kan mayoritas bagian dari golongan yang tengah berkuasa saat ini." Jawab wak Alang.
Tak lama bang Jamel sudah berada ditengah-tengah mereka lagi. Setelah diletakkannya kopi serta kueh pesanan Marfu'ad dan wak Alang, ia kembali duduk dibangkunya semula tadi. Tampaknya ia mulai tertarik akan cerita tentang pikiran wak Alang pagi itu.
"Tapi kalau menurutku, ada baiknya kalau negeri kita ni punya benda tu. Sebab walau bagaimana pun, benda ini diperlukan untuk yang berwenang agar beraksi tanpa ragu-ragu." Kata bang Jamel sekali ini tampak mulai ikut berdiskusi.
"Betul, namun begitu perlu kau ingat, bagaimana benda tu betapa mudahnya dijadikan alat oleh penguasa untuk menyelewengkan kekuasaannya." Kata wak Alang khawatir.
Sejenak mereka terdiam setelah wak Alang utarakan tentang kekhawatirannya. Marfu'ad terlihat mengerutkana dahi, bang Jamel pula menggaruk-garuk kepalanya. Mereka seperti dalam situasi rapat pengambilan keputusan yang tak menemukan jalan keluar.
"Bagaimana menciptakan kontrol dan penyeimbang ini memang sulit. Negeri kita ini belum punya formula yang cocok untuk itu," Kata Marfu'ad seperti putus asa.
"Seharusnya, kita sudah mampu punya sistem yang baik. Ya, kan? Bukan sedikit orang pintar dan ahli dalam bidang Tata Negara kita yang mampu mengulas bagaimana sebaiknya menciptakan negeri yang mahdani untuk kita ni,” Kata wak Alang.
Bang Jamel mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar pendapat wak Alang. Ia terpesona dengan cerita pagi mereka hari ini. Sampai-sampai tak sadar mereka akan kedatangan si Kudin. Si Kudin tak segera menegur mereka tapi hanya berdiri diam dari jauh mendengarkan pembicaraan mereka. Sambil mengucek-ucek matanya yang masih sayu karena baru bangun tidur ia berusaha memahami apa yang sedang wak Alang, bang Jamel dan Marfu’ad bicarakan pagi itu.
“Woi, apa cerita kalian ni?!” Teriak si Kudin, akhirnya si Kudin menegur mereka karena merasa tak juga ada yang memperdulikannya.
“Eh, kau Kudin.” Kata Marfu’ad memandang ke arah si Kudin yang sedang berdiri didepan pintu masuk kedai kopi bang Jamel.
Wak Alang dan bang Jamel pun ikut terkejut dan memandang ke arah Kudin. Kudin tersenyum senang melihat ekspresi mereka. Wajahnya yang kuyu tadi hilang berganti senyum senang. Didatanginya mereka yang sedang asyik santai duduk dikedai kopi bang Jamel itu.
“Apa cerita pagi ni, wak Alang? Serius kali kutengok dari tadi, sampai-sampai tak tau kalian aku datang,” Kata si Kudin duduk disebelah wak Alang.
“Biasalah Kudin, kalau wak Alang ceritanya selalu soal negeri. Bukan ladangnya tu yang dikhawatirkannya,” Bang Jamel yang menjawab pertanyaan si Kudin.
“Halaaaaaaah, wak! Tak usah uwak pening-pening kali, biar orang-orang hebat tu yang membahas hal-hal yang seperti itu. Kalau kita di kedai kopi ni, ceritanya yang santai-santai sajalah.” Kata si Kudin sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya.
“Kau minum apa, Kudin?” Tanya bang Jamel yang tak melupakan kewajibannya sebagai pemilik kedai kopi untuk memberi servis yang baik pada pelanggan setianya.
“Oh, iya! Aku kopi susu lah, bang. Sekalian bikinkan aku nasi goreng, bang!” Pesan Kudin pada bang Jamel.
Bang jamel bangkit dari duduknya, untuk menunaikan permintaan si Kudin. Kedai kopi bang Jamel juga menyediakan makanan-makanan berat seperti nasi goreng, mi goreng, lontong dan kue-kue basah untuk sarapan. Biasanya kak Timah yang memasak. Namun karena hari ini kak Timah belum datang, terpaksalah bang Jamel yang memasak nasi goreng untuk si Kudin itu.
“Kau Kudin. Dengan si Jamel tu, sama saja! Kalian ini pemuda, seharusnya kalian yang lebih kritis memandang masalah yang sedang terjadi hari ini, pada negeri kita tercinta ini.” Kata wak Alang pada si Kudin.
“Kalau si Kudin, wak Alang. Dia lebih peka pada masalah si Julia tercinta, gadis cantik anak pak Penghulu tu daripada keadaan negerinya.” Sahut Marfu’ad menyindir si Kudin.
“Halaaaah, Fu’ad ... Fu’ad. Macamlah kau tidak saja, ini karena didepan wak Alang-nya kau bercerita. Cubak didepan kami kalau tak ada wak Alang, ntah hapa-hapa ceritanya wak!” Si Kudin tak mau kalah membalas Marfu’ad.
“Samalah kalian itu, sebelas dua belas. Sesama ntah hapa-hapa usah berkelahi.” Kata wak Alang sambil menyeruput kopinya lagi.
“Kalian tau, kalau generasi seperti kalian ini tak mau kritis dalam berbangsa. Maka tak akan berubah-ubah sendi-sendi kehidupan kita. Begitu-gitu sajalah, jadi kapan kita ni akan berubah menjadi bangsa yang sejahtera?” Kata wak Alang lagi pada mereka.
“Bukan apa-apa, wak. Kadang-kadang pening kepalaku memikirkannya, kalau dipikir-pikir kali pun bukannya bisa berubah nasib kita ni,” Kata si Kudin sambil membakar rokok pertama yang dihisapnya pagi ini.
“Betul wak kata si Kudin tu! Bukan kita yang mempunyai kuasa langsung untuk bisa merubah keputusan yang sudah dibuat mereka-mereka tu.” Sahut bang Jamel sambil menggoreng nasi goreng.
“Ah, entahlah! Jam berapa ni, Fu’ad?” Tanya wak Alang pada Marfu’ad, satu-satunya orang yang memakai jam tangan di kedai kopi bang Jamel pagi ini.
Marfu’ad melihat jam tangannya, “Jam sembilan, wak. Kenapa rupanya, wak?”
“Jam sembilan sudah?!” Wak Alang terkejut mendengar jawaban Marfuad.
“Ke ladang lah aku, semalam kuletakkan pupuk taik lembu ditepi dekat sawahnya Paijo tu. Takutku kalau berlama-lama dibiarkan nanti habis kering jadi debu,” Kata wak Alang sambil cepat-cepat menghabiskan kopinya.
“Yah, baru saja aku duduk. Sudah nak pergi wak Alang? Tak mau bekawan nampaknya wak Alang lagi sama aku ni?” Kata si Kudin pada wak Alang.
“Bukan begitu, Kudin. Baru teringatku nasib pupuk taik lembu yang kemarin kubeli tu, takutku nanti tak bisa lagi dipakai menjadi pupuk. Bukan murah sekarang taik lembu tu segoni, biar tau kau!” Kata wak Alang menerangkan.
“Sekarang ni ... taik lembu pun mahal ya, wak?” Kata Marfu’ad.
“Harga diri sekarang yang murah. Bahkan kadang-kadang tak ada harga,” Kata wak Alang sambil mengeluarkan uang dari kantong celanannya.
Diluruskannya satu persatu uang kertasnya yang berlipat-lipat kumal, terdiri dari berbagai pecahan. Warnanya tampak belang-belang. Wak Alang tak pernah memakai dompet karena tak pernah mengantongi uang banyak. Tak pula menyimpan foto, KTP. Apalagi kartu kredit.
“Berapa semua belanjaku, Jamel?” Tanya wak Alang pada bang Jamel.
“Masih sama macam yang semalam, wak. Belum kunaikkan lagi harga kopi dan kueh tu!” Teriak bang Jamel sambil masih membuat nasi goreng pesanan si Kudin.

Usai membayar semua belanja makan dan minum sarapan pagi, wak Alang keluar dari kedai kopi bang Jamel. Didatanginya sepeda unta tua miliknya yang telah sekian lama menemaninya ke ladang. Ataupun kemana saja ia berpergian. Karatnya tak cegah sepeda tua wak Alang untuk tidak mengantarkan wak Alang menuju ladangnya.
Tinggi matahari pagi, bersinar menemani kayuhan kaki wak Alang. Duduk diatas sadel sepeda tuanya dengan wajah senyum ramah. Jalan kecil berbatu dengan aspal tipis dijalaninya menjadi rutinitas jalan menuju ke ladang kecilnya. Dalam sebuah perjuangan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Berkeringat sebelum harus berkeringat merupakan keharusan.
Wak Alang adalah sepenggal jalur cerita akan sekian banyaknya orang-orang di Kampong Srimerdu. Sebuah kampung kecil yang terletak dipesisir sebuah pulau kecil pula. Yang tak pernah riuh oleh kekurangan. Namun selalu ramai dengan keceriaan. Kearifan mereka pada lingkungan menjadikan alam sebagai sahabat. Yang hingga kini tetap menyediakan kebutuhan mereka.
Wasalam,

