Jumat, 28 November 2014

RAYUAN PULAU KAPUK






Sudah dua hari ini aku tidak ke kedai kopi bang Jamel. Itu kulalukan sengaja. Hampir tiap-tiap hari membuang-buang waktu berkumpul bersama-sama dengan warga di kampungku di kedai kopi bang Jamel, selain di Masjid tempat wajib rakyat di kampung Srimerdu bersosialisasi, terkadang membuatku jenuh juga. Mungkin naluri manusia, ada kalanya suatu saat ingin hati memuaskan insting untuk berpetualang. Jika tidak pun sampai mampu memacu adrenalin, paling tidak “cuci mata”lah istilah bahasa di kampung kami.
                
Sore sewaktu termenung sendiri ditangga belakang rumah tinggiku, usai mengampak membelah kayu untuk kayu bakar keperluan memasak ibuku, aku tiba-tiba saja berhasrat ingin mengunjungi kerabatku Si Gondek. Ia masih sepupu jauhku dari ibuku. Tidak tinggal sekampung denganku, Si Gondek sudah dua tahun ini tinggal di Pulau Kampai. Hijrah ke Pulau Kampai ia pilih karena tunaikan hasrat hatinya dulu mencari setitik rejeki sebagai nelayan tradisional yang sukses. Memang tahun-tahun bekalangan ini ikan-ikan di muara tempat kami tinggal tidaklah menjanjikan lagi.

“Mak, awak ke Pulau Kampai lah esok ya, mak!” Aku nyeletuk begitu saja pada ibuku yang sedang sibuk menjemur kerupuk mentah yang baru dibelinya tadi pagi di pasar pekan kampung kami.

“Eh, ngapain pulak kau kesana?” Tanya ibuku, keningnya berkerut.

“Ketempat si Gondek awak, mak. Dah lama awak tak jumpa dia.”

“Halah! Kalau dah jaoh, rindu-rinduan kalian. Cubak dah dekat, macam kucing sama tikus kuliat!” Kata ibuku.

Aku tak mudah menyerah dengan komentar ibuku yang tak setuju untuk aku pergi ke Pulau Kampai mengunjungi Si Gondek, biasanya beliau akan luluh juga hatinya apabila kubujuk. Ibuku itu memang sedikit keras padaku. Bisa kumaklumi karena aku merasa ibuku khawatir padaku. Yah, begitulah insting seorang ibu pada anaknya. Bisa dikata, semacam bentuk ekspresi yang ditunjukkannya sebagai bentuk dari kasih sayang.

“Awak suntok kali, mak.” Aku curhat.

“Apa pulak yang kau suntokkan, Kulok? Bukannya ada kerjamu di kampong ni. Macam si Burhan pulak kau jadinya. Kalau dia wajarlah. Tiap hari harus ke kantor desa karena Sekdes dia. Kalau kau?” Ibuku itu memang tak suka kalau aku mengatakan diri sedang suntuk karena tak ada alasan untuk seseorang harus suntuk di dunia ini, menurutnya.

“Itulah, mak. Awak pikir, kalau sampailah awak ke Pulau Kampai nanti ... kalau nampak awak bagus rejekinya si Gondek, bolehlah awak ikut dia kerja, mak. Mana tau, sudah jadi pengusaha belacan dia disana, mak. Ha!” Kuceritakan hasrat maksud hatiku pada ibuku itu.

Kupikir, tak ada salahnya lah jika setahun atau dua tahun ini, aku absen dari kedai kopi bang Jamel. Mencoba mengadu nasib akan hal-hal baru diluar sana. Paling tidak nanti, ada sedikit bahan cerita atau pengetahuan yang dapat kutimba yang bisa kuceritakan berbagi di kedai kopi bang Jamel jika suatu saat aku kembali. Terus terang, di hari raya lalu, saat si Gondek pulang kampung dan banyak bercerita tentang pengalamannya selama diperantauan di Pulau Kampai, sedikit membuatku cemburu.

Dulu, waktu masa kecil kami, si Gondek selalu kalah dariku tentang apa saja.  Setiap permainan apapun yang kami mainkan di kampung kami, mulai dari Alep-Alep Berondok, Injit-Injit Semut, Lompat Tali sampai Sambar Elang semua kusapu bersih. Selalu menang darinya. Tapi ketika Hari Raya yang lalu, saat si Gondek berkisah bagaimana ia merintis usahanya di Pulau Kampai sebagai nelayan udang kecepai sampai sekarang punya sampan sendiri, membuat aku jadi rendah diri darinya. Meskipun si Gondek tidak sama sekali mencibirku tapi entah kenapa, aku merasa tersinggung sendiri dengan segala ceritanya. Apalagi ketika itu, wak Lebai dan tok Kisut terkagum-kagum dengan pengetahuannya memahami tehnik cara mengangkap udang kecepai. Yang dimana rata-rata kami warga di kampung Srimerdu ini tak memahaminya.

“Ya, mak?” Bujukku lagi pada ibuku.

“Apa kau, Kulok?!” Ibuku kesal dengan rengekanku.

“Ketempat si Gondek awak.”               

“Aku terserah kau sajalah! Cumak kutanyak dulu kau, Kulok? Tahan tidak kau merantau? Takutku, tak sampai sehari kau disana ... sudah tecendul balik batang hidungmu di rumah ni lagi?!” Tanya ibuku memastikan seberapa teguhnya keinginan hatiku pergi merantau ke Pulau Kampai itu.

“Kan tak ada salahnya awak coba dulu, mak. Kalau tak tahan awak ... ya pulang lah awak. Namanya juga usaha.” Jawabku.

“Suka hatimu lah!”

Alhamdulillah, pikirku. Kata-kata “Suka hatimu lah” yang keluar dari bibir ibuku itu, tandanya beliau setengah hati mengabulkan permintaanku. Tapi bagiku, itu sudah luar biasa. Karena sepertinya, seumur hidupku, tak pernah ibuku itu benar-benar sepenuh hati meluluskan tiap-tiap permintaanku. Tidak salah juga. Sebab selalu terbukti, aku selalu salah dengan tiap kali akan keinginanku sendiri. Harus kuakui, ibuku terkadang memang lebih tahu tentang apa yang terbaik untukku. Tapi aku anak lelaki. Egoku harus terpenuhi lebih dari kemauan ibuku. Apalah itu namanya.

Keesokan harinya, seusai sholat Subuh, aku tidak kembali tidur bergelut dengan selimut sebagaimana kebiasaanku. Aku sudah mandi pagi di sumur belakang rumah tinggiku itu. Malam harinya, tentu semuanya persiapanku untuk berangkat ke Pulau Kampai untuk mengunjungi si Gondek kusiapkan. Tiga helai baju, celana dan selembar kain sarung sudah kumasukkan kedalam tas tuaku. Tas yang kupakai dulu ketika masih menuntut ilmu di SMA. Usai berpakaian rapi, kuhampiri ibuku yang sedang menyiapkan sarapan di dapur kami, yang hanya diatapi dengan atap nipah. Ibuku sedang begitu sibuknya.

“Mana telor mata sapi awak, mak?”

“Itu. Dibawah tudung saji.” Tunjuk ibuku.

Tak banyak percakapan kami selama aku menikmati sarapan di pagi itu. Usai dengan segala kesibukkan masak memasaknya, ibuku duduk diatas tikar anyaman daun pandan berduri disebelahku, diatas balai-balai dapur kami. Beliau ikut menikmati sarapan pagi bersamaku. Pada saat sinar mentari yang lembut mula menembus celah-celah dinding tepas dapur rumahku, aku sudah kekenyangan bersandar di dinding setengah beton dan setengahnya lagi tepas itu. Sambil menikmati rokok pertama pagi itu, aku membayangkan bagaimana nanti situasi perjalananku menuju Pulau Kampai yang kira-kira memakan waktu sampai satu hari dari tempatku.

“Jadi jugak kau ke Pulau Kampai tu?” Tanya ibuku pecahkan lamunanku.

“Jadilah, mak. Mamak minta kawani sama si Nur saja nanti kalau awak tak ada. Biar jangan terasa sepi kali mamak di rumah ni.” Saranku.

“Kalau aku, usah kau cemaskan. Yang aku cemaskan itu kau, Kulok!”

“Ah, kenapa pulak yang mamak cemaskan sama awak? Awak kan dah besar. Anak laki-laki pulak.” Aku berusaha menghilangkan rasa khawatir ibuku itu padaku.

“Aoklah.” Hanya itu yang ibuku katakan merespon ucapanku tadi.

Kulihat jam tanganku yang sudah tua. Jam itu peninggalan dari almarhum ayahku. Dari dulu kupakai agar aku selalu merasa bahwa beliau masih selalu ada didekatku. Walaupun sebenarnya ia telah lama tiada. Meskipun sudah tua, tapi jam itu bermerk lumayan terkenal dijamannya. Menurut ibuku, jam itu ayahku beli saat beliau merantau di kota Medan. Pusaka yang sangat berharga bagiku. Semenit saja tak ada dilingkar pergelangan tanganku, aku merasa janggal. Jarum pendeknya tunjukkan pukul 7:30. Masih banyak waktu untuk kuhabiskan sebentar lagi bersama ibuku. Terakhir kali sebelum aku berangkat ke Pulau Kampai, pikirku.

Sedih juga rasanya hati ini disaat-saat akan meninggalkan orang tuaku satu-satunya itu lagi di dunia ini, ibuku. Beliau itu wanita yang paling tangguh di dunia ini, menurutku. Sebagai single parent yang masih mau bertanggung jawab akan nasibku. Walaupun aku sebenarnya tidak perlu lagi ditanggung jawabi karena menurut undang-undang, umurku bukan lagi masuk anak yang harus diwalikan lagi. Jadi teringat akan pepatah yang mengatakan: “Kasih ibu sepanjang hayat.”

“Becak awak tu, jangan mamak sewa-sewakan sama orang lain ya, mak. Biar saja dibawah kolong tu. Nanti rusak kalau orang yang bawak.” Aku berpesan pada ibuku.

“Aoklah.” Segitu saja lagi ibuku menjawab, sambil terus mengunyah daun ubi yang direbusnya tadi.

“Doakan awak berhasil disana nanti, mak. Biar bisa mamak awak naikkkan haji.” Aku berharap.

“Aoklah.”

“Paling lama, awak usahakan dua tahun. Kalau sudah dapat awak nabung sekitar dua milyar, pulang awak bikin usaha ternak itik kita.” Aku berangan-angan.

“Usah dua miliyar. Dapat makanmu saja, dah syukor.” Ucap ibuku yang tak suka ngoyo buyarkan angan-anganku.

Berternak itik memang idamanku dari sejak dulu. Meskipun kini aku sudah memiliki lima ekor ayam kampung tapi jauh dari cukup untuk bisa menghasilkan. Telur-telur dari empat ekor ayam betinaku, tidak begitu bisa diharap untuk cukup memenuhi kebutuhan hidup kami. Hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Kata Udin Tongkol yang kumintai konsultasi, sebagai pakar peternak ayam di kampung kami, ayam-ayam betinaku itu termasuk kurang produktif. Jauh beda dengan ayam-ayam petelur yang diternaknya dibelakang rumah. Tak salah lagi, penilaian Udin Tongkol itu memang ada benarnya.

“Jam berapa sekarang? Nanti kesiangan kau, Kulok?” Tanya ibuku bermaksud mengingatkan.

“Eh, iya! Tapi biarlah, mak. Kan banyaknya angkot kesana.” Aku tiba-tiba malas bergerak, kebiasaan kalau perutku sudah kenyang.

“Angkot banyak. Botnya nanti yang kau ketinggalan!”

“Iya pulak. Kalau begitu, berangkat lah awak ya, mak.” Ucapku sambil bangkit dari bermalas-malasan, tersandar di dinging karena kekenyangan.

Kusalami ibuku. Kucium tangannya meminta restu. Dibelainya rambutku. Biar begini, aku putra kesayangannya. Tapi tak terbesit raut wajah sedih diparas ibuku itu walau kami harus berpisah. Kami sudah biasa terpisah. Meskipun aku serumah dengan ibuku, hari-hariku lebih banyak diluar tidak pulang ke rumah. Tak jauh-jauh memang. Masih diseputaran kampung kami. Paling sering aku menginap tidur di rumah si Kempil, sobatku. Rumahnya tepat disebelah rumahku. Kami bertetangga. Bahkan masih punya hubungan keluarga. Paling jauh aku tidak pulang ke rumah, di rumah si Jambek. Atau aku kerap kali begadang di kedai kopi bang Jamel. Jaraknya kira-kira ±100 Meteran lah dari rumahku. Tak usah heran. Aku memang Tukang Kelayapan, kata ibuku.

“Hati-hati kau disana nanti, Kulok. Jangan suka bikin rusoh di rumah orang. Kalau lagi tak ada kerja di rumah si Gondek nanti, rajin-rajinlah menyapu. Nyuci piring. Ingat itu!” Nasehat ibuku.

“Aoklah, mak. Jangan cemas, mamak. Kan mamak tau anak mamak ni rajin kalau di rumah.” Kataku sambil mengusap-usap pundaknya.

“Tunggu kejap!” Ibuku menahanku saat aku hendak keluar dari pintu dapur.

Diambilnya nangka, cempedak dan setandan pisang kepok dari peti tempat biasanya ia memeramkan buah-buahan dari pepohonan yang ada dihalaman belakang rumah kami. Peti itu fungsinya untuk memasakkannya dari mengkal. Kebun yang tak seberapa lebar itu, seperti hutan konsidinya karena semak dan ditumbuhi berbagai pohon yang menghasilkan buah. Semua bibitnya ditanam oleh  almarhum ayahku dulu. Jangan tanya rasanya. Tak ada banding. Ibuku begitu pandai merawatnya sehingga selalu berhasil berbuah. Jika ibuku menjualnya ke pasar pekan di kampung kami, berebut para pedagang-pedangang itu ingin membelinya.

“Untuk apa, mak?” Tanyaku.

“Kau bawaklah sikit. Nanti kau kasikan untuk si Gondek. Oleh-oleh.” Jawab ibuku sambil memasukkannya kedalam karung besar, bekas karung beras kami.

Oleh-oleh? Si Gondek diberi oleh-oleh? Tak pantas rasanya, pikirku. Aku jadi teringat akan sifat pelitnya si Gondek dulu. Pernah suatu hari ketika kami sama-sama pergi ke kebun tok Kisut, atok alias kakeknya, ia tak memberikan aku sedikit pun buah rambutan yang kami panen sama-sama untuk oleh-olehku. Bukan itu saja, pernah juga sewaktu SD aku kehabisan jajan di sekolah dan kehausan, ia tak memberi seperakpun pinjaman uang untuk aku membeli es lilin. Lagian, melakukan perjalanan sambil membopong-bopong sekarung buah dengan berisi nangka, cempedak dan setandan pisang kepok bukanlah pekerjaan enteng.

“Tak usahlah, mak! Malas awak membawaknya. Bukan sedap tu mikul-mikul goni kesana kemari,” Aku menolaknya.

“Jangan gitu. Ringan-ringankan lah sikit tanganmu itu. Walau macam manapun, bakal tinggal di rumahnya si Gondek tu kau nanti. Bak senang sikit hatinya. Nah! Bawak.” Perintah ibuku.

“Halaaaaaaaaaah, mak!”

“Udahlah. Sekali-kalinya. Dulu rajin kali dia tu kemari mengantarkan kueh, kalau emaknya buat kueh.” Ibuku memaksa.

Karena perintah ibuku, mau tak mau, terpaksalah aku memikulnya. Ada benarnya juga. Mudah-mudahan dengan membawakan oleh-oleh untuk si Gondek, sedikit senang ia dan memperlakukan aku dengan istimewa. Juga penyambutannya padaku. Biasanya kan begitu jika bertamu. Jadi tak apalah aku mengalah kali ini, hitung-hitung untuk menang. Akhirnya, kupikul juga bersama dengan sandingan tas yang berisi pakaianku. Kusalami sekali lagi ibuku, sebelum benar-benar beranjak dari halaman rumah tercinta kami.

“Pergi awak ya, mak.”

“Ha. Hati-hati kau dijalan, Lok. Jangan lupa sholat. Sampaikan salamku sama si Gondek nanti.”

“Insya Allah, mak.”

“Tak kuantar kau, Lok. Takutnya gosong kolak semalam yang mamak panasi tu di periok.” Kata ibuku.

“Tak apalah, mak.” Aku beranjakkan kaki dari dapur.

Selangkah saja kakiku kucecahkan keluar dari pintu dapur rumah tua kami, mataku liar clingak-clinguk mencari becak dayung yang biasanya mondar-mandir di jalan tak seberapa lebar didepan rumah kami. Aku berharap wak Pen, rekan seprofesiku sepangkalan disimpang jalan besar menuju kampung kami lewat. Agar aku bisa menumpang padanya. Sudah menjadi semacam tradisi tak tertulis bagi sesama Tukang Becak sepangkalan, jika ada yang menumpang tidak etis dimintai ongkos. Atas dasar itu, besar harapanku untuk dapat menumpang becaknya wak Pen, rekan sejawatku itu. Lumayan, hasil menghemat ongkosnya bisa untuk membeli rokokku.

Lelah memikul karung yang berisi buah nangka, cempedak dan pisang kepok untuk oleh-olehnya si Gondek, belum lagi tasku yang disandang, akhirnya kuputuskan untuk duduk di bangku kayu dibawah pohon jambu dihalaman depan rumahku. Sudah beberapa menit, namun tak satu becak dayung pun yang lewat pagi itu. Tak biasanya, padahal matahari sudah mulai tinggi. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, aku sabar menanti. Tak mungkin aku harus jalan sampai ke jalan besar, yang dimana hanya disitu angkot lewat biasanya membawa warga kampung ke kota. Siulan burung liar dan kokok ayam yang masih terdengar, sedikit membantuku hilangkan kekhawatiran karena takut akan kesiangan.

Nyanyian kecilku segera kuhentikan melihat si Kempil dari kejauhan tiba-tiba muncul dari balik gapura sisa Tujuh Belas Agustus-an diujung jalan menuju rumahku. Mukanya kuyu seperti baru bangun tidur. Jalannya menyeret karena masih mengantuk. Rambutnya mengembang layaknya singa padang pasir, kusut masai. Sesekali tangannya mengusap-usap pinggiran matanya, hapus taik mata. Aku penasaran, dimana ia begadang tadi malam? Walaupun sebenarnya aku tahu tempat-tempat biasanya kami begadang. Kutunggu ia sampai tepat berjalan didepanku.

“Rapi kali kau, Lok?! Mau kemana?” Si Kudin duluan yang menyapaku, aku kalah cepat.

Melihatku sudah rapi di pagi-pagi buta, si Kudin hilang kantuknya. Meskipun taik mata kering masih menempel dikantong mata dan pelupuk tapi matanya melotot melihatku. Dipandanginya dari ujung rambut sampai ke sandal jepitku. Bibirnya full senyum.

“Boy! Mau merantau aku, boy. Begadang dimana kalian malam tadi?” Tanyaku.

“Merantau? Ke Hongkong? Hahaha ... “ Ia tertawa lepas dengan jawabanku, pertanyaanku diabaikannya.

“Ke Hongkong keningmu itu. Serius aku, boy! Mau ke Pulau Kampai aku. Dah lama tak liat si Gondek. Entah apa kabarnya.” Sedikit kesal aku menjawabnya.

Kesal lah! Seolah-olah jawabanku tadi itu gurauan belaka. Entah mengapa, semua warga di kampungku selalu tak percaya kalau aku bisa juga merantau. Jangan kata warga kampungku, ibuku saja susah sekali yakin dan percaya dengan niatku untuk merantau. Itu sebabnya aku kesal dengan jawaban si Kempil pagi itu. Padahal nyata-nyata pagi itu aku sudah siap dengan keteguhan hati, segera keluar dari kampung kami dan mengadu nasib di kampung orang. Apapun terjadi, aku berusaha selama mungkin nanti kala merantau. Ingin kubuktikan pada ibuku, si Kempil dan orang-orang di kampungku bahwa aku lelaki tangguh yang tak takut mengadu nasib di kampung orang. Lihat saja nanti!

“Sungguhnya kau, Lok?” Si Kempil tak lagi tunjukkan raut seperti tadi, kali ini ia lebih serius.

“Yah! Kau liatlah, boy. Tu, kau liat itu apa? Itu goni, isinya oleh-oleh untuk si Gondek. Ini! Kau tau ini apa? Tas, boy. Isinya pakaianku. Kira-kira kemana aku kalau bawa-bawa baju? Begadang di kedai bang Jamel. Sungguh lah, boy.” Kutunjukkan bahwa aku sungguh-sungguh.

Si Kempil terbengong ketika aku menjelaskan tadi. Mulutnya menganga karena tak percaya. Sumpah! Si Kempil jelek sekali pagi itu. Dengan kondisi baru bangun tidur belum sempat cuci muka, rambut mengembang bak singa padang pasir, serta pelupuk dan kantung mata keliling dipenuhi taik mata kering. Megerikan. Untung saja Nely Butang, putrinya Abah Butang saudagar gula merah, yang cantik jelita sudah dua bulan dipacarinya itu tidak melihat dirinya begitu. Bisa diputusin si Kempil jika sampai terjadi.

“Dimana kalian begadang tadi malam, Mpil?” Kuulangi pertanyaanku, masih penasaran.

“Biasalah, di kedai kopi bang Jamel. Ngapainlah kau merantau, pren?” Wajah si Kempil kali ini terlihat sedih.

“Suntok aku, boy. Tiap hari kita di kampung ini saja. Kalau tidak narek becak aku, paling-paling kita mancing ikan di muara tu. Malamnya, habis waktu bual-bual di kedai kopi bang Jamel. Boy, mau sampai kapan begitu?” Kuutarakan alasanku.

“Ah, apa rupanya yang kau dapat kalau merantau?”

“Banyaklah!” Jawabku yakin.

Si Kempil duduk disebelahku. Kami sama-sama memandang kearah yang sama. Dari kejauhan, terlihat kami gedung ruko sarang burung walet yang menjulang tinggi satu-satunya di kampung kami. Gedung ruko sarang burung walet itu mulai penuh satu sisi dihantam kuatnya sinar matahari pagi. Sudah setahun ini gagah berdiri menjadi omset pendapatan desa kami, gedung itu pula dari hasil panennya menghantarkan kesuksesan Kades kami yang sekarang di Pemilihan Kepala Desa di desa kami. Mudah-mudahan anggaran Rp. 1,4 Miliar yang dijanjikan Presiden Jokowi dalam kampanyenya, bisa benar-benar menyentuh pembangunan di desa kami. Tertuang dalam UU No. O6 Tahun 2014, pak Kades kami yang baru ini agar jujur dan amanah. Semoga.

Aku hapal sekali bagaimana jika si Kempil tidak lagi sedang melucu. Maksudnya mulai ingin memulai pembicaraan berat antara ia dan aku, kami sebagai sahabat. Si Kempil bagiku, bak seorang Filsuf atau Sufi. Pemikirannya dalam hal-hal tertentu, untuk kelas aku sebagai rakyat yang tinggal di kampung, out of the box jika mulai diajak konsultasi atau diskusi serius. Ia diam sejenak. Pandangannya terlihat jauh. Sepertinya ia mulai ingin mengajakku pada percakapan serius. Tapi mudah-mudahan tidak mengarah ke perdebatan karena aku tak punya waktu. Aku harus ke Pulau Kampai pagi menjelang siang itu.

“Tadi malam, waktu kami begadang di kedai kopi bang Jamel, ada yang menarik dalam diskusi kami.” Ia mulai membuka percakapan, serius.

“Diskusi apa?” Akhirnya aku semakin penasaran setelah penasaran pertamaku dimana mereka begadang tadi malam.

“Kau tau kan, kita sama-sama saksikan janji Presiden Jokowi saat di debat pilpres waktu dulu? Paling jelas, akan ada anggaran besar yang diberikan untuk desa.” Jawab si Kempil padaku.

“Ya. Aku ingat, boy.”


“Nah! Untuk apa kita merantau, pren? Lihat kampung kita ini! Jika nanti dikucurkan anggaran tu. Ada banyak pekerjaan untuk kita, pemuda-pemuda ini, bisa berbuat di desa kita sendiri. Ngapain harus keluar dari kampung?” Si Kempil mimik wajahnya bertanya serius padaku.

Menarik juga, pikirku. Memang benar apa yang dikatakan si Kempil itu. Cukup beralasan untuk aku agar tidak memilih merantau. Tapi apa pasti? Justru aku melirik dari sisi lain tentang janji Presiden Jokowi. Yaitu sektor perikanan, laut dan tentunya maritim. Belakangan ini, ketiga hal tersebut yang bukan main luar biasanya didengung-dengungkan di media massa menjelaskan apa yang akan dilakukan pemerintah Jokowi.

Aku cukup matang melirik kesempatan disektor mana kutempatkan diriku berperan nanti. Apabila memang benar pemerintah sinkron dengan apa yang akan dilaksanakan nanti, antara janji Presiden Jokowi dan kenyataan. Ikut dalam partisipasi membangun desa dengan anggaran besar 1 Milyar, tak ada jaminan apakah aku akan diikut sertakan. Kalaupun benar, seperti apa? Jadi, mengambil oportunity diluar sana, di laut, lebih menjanjikan menurutku.

“Bagaimana dengan gegap gempita kemaritiman yang lagi hot sekarang ini, boy? Apa tidak tergiur olehmu?” Giliranku menggoda si Kempil.

“Kan sudah kubilang tadi. Untuk apa yang jauh-jauh? Kalau kita disini saja nanti bakal lebih baik. Kalau tidak kita yang membangun kampung kita, siapa lagi?” Sepertinya si Kempil berusaha mempertahankan pendapatnya.

“Tol Laut, kau pikir itu. Coba bayangkan! Akan berapa banyak menyerap tenaga kerja? Diatas laut ... dibangun jalan tol. Jadi peluang kita pengangguran yang akan diserap sebagai tenaga kerja formal besar kemungkinan di sektor maritim, perikanan dan kelautan. Belum lagi rencana bu Menteri Susi Pudjiastuti yang katanya akan membagi-bagikan bot, jala dan segala keperluan pernak-pernik untuk nelayan kecil. Jadi, boy ... jika kita tak ikut, bisa-bisa semakin ketinggalan dengan akan kesejahterahan si Gondek yang notabene adalah nelayan Udang kecepai sekarang di Pulau Kampai tu. Aku yakin, mereka-mereka yang bergerak dibidang Usaha Kecil Menengah pembuatan belacan juga bakal kecipratan.” Akhirnya aku sekuat tenaga berargumentasi ingin menang dari bujukan si Kempil agar tak membatalkan niatku merantau ke Pulau Kampai menysusul si Gondek.

“Usah bual-bual lagi. Dah tinggi harini. Moh ngayuh becak, cari rejeki!” Tiba-tiba suara wak Pen terasa membahana menghentikan debatku dengan si Kempil.

Saking seriusnya kami berdebat, sampai-sampi tak sadar aku dan si Kempil akan keberadaan wak Pen si Tukang Becak Dayung rekan seprofesi dan sepangkalanku itu sudah ada diantara kami. Ia tidak menghentikan dayungan becaknya didekat kami. Hanya melintas sambil menyapa. Ayah dari empat orang putra-putri itu memang terkenal rajin mencari rejeki. Beliau tak pernah ngoyo dan sedikit bicara kalau kami sama-sama sedang antri di pangkalan becak. Bahkan bisa dibilang jika terjadi diskusi, debat atau sekedar ngobrol biasa-biasa saja, wak Pen lebih sering mendengarkan saja daripada ikut berargumen. Tapi mungkin karena latar belakang pendidikan. Wak Pen salah satu pendayung becak yang tergolong senior di kampung kami dari beberapa pendayung becak tua lain yang sudah sepuh.

Wak Pen memulai kariernya sebagai pendayung becak dari jaman dimana Tukang Becak Dayung datang dari berlatar pendidikan rendah. Atau sama sekali tak pernah mengenyam Bangku Sekolah-an. Beda denganku, si Kempil dan rekan-rekan sejawat kami yang lebih junior. Jeratan Setan akan kecilnya peluang kerja formal akibat kelangkaan investasi raksasa yang butuh banyak tenaga kerja, membuat kami yang rata-rata sudah mengenyam Sekolah Lanjut Tingkat Atas terpaksa ceburkan diri ke sektor jasa. Yaitu menggenjot pedal sepeda Becak Dayung. Bahkan, ada beberapa diantara kami yang menyandang gelar Sarjana. Mereka itulah beberapa yang kerap kali tularkan kebiasaan-kebiasaan untuk sedikit kritis dan mau mengikuti perkembangan politik dan hukum yang sedang terjadi disegala penjuru di negeri ini.

“Ops, wak Pen! Tak singgah lagi?” Kubalas sapanya.

“Tidaklah! Habis karang rejekiku dipatok ayam!” Jeritnya sambil mengayuh becaknya yang berwarna-warni itu. Tak perlu lama, sekejab saja sudah hilang ia ditelan tikungan hujung jalan menuju rumah kami yang masih dihiasi gapura sisa Tujuh Belas Agustus-an itu.

“Eh! Aku mau numpang. Alaaaaaamaaaaaaaaaak! Lupa pulak aku. Gara-gara kaulah ini, Kempil!” Aku tersadar.

Baru teringat olehku, kalau-kalau sekarang ini aku masih duduk dihalaman depan rumahku karena menanti wak Pen yang bakal lewat tadi. Aku berniat ingin minta tumpangan padanya. Tapi akibat terlalu konsentrasi dengan debat kami. Aku sampai-sampai terlupa. Betapa menyesalnya aku. Mudah-mudahan tak lama lagi berselang, masih ada Tukang Becak Dayung lain yang masih rekan sepangkalanku yang akan lewat. Yang bisa kumintai pertolongannya memberikanku tumpangan gratis ke jalan besar tempat dimana angkot-angkot ke kota bisa kutumpangi.

“Slow kau, Kulok! Nanti ada lagi becak. Lagipun, masih pagi hari. Kita sambung lagi kejap diskusi kita.” Kata si Kempil sambil menepuk pundakku.


“Diskusi apa lagi? Kan sudah kujelaskan. Menanti kucurang anggaran desa yang satu miliyar itu, jauh arang dari api menyentuh kesejahterahan kita secara pribadi. Aku tak bisa ambil benang merahnya sama sekali, boy!”

“Inilah kau, Lok! Visi kau tu ... hanya bagaimana jadi kuli. Orientasi cara berpikirmu itu, tak jauh-jauh dari bagaimana berkerja dengan orang lain. Aku heran? Seharusnya, kita pemuda ini mampu membuka lapangan kerja baru. Bukan sekedar mengharapkan rekrutan dari pemerintah atau swasta.” Si Kempil kali ini yang berusaha menjelaskan.

“Maksudmu, boy?” Kubiarkan dia menjelaskan lebih rinci, agar aku tertarik.

“seperti diskusi kami tadi malam,”

“Siapa saja?” Belum selesai ia menjelaskan, sudah kupotong denga pertanyaan.

“Diantaranya ... ada bang Jamel, si Jambek, wak Lebai, Julkifli Sarjana Becak, Husin Ikan Laga dan tok Haji. Jadi,”

“Tok Haji begadang jugak?!” Aku tak percaya.

“Tok Haji hanya mulai dari lepas Isya sampai jam sebelas malam saja. Dengarlah dulu, pren!” Si Kempil kesal karena penjelasannya selalu kupotong.

“Ok ... Ok,Ok!” Aku berjanji tak memotong percakapannya lagi.

“Jadi .... kami sepakat tadi malam. Dengan kucuran langsung anggaran desa yang satu miliyar tadi, seperti yang kau idam-idamkan akan hasrat merantaumu itu ke Pulau Kampai, menyusul si Gondek menjadi Nelayan Tradisional Udang Kecepai khas Pulau Kampai, kita disini akan buat lapangan kerja untuk warga desa kita dan dengan ciri khas kita Sumber Daya Alam kita pulak. Ha! Kau taukan? Kita terkenal dengan desa paling pakar membuat dodol. Betapa indahnya nanti, dengan anggarat satu miliyar itu nanti, pak Kades bantu usaha-usaha yang ada. Atau justru berikan suntikan agar tiap-tiap warga kampung kita ni mau buka usaha dodol. Maka tak pelaklah lagi, akan banyak pemuda-pemuda kita yang menganggur direkrut sebagai tenaga kerja mengkacau dodol di kancahnya.” Si Kempil menjelaskan tak lupa dengan menggayakan bagaimana seseorang sedang mengacau dodol.

“Begitu?” Aku kurang tertarik.

“Tidak itu saja. Jika kau mau sebenarnya, ada yang lebih menjanjikan lagi. Tapi sikit butuh pengorbanan. Kampong kita ni, bukan tadak ikannya. Ada! Hanya saja rusak muara tu akibat ditebangi pokok bakaunya gara-gara diambil untuk kayu arang. Kita usulkan pada pak Kades. Kita buat gerakan bersama tanam kembali pokok bakau tu. Dan sama-sama kita menjaganya. Akibatnya nanti, akan kembali lestari hutan bakau kita tu lagi. Maka, kembalilah ikan-ikan yang dulu membanjiri kampong kita ni. Cammana?” Si Kempil menantangku.

“Banyak kali kerjanya tu, Kempil. Artinya, siapa yang mau jadi relawan? Kerja-kerja macam tu. Buka ada gajinya. Sementara, maksudku merantau tu ingin cepat langsung menyentuh merubah penghasilan kita.” Kupikir.

“Ini peluang kita, Kulok. Cubak kau pikir jangka panjangnya! Kalau kita berhasil, nama kita bagus. Secara politik, berpeluang kita bekancah merebut kedudukan Kepala Desa dari kampong kita. Sekarang kutanyak, bila pernah Kepala Desa dari warga kampong kita ni? Hampir rata-rata, dari dusunnya pak Kades sekarang.” Si Kempil jelaskan peluang jangka panjangnya.

“Maksudmu, kita main-main politik? Ah! Itulah yang malas aku, boy! Cukuplah hiruk pikuk kegaduhan politik di pusat, propinsi dan daerah tingkat dua. Tak usah kita main politik-politikan ditingkat desa ni. Betambah runyam rakyat ni lagi nanti kalau kegaduhan sampai di jelang Pilkades. Bukan tak mungkin konflik horizontal kita antar kampong justru mengganggu tatanan ekonomi kita lebih dalam lagi.” Aku tak setuju, sama sekali.

Sinar mentari mulai terasa panasnya di kulit. Pori-pori tubuhku mulai lembab karena keringat. Gerah rasanya kemeja putih berlengan panjang tergulung yang kukenakan. Spontan saja kulepaskan. Kusandang dibahu kiri. Hanya tinggal singlet putih dengan sedikit bolong dibagian perut aku kini. Sebatang rokok kubakar hujungnya, agar kurangi rasa asam dimulut yang sedari tadi mengoceh. Karena asap yang kutarik mengepul, sugesti untuk juga menghisap rokok si Kempil terpanggil. Kami belum selesai dengan mempertahankan argumen-argumen kami masing-masing. Memang begitu. Tapi bukan lantas tidak menerima. Hanya sedikit rasa gengsi tak mau mengakui, membuat aku tak mau mengiyakan ada benarnya ide si Kempil. Enggan untuk beranjak dari bangku panjang di halaman rumahku sebenarnya sudah bersenggayut di hati.

Lagipun, tak ada alasan lagi untuk aku berangkat ke Pulau Kampai menyusul si Gondek mendengar hasil diskusi si Kempil dan kawan-kawan di kedai kopi bang Jamel tadi malam. Tak mungkinlah bagiku melewatkan moment-moment dimana mereka bergerak membangun kampung, sementara aku malah berjibku mengadu nasib di kampung orang lain. Dengan modal dipandang paling tidak, setidaknya ada harapan terciprat apakah itu di kampung halaman sendiri. Tapi aku harus tetap menjaga harga diri didepan si Kempil. Meskipun tak ada lagi terbesit untuk meninggalkan kampung tercinta ku ini tapi si Kempil tak perlu tahu itu. Rugi rasanya menghantarkan buah nangka, cempedak dan setanda pisang kepok dalam karung itu untuk diberikan ke si Gondek. Kupikir.

“Kita bikin partai untuk ikut Pilkades nanti, Kulok! Bang Jamel mau investasi. Kita sama-sama kerja dari sekarang. Sasaran utama kita, pemulihan kembali hutan bakau di muara tu. Ini kerja nyata, pren! Jika rakyat kampong kita merasakan dampaknya, tak mungkin tidak ... kampong kita yang warganya lebih banyak ini bakal memilih bang Jamel sebagai Pilkades priode mendatang. Dengan begitu, tak jauh-jauhlah anggaran satu koma empat miliyar tu dari kita. Cemana? Mantap?” Si Kempil melotot padaku meminta kepastian.

“Hemmm, entahlah!” Aku masih gengsi-gengsi.

“Pren! Kami butuh kau, pren! Jangan sampai kami berjuang tanpamu.” Si Kempil mendekapku, ilernya terasa baunya dihidungku.

“Kupikir-pikirlah dulu, boy! Gini saja. Sekarang kau pergi mandi dulu. Kalau masih ngantok, tidur lagi dulu. Insya Allah, kita diskusikan lagi nanti malam di kedai kopi bang Jamel. Karena aku mau lebih tau lebih jelas. Apa nama partai kita nanti, boy?” Tanyaku pada si Kempil.

“Partai Musang Bejanggut!” Cepat ia menjawabnya.

Mungkin dengan jawabanku tadi, si Kempil sadar bahwa aku tak lagi berniat meninggalkannya. Tidak ia lagi minta konfirmasi kemana arah sikapku sekarang. Apakah aku masih akan berniat meninggalkan kampung ini atau tetap tinggal. Menjawab cepat dengan menyebutkan nama partai kami nanti sudah merupakan sinyal bahwa ia mengetahui keputusanku. Kami saling cukup kenal. Jadi tak perlu dialog khusus lagi mengungkapkan itu.

Kami akhiri percakapan kami. Si Kempil setengah berlari melanjutkan tujuannya pulang ke rumahnya yang tepat berada disebelah rumahku. Aku sejenak hanyut dalam pikiran sendiri. Ternyata dua hari ini tidak hadir di kedai kopi bang Jamel, membuat aku banyak ketinggalan. Tak kusangka, secepat itu perkembangan yang terjadi semenjak priode pergantian pemerintahan ini. Rakyat mulai cerdas menyambut semua janji-janji Presiden baru terpilih. Hanya saja, tinggal pemerintah yang dipertanyakan. Serius atau tidak?

Hampir tepat diatas kepalaku matahari ketika kuputuskan naik ke rumah tinggi kami dari tangga beranda depan. Oleh-oleh yang dibungkus ibuku tadi untuk si Gondek, kupikul dan kuletakkan diruang tamu. Aku masuk ke kamarku. Diatas lantai papan, kubentangkan tikar anyaman pelastik berwarna merah dengan motif yang tak kumengerti. Lalu kubentangkan tilam kapukku yang kusayangi. Tak perlu aba-aba. Sekejap saja sudah terbaring aku diatasnya sembari menatap atap seng yang sudah mulai lapuk karena usia. Angin yang berhembus sepoi-sepoi dari bukaan jendela kamarku yang lebar, membuat mataku kuyu tak menentu. Sepertinya aku butuh istirahat untuk persiapan nanti malam begadang di kedai kopi bang Jamel.

“Yah! Sudah kau sampai di Pulau Kapok tu, Kulok?” Ibuku mengagetkanku dari depan daun pintu kamarku.

“Ha?! Ngantok awak, mak.” Jawabku tak malu.

“Iyalah. Jaoh pulak perjalananmu. Cemana tak ngantok. Bukan dekat dari sini ke Pulau Kampai, lanjot pulak langsung berlayar ke Pulau Kapok. Entahlah, Kulok. Nanti sore, jangan lupa kau panjatkan pokok kelapa yang disudut tu! Lumayan kuliat tadi ada buahnya yang sudah tua.” Perintah ibuku.

“Aok, mak! Nanti awak panjat.”

Pulau Kampai, maafkan aku. Aku terpanggil untuk menjadi pelaku motor penggerak pembangunan di desaku. Aku tak akan melupakanmu. Suatu saat jika aku sukses dengan desaku, aku akan berpesiar mendatangimu. Tapi sebagai turis domestik, bukan imigran pencari kerja yang bertaruh nasib. Biarlah kini memilih menunggu berubahnya nasib diriku sebagai rakyat dipedalaman kampungku, yang bisa sambil tenang mengarungi indahnya Pulau Kapuk-ku. Mudah-mudahan pemerintah Jokowi tak pungkir janji. Agar terbukti pepatah orang-orang tua kami, Biar Badai Emas Di Negeri Orang, Alangkah Sedapnya Hujan Batu Di Negeri Sendiri.

Sepinya suasana lingkungan kampungku, angin sepoi-sepoi yang berhembus, gesekan daun nyiur yang melambai, kotek-kotek ayam kampung betina yang akan bertelur, suara burung-burung kecil yang bermain-main didahan-dahan semua membuatku cepat terlelap diatas tilam kapuk. Hanya seketika, aku sudah dibuai mimpi. Mimpi indah sedang mendayung perahu. Berlayar ... berlayar mengikuti arah angin dengan layar yang terkembang. Mengarungi lautan biru yang tenang. Diiringi lumba-lumba menuju pulau idaman nan indah menanti. Pulau Kapuk.

Wassalam.