Akisah pada suatu hari,
Tidak seperti biasanya wak Alang
pagi ini sudah terlihat rapi. Ia tidak pergi ke kebunnya. Hari ini wak Alang
mau pergi ke pasar dengan sepeda tuanya untuk membeli kopiah baru. Kopiah
lamanya sudah terlihat buruk dan lipu. Jadi, ia berpikir untuk membeli kopiah yang
baru.
“Hei ... kau, Atan! Mau ke pasar aku.”
“Buat apa ke pasar, wak?”
“Rencanaku nak membeli kopiah baru!” Jawab wak Alang sambil perlahan
mendorong sepeda tuanya, keluar dari kolong rumah tinggi wak Alang.
“Iyalah, cocok lah sudah diganti kopiah uwak tu! Dah burok kali kutengok,
tak macam kopiah lagi bentuknya.
“Nak ikut kau, Atan?” Ajak wak Alang.
“Kalau tak ada janjiku sama si Jambek tu, mau memancing ke muara kami siang
ni. Endak juga aku ikut, wak!” Jawab Atan menolak ajakan wak Alang.
Hari terlihat begitu cerah pagi itu. Matahari bersinar tampak tersenyum
ceria. Langit pula membiru menghias bumi Kampong Srimerdu. Bersama siulan
burung-burung pagi, wak Alang mengayuh sepeda tuanya pelan namun pasti. Pasar
yang tak jauh dari tempat tinggalnya wak Alang adalah tujuan.
Sepanjang jalan tak henti-henti sapa ramah orang-orang pada wak Alang.
Maklum ia cukup dikenal di Kampong Srimerdu. Sepak terjangnya dalam
bersosialisasi dengan rakyat Kampong Srimerdu tak bisa dianggap enteng. Wak alang
orang yang suka bergaul dimana, kapan dan pada siapa saja tanpa pandang bulu.
“Assalamualaikom, wak Alang!” Salam si Mat Botak dari tepi jalan di
persimpangan jalan.
“Wa alaikom salam!” Jawab wak Alang memandang sambil tersenyum pada Mat Botak.
“Mau kemana, wak?”
“Ke pasar!” Jawab wak Alang singkat sambil terus mengayuh pelan sepeda
tuanya.
“Wak, singgahlah dulu! Apa hal pagi-pagi dah nak ke pasar ni?” Tanya Mat
Botak mengharap wak Alang singgah.
Wak Alang menghentikan sepeda tuanya, berbalik arah ia ke tempat Mat Botak
berdiri. Merasa tak terlalu terburu-buru, wak Alang menyinggahi Mat Botak untuk
sekedar bersapa. Terkadang kesempatan seperti itu mendatangkan rejeki pada wak
Alang. Manakan tahu ada kabar tentang kerja sampingan untuknya, pikirnya.
“Rencananya, nak membeli kopiah baru aku, Mat. Tak kau lihat dah buroknya
kopiahku ni,” Kata wak Alang memberitahukan niatnya ke kota pagi itu.
“Ooooo, iyalah!”
“Apa cerita harini? Ada job tidak?” Tanya wak Alang. Wak Alang sebagai petani tradisional, terkadang harus mencari-cari kerja
serabutan.
Maklum, hasil kebun jagungnya tak dapat diharapkan untuk menutupi
kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dari pergaulanlah terkadang pembuka jalan pintu
rejekinya. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau iya pun. Buat apa cepat-cepat kali ke pasar tu, wak? Belum lagi buka
toko si Mehmed Jaber tu jam segini! Duduk di kedai kopi Jamel tu dulu lah kita,
becakap-cakap sebentar. Nanti jam sembilan, baru uwak lanjut ke kota.” Ajak Mat
Botak.
“Becakap-cakap saja tak minum kopi, malaslah aku. Karang bebuih tepi muncung bibirku ni!” Tolak wak Alang.
“Tidaklah becakap saja, minum kopi kita.” Kata Mat Botak.
“Kau yang bayar kopi ya, duitku lagi tak ada ni!”
“Gampang tu, ada job sikit untuk wak Alang ni. Kalau wak Alang mau,” Tawar Mat
Botak pada wak Alang.
“Inilah yang sedap. Kalau ada job, kenapa pulak aku tak mau?” Jawab wak
Alang senang mendengar tawaran Mat Botak.
Tak menunggu lama, sudah duduk mereka didalam kedai kopi bang Jamel. Dua
gelas kecil kopi dan beraneka jenis kue dalam piring terhidang. Kedai kopi bang
Jamel seperti biasanya ramai dengan pelanggan. Gaduh canda cerita penghuni
Kampong Srimerdu terdengar ramai.
“Apa job yang kau tawari tadi?” Tanya wak Alang sambil menghembus-hembus
kopinya.
“Wak Alang kan tau, ini tahun-tahun dah mau dekat nak Pilkada di daerah kita. Aku
kebetulan dapat job jadi Tim Sukses salah satu calon. Yaitu memasang spanduk,
menempel kertas, membagi-bagi kartu nama dan kalender. Kalau wak Alang mau,
kubagi sikit job ni untuk wak Alang.” Mat Botak menawarkan pada wak Alang.
Mat Botak memang aktivis partai kelas akar rumput kesohor di Kampong
Srimerdu. Untuk kelas desa seperti Kampong Srimerdu, Mat Botak tak diragukan
lagi kalau soal menggalang masa. Ia selalu laris untuk diajak menjadi Tim
Sukses kelas akar rumput. Meskipun tak jarang calon yang diusungnya selalu kalah
ditiap-tiap Pemilu.
“Pasang spanduk?!”
“Pasang spanduk?!”
“Iya, wak! Ada lima puluh buah di rumah tu. Wak Alang kukasi lima spanduk,
terus wak Alang pasanglah di tempat-tempat yang strategis.”
“Berapa upahnya?”
“Satu spanduk, sepuluh ribu! Ini harga khusus untuk wak Alang, jangan bilang-bilang yang lain.”
“Mak jang! Besar tu, maulah aku.” Kata wak Alang senang.
“Nanti sore kuantarkan, tapi jangan lupa uwak. Pas pemilu nanti coblos
gambar beliau tu.”
“Iyalah.” Kata wak Alang senang.
“Ha, untuk sementara ini ada kalender sama kartu nama dari pasangan calon gebernur kita
nanti! Jangan lupa dipasang didinding rumah wak Alang tu. Wak Alang dengung-dengungkan juga pada yang lain,” Kata Mat Botak
memberikan sebuah kalender bergambar pasangan yang dibelanya di Pemilu kali
ini.
“Kalau soal dengung mendengunkan, emak-emak yang rajin begunjing di kedai
lah kau tawari! Kujamin, tak sampai seminggu, sudah bedengung kuping beliau tu
karena disebut-sebut orang.” Usul wak Alang.
“Cocok, ada wak Alang kenal emak-emak tukang begunjing di kedai?”
“Tak ada! Kau tanyalah sama binimu,”
“Haaaaaa, pas lah itu! kan, cocok. Daripada begunjing sia-sia tak dapat
apa-apa, bagus kau angkat binimu jadi ketua tim gunjing sekali ini!”
“Betul, wak! Tak sia-sia aku cerita-cerita sama wak Alang ni. Dapatku ide
briliun ... eh, brilian maksudku!” Kata Mat Botak senang bukan main.
“Mat botak,”
“Apa, wak Alang?”
“Tidak merokok kita ni? Asam mulutku,”
“Oh iya, lupa aku wak! Jamel, kau kasi rokok wak Alang ni sebungkus dulu!
Aku yang bayar,” Kata Mat Botak pada bang Jamel yang sedang sibuk melayani
pelanggannya.
“Ok bang Mat Botak! Segara datang, apa nama rokok wak Alang tu?” Sahut bang Jamel segera mengambilkan
rokok untuk wak Alang dari stelling kayunya.
"Rokokku yang Cap Kuda Kencing Bediri tu, Jamel!" Kata wak Alang memberitahu merek rokok kesayangannya.
"Waduh, habis wak! Kalau yang Cap A Tungang Langgang mau wak Alang?"
"Jadilah, daripada tak ada," Jawab wak Alang pasrah.
Cerita punya cerita, hampir setengah hari juga wak Alang dan Mat Botak
bercerita di kedai kopi bang Jamel hari itu. Suara adzan Dzuhur yang akhirnya membubar
mereka siang itu. Usai berjamaah di Masjid kampung yang tak jauh dari kedai kopi bang Jamel, wak Alang dan Mat
Botak pun berpisah dengan jalan sendiri-sendiri.
Sakin senangnya, wak Alang lupa dan tak jadi ke Pasar. Ia pun langsung pulang ke rumah
selesai dari sholat Dzuhur di Masjid tadi. Di tempelkannya ke dinding kalender
pemberian Mat Botak padanya tadi. Lalu ia duduk memandangi selembar kalender
pasangan calon peserta Pilkada Incumbent dikalender itu.
“Gagah memang orang yang bakal maju jadi gebernur ni, macam Roy Marten
kawan ni! Kalau wakilnya, macam Ongky Alexander kutengok.” Kata wak sambil
menghisap rokok Cap A Tunggang Langgang pemberian Mat Botak tadi.
“Assalamualaikom!” Tiba-tiba ada suara memberi salam dari bawah depan
serambi rumah wak Alang. “Wa alaikom salam! Siapa tu?!” Tanya wak Alang dari ruang depan rumahnya.
“Aku wak, Biden Sampan!” Jawab Biden Sampan dari depan tangga serambi depan rumah wak Alang.
“Oooo, kau Biden! Ha, naiklah!” Kata wak Alang menyuruh Biden Sampan untuk
naik ke rumah panggungnya itu.
Biden Sampan tetangga wak Alang. Ia pun naik keatas rumah tinggi wak Alang,
setelah wak Alang menyuruhnya naik. Ditangannya ia membawa bungkusan kantong plastik
besar berwarna hitam. Lalu dengan senyum khasnya, Biden Sampan duduk disebelah
wak Alang yang masih duduk menghadap kalender dari Mat Botak tadi.
“Siapa tu, wak?” Tanya Biden Sampan pada wak Alang sambil memuncungkan
bibirnya kearah kalender salah satu pasangan calon Gubernur yang diusung partainya Mat Botak.
“Entah, akupun tak tau! Baru sekali ni aku melihat mukanya, kata Mat Botak
bakal calon Gebernur kita. Kabarnya, hebat beliau ni!” Kata wak Alang.
“Dari Mat Botak lah, dari mana lagi?”
“Hebat apanya, wak?”
“Entah, kata si Mat Botak hebat. Ya, hebat lah kubilang!”
“Wak, lepaskan saja kalender tu. Tak usah wak Alang pasang di rumah uwak ni!
Buat sarang nyamuk saja,” Kata Biden Sampan pada wak Alang tak senang melihat
gambar dikalender itu.
“Kenapa pulak begitu?” Tanya wak Alang heran.
“Ini, wak Alang liat betul-betul! Ini baru pantas sebagai calon pemimpin
gebernur kita. Kalau yang ini, wak Alang pasti kenal. Tidak macam kawan tu.”
Kata Biden Sampan menunjukkan kalender dari kantong pelastik bawaannya.
“Siapa ni, Biden?” Tanya wak Alang sambil menyipitkan matanya memandangi
gambar dua orang didalam kalender yang diberi Biden Sampan.
“Yah, tak tau wak Alang? Beliau ni lah tokoh politik nomor satu di daerah
kita ni. Banyak yang sudah dibuatnya untuk kita, wak! Tak nyesal kalau wak Alang mendukungnya.”
Ternyata isi dalam kantong plastik hitam berukuran paling besar yang dibawa Biden itu
kalender juga. Biden Sampan memang aktivis kelas akar rumput juga, dari partai
lain. Sepak terjangnya dalam merebut hati rakyat tak kalah hebatnya dibanding
Mat Botak. Mereka berdua memang selalu bersaing jika jumpa dimasa-masa kampanye
seperti ini.
“Beliau ini kan, juga pemimpin di
daerah sebelah sana tu! Dekat dengan sungai yang sering tegenang kalau musim
hujan tu.” Kata Biden Sampan semangat menerangkan.
“Ooooo, yang itu! Yang rakyatnya banyak nelayan miskin tak terurus tu? Tapi apa yang sudah dibuatnya untuk kita ni rupanya, Biden?”
“Macam-macam lah, wak. Termasuk jalan tu!”
“Jalan, jalan yang itu? Yang baru siap proyeknya semalam, harini dah rusak tu? Yang setiap tahun ditambal karena rusak tu?”
“Wak ada cecak besar kali lewat! Tu haaaaaaaaaaaaa,” Kata Biden Sampan
mengalihkan pertanyaan wak Alang.
“Kalau tak ada kalender yang kau bawa ni. Mungkin tak tau aku yang mana
muka orangnya ni, Biden!” Kata wak Alang memandangi lagi kalender yang dibawa
Biden Sampan.
“Ha, sekarang wak Alang kan dah kenal!”
“Tapi yang di gambar tu tak kalah hebatnya juga. Wakil kita dipusat,
katanya. Walaupun tak pernah aku merasa terwakili, sor juga aku liat tampangnya
tu.” Kata wak Alang.
“Wak Alang. Bantu aku membela kawan ni, wak! Nanti wak Alang kubagi job, lumayan besar duitnya wak.” Kata Biden Sampan membujuk wak Alang.
“Job apa?” Tanya wak Alang.
“Biasalah, pasang spanduk. Satu lembar bayarannya lapan ribu!”
“Delapan ribu? Mat Botak menawarkan aku memasang spanduk juga, tapi sepuluh
ribu.” Kata wak Alang.
“Iya? Sepuluh ribu katanya? Sepuluh ribu pun jadi, asal wak Alang ikut
aku! Tapi jangan sama siapa-siapa, ini harga khusus untuk wak Alang.” Kata Biden Sampan.
“Haaaa, itu baru cocok. Jadi! Tenang kau, kalau wak Alang jaga rahasia ... biar pecah diperut asal jangan pecah dimulut!” Kata wak Alang senang.
Bagaimanakan hati wak Alang tak senang, ia dapat dua job langsung hari ini. Bagi wak Alang uang segitu belum tentu didapatnya dihari-hari lain. Memang fenomena pesta demokrasi tiap-tiap lima tahun sekali itu mendatangkan berkah, pikir wak Alang.
“Kalau saja orang-orang ni dahulunya mau betul-betul berprestasi, kerja
buat gebrakan baru betul-betul dirasakan rakyat kecil macam aku ni. Mau terjun
ke lapangan, tentu tak perlu buang-buang uang membuat segala macam tetek bengek
alat untuk sosialisasinya ni, Biden!” Kata wak Alang berpendapat panjang lebar
berkomentar.
“Biar sajalah, wak. Kan ada untungnya juga untuk kita, bisa kita dapat job
kecil-kecilan.” Kata Biden Sampan.
“Iyolah, bawa kemari spanduk tu. Nanti malam kupasang. Sekalian uangnya,
mau beli kopiah baru aku besok!”
“Tapi wak, jangan lupa uwak. Pasang ditempat-tempat yang paling strategis,
tempat yang orang pasti melihatnya. Supaya teringat-ingat orang pada beliau
tu.” Kata Biden pada wak Alang.
“Kalau itu, usah kau ajari aku! Aku tau tempat paling strategis di dunia
ni. Paling tidak, sekali dalam sehari orang pasti memandangnya penuh konsentrasi
dan harus!” Kata wak Alang meyakinkan Biden Sampan.
Selesai deal mereka siang itu, Biden Sampan pun pulang. Setelah memberikan
lima lembar spanduk pada wak Alang. Disore harinya, Mat Botak pula datang
menyerahkan lima lembar spanduk pada wak Alang.
Tak hanya Mat Botak dan Biden Sampan yang memberikan job memasang spanduk pada wak Alang.
Udin Kura-kura, Iwan Cebong dan Husin Ketam juga mendatangi wak Alang. Tak
ubahnya Mat Botak dan Biden Sampan, mereka juga meminta wak Alang memasang spanduk
calon gubernur mereka masing-masing.
Mat Botak dan Iwan Cebong sebenarnya jika tidak dimusim Pemilu begini,
bekerja di kebun seperti wak Alang. Ada juga yang sebagai nelayan seperti Biden
Sampan, Udin kura-kura dan Husin Ketam. Tapi karena penghasilan yang tak seberapa
dari profesi sebenarnya, maka mereka melakoni pekerjaan musiman lainnya.
“Alhamdulillah. Satu hari ini, dapatku dua ratus lima puluh ribu. Besok, bisa
aku membeli kopiah kelas atas. Yang mirip kopiah Orang Kaya Tungir tu,” Kata
wak Alang sambil menghitung uang yang didapatnya dari masing-masing TS kelas
Akar Rumput, dari berbagai pasangan calon Guberbur yang mau berlaga di Pemilu
kali ini di daerah wak Alang.
Sambil mengipas-ngipas uang yang didapatnya hari ini. Ia memandangi lima
lembar kalender besar yang lengket di dinding papan rumah wak Alang. Tersenyum
lebar ia menatap wajah-wajah didalam gambar itu.
“Gagah kali kalian kutengok, macam-macam akrab aku sama kalian ni! Rasanya
macam-macam dah kenal dua puluh tahun yang lalu aku sama kalian ni. Makanya
hapal kali aku sama tabiat kalian. kalau tak karena ajang lima tahun sekali ni,
tak akan kudapat kopiah baru dari kalian.” Kata wak Alang menggeleng-gelengkan kepalanya bicara sendiri pada gambar dikalender itu.
Keesokan pagi, seperti pagi semalam. Wak Alang sudah siap-siap dan tampak
rapi untuk pergi ke pasar. Ia berniat kembali pergi ke pasar untuk membeli
kopiahnya yang tertunda semalam. Begitu keluar dari halaman rumah ia sudah
bertemu dengan Mat Botak, Biden Sampan, Udin Kura-Kura, Iwan Cebong dan Husin Ketam yang sedang menuju rumahnya.
“Cemana wak? Sudah uwak pasang spanduk tu?” Tanya Mat Botak sambil melirik
sinis pada yang lain.
“Sudah, tadi malam aku pasang. Tenang saja kau,” Jawab wak Alang dari
sepeda tuanya.
“Punyaku, wak?” Tanya Udin Kura-Kura pula dari sepeda motornya.
“Sudah! Semua spanduk yang kalian kasi sama aku tu, sudah kupasang,” Jawab
wak Alang lagi.
“Ditempat strategis kan, wak?” Kali ini Udin Ketam yang bertanya.
“Dijamin sangat strategis! Paling tidak, sekali sehari orang akan melihatnya
dengan tatapan tak bisa ke tempat lain. Penuh fokus!” Kata wak Alang lagi.
Mendengar jawaban wak Alang, kelima TS kelas akar rumput itu merasa lega.
Setelah saling bertatapan sinis, mereka saling membuang pandangan. Biasalah
kalau orang lagi bersaing saling bertemu. Lalu bubar meraka pergi ke tempat
tujuan masing-masing dengan sepeda motor mereka. Tak lain tak bukan, kedai kopi
bang Jamel.
Setelah para TS kelas akar rumput itu bubar, Wak Alang pun sambil mendayung
sepedanya berlahan namun pasti melanjutkan perjalanannya ke pasar. Ia ingin
menunaikan niatnya untuk membeli kopiah barunya yang tertunda semalam. Sinar
mentari dan kicauan burung menemani kayuhan sepedanya.
Ditelusurinya jalan
kecil di kampung mereka, Kampong Srimerdu. Senyum lebar menghias wajah. Langit biru yang menghias Kampong Srimerdu
tanda keramahan alam. Wak Alang adalah sepenggal cerita dari sekian banyak
masyarakat di Kampong Sriumerdu. Yang tak pernah riuh oleh kekurangan. Namun
selalu riang dengan segala kecukupan, berkecukupan pada apa yang disediakan alam untuk mereka.
Wasalam,



