Kamis, 07 April 2016

FENOMENA SONYA DAN STUDI BANDING ADAT & BUDAYA

Memang Twitter itu 'sarang'nya netizen berpandangan liberal, yang mengedepankan bagaimana kebebasan berekspresi dan mengungkapkan pikiran tanpa mau dikekang oleh aturan meskipun opini dan asumsi itu sendiri tidak juga bisa dikatakan melewati batas kepatutan. Juga bagaimana netizen memanfaatkannya untuk melawan kekuatan hegemoni media massa mainstream atau sekedar klarifikasi ke publik, fungsi lain Sosial Media dalam perkembangannya. Misalnya saat baca cuitannya akun Wilson Sitorus di Twitter, tentang mengomentari kelakuan cewek abg cantik Sonya Depari Sembiring (di media massa disebut namanya sebagai Sonya Ekarina Sembiring) yang sewaktu ditilang konvoi mobil bersama genk-nya, berani melawan dan membentak Polwan dan katanya hingga berani 'jual' Nama Besar seorang Jenderal di BNN, Irjen Arman Depari, yang kabarnya sekarang lagi hot saat ini hingga mampu menyita perhatian dan jadi sorotan netizen di Sosial Media. Hingga timbulkan pro dan kontra bahkan bully.

Wilson Sitorus punya cara sendiri dalam bahasanya membela Sonya karena ia tidak melihat, atau tidak ingin larut dalam tindakan ikut-ikutan mengeroyok menghakimi tanpa proses pengadilan (Main Hakim Sendiri Verbal) dan lantas ia bertutur mengenai 'langgam' Budaya Batak dalam kepatuhan masyarakat Batak itu sendiri akan Adat Istiadatnya, 'bela' gadis cantik abg Sonya. Menarik! Mampu membuat awak cukup sedikit tercengang, meng'iya'kan dan terhibur. Yang lebih penting lagi, awak langsung terbawa kealam pikir 'studi banding' dengan Budaya Melayu, budaya nenek moyang awak, dalam perilaku masyarakatnya. Menurut awak, ada nilai-nilai yang tidak dimiliki dalam Budaya 'Orang Kampong' awak dalam tradisinya dan membudaya, dibandingkan dengan Budaya Batak tadi, sebagaimana yang dipaparkan Wilson Sitorus, sehingga sekejap menimbulkan rasa Cemburu Budaya, Adat dan Tradisi dalam diri membandingkan dengan primordial awak.

Wilson Sitorus mengatakan dalam cuitannya di Twitter, bahwa yang dilakukan gadis abg cantik Sonya itu tidak lah salah, meskipun bersalah. Kesalahannya melanggar aturan tata tertib berlalu lintas dinilainya wajar karena juga bisa saja terjadi pada orang lain. Seperti diketahui dan sudah jadi Rahasia Umum, prilaku ugal-ugalan anak pejabat dan oknum aparat sering terjadi yang hingga menyebabkan kehilangan nyawa di jalan raya, misalnya, tanpa diberi sangsi hukum yang jelas dan sepadan. Menariknya, Wilson Sitorus mentolerir karena locus delikti, perbuatan Sonya itu, di Medan lantas menjual 'nama besar' Irjen Arman Depari dengan mengatakan bahwa itu bapaknya adalah perbuatan tidak salah. Tak ada yang salah karena Irjen Depari memang bapaknya, dalam Budaya Batak Karo, walau ia bukan bapak kandungnya. Karena semarga, sesama bermarga Sembiring. Bahkan Wilson Sitorus mengambil tarikan 'matematika' tarombo bahwa TB. Silalahi pun masih bapak dari Sonya di Sumatera Utara, sesuai locus delikti tadi. Bijak!

Lanjut dalam twittannya, ia terangkan bagaimana Sistem Budaya Batak tadi mengartikan anak, "EWP Tambunan jadi Gubsu. Seluruh pejabat teras pemprov anak-anaknya, marga Tambunan. Sudah benar itu. Waktu Raja Inal Siregar jadi gubsu, marga Tambunan digantikan marga Siregar. Ini Medan bung. Pas pelajaran dikte, biasa banget siswa angkat tangan lalu bilang ke gurunya: ulangi dulu amangboru ... "

Dari ungkapannya itu, kesan yang awak tangkap, ia ingin mengatakan bahwa ada Budaya Nepotisme dan Kolusi yang kental mentradisi dalam Budaya dan Adat Batak. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai sakral adat dalam kehidupan sehari-hari, begitu kuat. Sehingga meskipun menghadapi gerusan jaman dan terjangan budaya asing, Budaya dan Adat Batak masih bertahan. Lalu Wilson Sitorus ungkapkan prinsip, "Pernah hidup ini: kalau dia kaya dan pejabat, dia bapakmu. Kalau dia tukang becak, dia semarga" ... ini, terus terang, memunculkan Cemburu Budaya dalam pikiran awak. Melayu, khususnya Langkat, tidak punya budaya dan cara pandang seperti tadi.

"Jan terlalu heppot kalian sama Sonya Kutandai Sembiring ini. Di Medan memang begitu ... karena itulah kiwari kian jarang lapo tuak pakai plang nama bermarga. Bila semarga, boleh tak bayar. Lha bangkrut je. Lapo tuak Tondongta. Coba dia berani bikin Lapo Tuak boru Tobing, bangkrut dia." Katanya dalam poin-poin twittannya yang lain. Wilson seakan menerangkan bagaimana keakraban kekerabatan dalam masyarakat Batak itu sendiri. Hanya dengan 'modal' marga, bisa mengikat elemen masyarakat Batak itu dalam persaudaraan di komunitas besar. Sampai-sampai tidak perlu harus dilahirkan oleh satu rahim. Rasa sama kepemilikan berdasarkan kesamaan marga begitu kuat, ini mungkin dilandasi dari kentalnya Adat Batak mengharuskan masyarakatnya untuk bergotong royong. Hukum Adat mewajibkan itu dalam alur klan marga, dalam urusan apapun juga. Termasuk Kolusi dan Nepotisme soal urusan bernegara, dalam prilaku oknum. Positif, menurut awak, untuk menguatkan primordial sendiri.

Tapi dalam twittan lain, beliau juga sepertinya ingin mengkritik prilaku 'tidak menganggap' kalangan atau oknum masyarakat Batak yang tidak mau memperhatikan tradisi kerakraban masyarakat Batak tadi. Katannya, "Pejabat Batak kalau sudah soor di posisinya, ditemui susah. Pas bisa ditemui, gak mau ngomong Batak. Di pesta adat jadi Raja Parhata. Meh." ... kalimat dalam cuitan Wilsan Sitorus tadi seakan-akan kritik yang mengarah ke Irjen Arman Depari yang tidak mau patuh akan Adat Batak Karo-nya, mengakui Sonya sebagai Anak Boru-nya. Dan protes pada prilaku hipokrit oknum masyarakat adat yang ingin melupakan Budaya Ibu-nya tapi selalu diagung-agungkan dalam proses budaya. Atau, awak yang salah mencerna twittannya tadi?

Dengan logat bahasa kampungnya yang kental, Medan, Wilson Sitorus lantas menceritakan bagaimana anggapan Kaum Adat dalam keluguannya terhadap saudara-saudaranya yang sukses di perantauan. "Mak, aku habis uang, dah tak makan tiga hari| bodo kau, tb silalalahi bapakmu itu. Ke rumahnya kau ... dikata sedeket itu kali ya? Itu dulu TB Silalahi, mamak yg ngasih dia makan waktu dia sporing. Mamak yg jait celananya. Dikata semudah itu ya?" ... sepertinya Wilson Sitorus menyadari bahwa terjadi juga pergeseran pelaksanaan adat, tanggung jawab sesama saudara se-Batak, tidak lagi dipahami Kaum Muda. Mungkin, ini akibat Kaum Tua yang telah sukses 'menjadi orang' tadi juga tidak mau tunjukkan sikap tanggung jawab beradat. Akibat lebih memilih mencintai profesi. Adat hanya dipandang sebagai seremonial, dan itupun terbudaya jika Pulang Kampung.

Padahal dahulu, adat dan tradisi yang kuat tadilah yang mengangkat Masyarakat Adat Batak tadi hingga, tak bisa dinafikan, Batak adalah termasuk Suku Adat penyumbang manusia-manusia berkualitas terbesar untuk bangsa dan negara ini, RI. Disamping Jawa, Minang, Sulawesi dan Sunda.

Prilaku kuatnya menghargai primordial sendiri, akhirnya melepaskan stigma dimasa lalu bahwa Orang Batak adalah masyarakat penghuni terminal dan jalanan. Imigran-imigran Batak yang dulu mayoritas dikenal sebagai supir, apakah itu supir truk lintas propinsi, pulau ke pulau atau hanya dalam kota, atau preman-preman pasar, copet sebagaimana digambarkan dalam film Nagabonar, kini sudah beralih menjadi Batak suku yang eksklusif. Pengacara, pengusaha besar, pemilik lahan perkebunan, artis, model, photographer, pelukis, pemusik, seniman, budayawan, tentara dengan pangkat perwira tinggi hinga prajurit, Polisi, anggota dewan, diplomat, Duta Besar, staf khusus presiden, konsultan, ulama, Rohaniwan, Guru Besar, pejabat negara mulai dari tingkat Lurah hingga Menteri, birokrat, Jaksa, komisaris, direktur,  Hakim, Kaum Intelektual, hingga perantau-perantau Batak yang sukses di luar negeri, akhirnya Suku Batak punya perwakilan dalam memberikan sumbangsihnya untuk Republik Indonesia disegala lini. Tak heran, ini akibat kerja keras Masyarakat Adat dan Budaya Batak itu sendiri. Wilson Sitorus menggambarkannya ketika menjawab mention sesama Batak-nya di Twitter. Hilanglah stigma bahwa Orang Batak itu dulunya mayoritas sekedar penghuni pasar, diera kini.

Budaya menjaga Anak Boru, sangat kuat dalam Budaya Batak. Hingga terkesan sulit membuang kebiasaan Nepotisme dan Kolusi dikalangan Masyarakat Adat Batak. Ini dikatakan sendiri oleh Wilson Sitorus dalam twittannya lanjut. "Jan kau buka disini!" menjawab mention dalam salah satu twittnya ketika ada yang berargumen: "Gimana cerita rektor yang marga Lubis itu. Bukan hanya pembantu rektor, sampai OB pun Lubis. Katanya." ... lain lagi dalam banyak twittannya, Wilson Sitorus seakan-akan membuka rahasia yang sudah menjadi Rahasia Umum itu, "Kalian masih ingat Mayjen August Marpaung? Beliau pernah jadi kepala BAKN (Batak Anak Kesayangan Negara). Lancar semua. Untuk Batak tapi ... " kemudian ia bertestimoni akan khasiat marga dalam pertalian persaudaraan di Adat Batak, katanya, "Tak pernah saya dapat nilai 5 untuk fisika. Pintar? Kagak? Gurunya semarga sama ibu saya. Berani dia membantah? Durhaka.", apa yang bisa awak komentari selain kata; mantap! Dalam kutipan dan bahasan awak tentang pendapat Wilson Sitorus tadi, awak kutip lagi twittan beliau dalam mengartikan kata 'anak' dalam Budaya dan Adat Batak, "Nadia Hutagalung itu anak dari Pak Humprey Hutagalung. Hati-hati dgn pengertian kata anak di situ." ... ini semakin menjelaskan kenapa ia menganggap Sonya gadis abg cantik itu layak 'jual' Nama Besar Irjen Arman Depari sebagai bapaknya. "Palingan juga bapaknya si Sonya bilang ke Arman: poso dope anakhonmon, sai ajari-ajari. Selese." ... jadi mengapa harus ada perbuatan membully Sonya? Tidak paham adat! Prilaku masyarakat sekarang yang seakan sudah tak lagi memperhatikan keterikatan pada rambu-rambu hukum formal, diperburuk dengan tak mau mengakui norma. Adat dilanggar. Nilai-nilai agama apalagi, alergi. Cukup pada level ibadah tanpa mau mengaplikasikan hukum-hukum Tuhan dalam pedoman hidup. Akhirnya ketidak pahaman itu menghasilkan 'nyinyir'isme tanpa landasan dan dasar! Twittan Wilson Sitorus terakhir ini mungkin bisa jadi bahan renungan masyarakat nusantara yang katanya Orang Timur tapi lossing ketimurannya, "Marga itu sistem kekerabatan. Yg krn sistem itulah kami bisa diantar ke kuburan. Tanpa sistem itu, penguburan kacau-balau."

Analisa awak, dalam men-'studi banding'-kan Budaya Batak dengan masyarakatnya yang kuat menjaga nilai-nilai primordial, Puak Melayu lemah akan hal tersebut. Tak heran jika Melayu kian hari kian tersudut, bahkan di kampung halamannya sendiri. Tak punya percaya diri dan tak punya rasa memiliki. Bahkan di kampung halamannya sendiri. Melayu Langkat dan puaknya tidak seperti Orang Batak yang berani menjalankan sistem adat hingga pada tahap apapun juga, termasuk tidak takut melakukan Nepotisme dan Kolusi, yang positif. Lihat saja masyarakat Langkat di kampung halamannya, apakah itu Kabupaten atau Kota, Melayu Langkat minoritas dalam struktur apapun juga di lembaga/institusi. Kebiasaan 'jahat' Puak Melayu, tidak percaya dengan kemampuan puak-puaknya sendiri! Selalu menganggap remeh dan ada rasa takut tak beralasan dalam diri. Melayu menganggap bodoh setiap Melayu yang lain. Tidak punya kapasitas dan kredibilitas sekalipun untuk dibantu dalam bakatnya. Sehingga Masyarakat Adat dan Budaya Melayu yang pernah jaya itu kini menjadi penghuni pemukiman Kelas Kumuh. Budaya santun berganti menjadi tabiat Manusia Pasaran dalam pergaulannya. Masyarakat Puak Emperan. Jika ada elit, maka tak jauh-jauh dari sikap menjaga jarak. Dan hidup dalam kejayaan sendiri, lebih suka memilih aliansi-aliansi dari luar Melayu tapi tetap ingin dianggap besar dalam Masyarakat Adat Melayu itu sendiri.

Beda dengan kentalnya semangat menjaga primordial Suku Batak, bahkan juga Minang, Jawa, Sulawesi dan Sunda, Melayu Langkat cenderung memakai prinsip Saling Pijak, dendam kesumat dan tak mau ada yang lebih tinggi darinya --- dalam tradisi tak termufakat tapi terprinsip. Sehingga tidak ada rasa keterikatan untuk ingin mengangkat harkat dan martabat sesama puak itu sendiri. Awak pengalaman, hampir pernah lima tahun berharap untuk diselamatkan oleh prilaku seperti Budaya Batak, 'Amang Boru ke Anak Boru', tapi hanya sia-sia. Padahal, didepan hidung awak, Orang Batak yang semula sederajat merantau dari kampungnya dengan awak (sama-sama mengadu nasib) hanya dalam tempo singkat sudah mendapatkan tujuannya. dengan mudahnya menempati posisi profesi tanpa atau bersama uji kemampuan hanya karena bertemu dan dibantu oleh Amang Boru atau menekankan pada kekuatan marga tadi. Akhirnya, Orang Batak lebih banyak menempati posisi-posisi profesi daripada Puak Melayu, di kampung halamannya sendiri. Dan itu sah! Dalam kompetisinya, sportif menurut awak. Yang semula prediksi awak bahwa Orang Batak itu tidak punya kemampuan dalam profesi itu, akibat ada bantuan peluang dari Amang Boru-nya, diikuti dengan kesungguh-sungguhan, ketekunan dan kerja keras ... akhirnya ia menjadi ahli dalam bidangnya. Kata koentjinnya: ia mau sungguh-sungguh, pengalaman (learning by doing) menjadi guru yang paling efektif. Nepotisme dan Kolusi, jika diikuti dengan seleksi berdasarkan kepintaran 'Amang Boru' dalam menilai dan membimbing, tentu tidak salah! Dan positif. Toh, dalam agama sekalipun ... menekankan mengutamakan saudara dulu kepentingannya, sepanjang diikuti seleksi. Sayang, 'Amang Boru' Puak Melayu awak itu tidak menyadarinya. Semangat ke-Melayu-annya sudah melayu (lari, artian dalam bahasa Jawa)!

Jika sudah demikian, apa yang menjadi pengikat nilai-nilai gotong royong dalam Puak Melayu itu? Tidak ada! Selain keterikatan seremonial kombur-kombur belaka! Tidak seperti dalam Masyarakat Adat Batak, Anak Boru selalu punya Hutang Budi pada Amang Boru untuk menyelamatkan Anak-Anak Boru-nya nanti, dalam upaya maksimal dan dalam kapasitas kemapuannya. Puak Melayu, cukuplah pada tahap jadi penonton yang budiman dari luar arena. Lihat! Bagaimana Sonya mendapat pembelaan dari Amang Boru-nya, atau sekedar Lae, dari Wilson Sitorus. Bahkan Jonru pun, sesama Orang Karo, angkat bicara mengkounter serangan kecaman publik pada Sonya. Bagaimana mengangkat Kearifan Lokal, masalah Sonya 'jual' Nama Besar Irjen Arman Depari akan duduk dilevel Kompromi Adat. Amazing!

Ini tidak terjalani oleh Masyarakat Adat Melayu Langkat karena tidak adanya sistem yang dimana Adat itu sendiri tidak dibangun dari level bawah keatas. Perhatikan bagaimana kuatnya pelaksanaan adat dalam masyarakat Minang. Mengangkat seorang Datuk, Tokoh Adat, suatu negeri harus bermufakat dan benar-benar bagaimana masyarakat diikutkan dalam seleksi. Ada kewajiban, bagaimana suksesi pelantikan Pemangku Adat itu menjadi beban rakyat dalam Nagari itu. Harta Pusako benar-benar dijaga dan diserahkan kepada yang berhak. Dipertanggung jawabkan. Kemudian dikelola hinga Harta Pusako itu sendiri yang menjadi dana dalam melantik Datuk Pemangku Adat. Jadi, bukan berdasarkan dari surat atau stempel lembaga adat yang tak punya rakyat. Begitupun dalam Masyarakat Adat Bugis, Sunda, apalagi Jawa. Bahkan masyarakat Jawa yang sudah tidak lagi mengenal pertalian persaudaraanya, terlahir dan besar di Sumatera Utara, mampu membuat komunitas dan menciptakan Adat dan Kebudayaan sendiri. Kebiasaan gotong royong, dalam hal apapun, akhirnya melepaskan stigma bahwa Jawa di Sumatera Utara itu adalah Kaum Jawa Kontrak atau Jakon. Yang dulu dibawa oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai Koeli Kontrak di banyak lahan-lahan perkebunan sewa milik Meener Belanda.

Suku Jawa Kontrak itu bekerja keras paska kemerdekaan RI, bersandingan bahu membahu keluar dari perbudakan manusia yang dilakukan Pemerintah Hindia Belanda. Yang semula tidak dianggap, termasuk oleh bangsanya sendiri di Jawa karena mereka sebagian besar diambil dari kalangan Kaum Miskin dari Tanah Jawa, berlahan-lahan dengan semangat gotong royong mampu melepaskan diri dari ketidak-punyaan. Jakon-Jakon itu kini adalah masyarakat beradab dan terhormat dan mampu masuk dan berkuasa dalam jaringan kekuasaan pemerintahan, meninggalkan masyarakat asli yang dulu kian jayanya. Ini sama dan persis dalam perjuangannya memakai azas yang dipakai oleh Suku Batak, saling membantu dan mengutamakan Kaum Sendiri --- sekalipun dengan semangat Kolusi dan Nepotisme --- menjadi dasar prinsip. Organisasi-organisasi atau melalui menghidupkan gerakan informal dalam membudayakan mengutamakan dan membantu kaum sendiri terus diupayakan.

Tidak heran jika hari ini ada fenomena Orang Kampong, Melayu Pribumi, di Langkat kesulitan untuk menjadi pemimpin atau Kepala Daerah di daerahnya sendiri. Jika tidak mampu bermanuver politik yang mumpuni, berafiliasi dengan suku-suku lain maka tak akan mungkin, pernah! Hitung sendiri, seberapa banyak ada Tokoh Melayu Langkat mampu menang dalam pemilukada? Berat! Bahkan diwilayah basis Masyarakat Adat Melayu Langkat sendiri, suara yang semula diprediksi menang mutlak bisa saja meleset. Akibat apa? Tidak ada ikatan moral! Tidak ada beban yang mewajibkan Masyarakat Melayu Langkat itu merasa Hutang Budi pada 'Amang Boru'-nya. Atau merasa ... "Oh dia itu anak amang boruku!" Selayaknya yang dimiliki dalam semangat Orang Batak. Kita, Masyarakat Adat Melayu Langkat, bersosialisasi kosong! Tahu pentingnya kebutuhan bersosial tapi cukup sampai pada sekedar tahu saja tanpa ada pelaksanaan memghidupkan adat itu sendiri. Bahkan mungkin, bisa awak katakan, tidak mengerti dan punya yang namanya tradisi dalam beradat.

Kembali ke persoalan twittan Wilson Sitorus tadi diatas, beruntung Sonya memiliki Saudara Seadat yang siap pasang badan membelanya. Awak tak yakin hal yang sama akan dialami oleh gadis abg lain yang datang dari Puak Melayu jika mengalami hal demikian, ada pembelaan dari puaknya yang lain. Meskipun dilakukan dalam wilayah locus deliktinya. Maka terpaksa menelan bulat-bulat pil pahit hujatan bully dan penghakiman verbal pada dirinya. Puak Melayu tidak punya saudara semarga, tidak punya Amang Boru yang mumpuni, tidak punya lae-lae ... Puak Melayu Langkat adalah perantau, bukan di Tanah Rantau tapi di kampungnya sendiri!

Salam pak Belalang ... merdeka!!!