Pada suatu hari dipagi yang cerah (lupa pulak aku tanggal berapa tu) ketika itu aku sedang asyik membetulkan sepeda tuaku yang rusak, datanglah wak Lebai mendayung sepeda unta tuanya singgah ke rumahku.
"Salam Lekom, Kulok!" Ia memberi salam setelah turun dari sepedanya berjalan pelan kearahku.
"Wa alaikom salam, wak Lebai! Maya hal ne ... pagi-pagi dah sampai sinen?" Kataku menjawab salamnya.
![]() |
| Sepeda tua si Kolok. |
" Teada! Dari pajak aku tenan, endak lalu pulang aku tenan ... te keleh ku engko sedang asyik kali sama sepeda mu nun ... maya, rusaknya?" Tanyanya padaku sambil duduk di batang kayu yang melintang dibawah rumah kayu tinggiku.
"Aok, wak! Dayungannya lepas ... kuat kali kemaren awak mengayuhnya, maklumlah jalan ke sungai nu kan banyak kali tanjakannya!" Kataku menerangkan.
"Iyalah pulak!" Katanya mengiyakan.
"Naeklah dulu, wak! Biar bebual-bual kita sambel minum teh ... " Aku menawarkan untuk minum teh padanya.
"Ah usah!Aku nak cepat ne ... oh iya! Kebun durian ku nun sudah berbuah, tegap-tegap kali buahnya! Kalau kau ada waktu ... bila-bila pegari singgahlah kerumahku, bak kita ambel karang beberapa biji untukmu ... " Katanya menawarkan buah durian dari kebun duriannya.
"Weh! Mantap kali tu, Wak! Esok kesanalah awak!" Bersemangat aku menyetujui saran wak Lebai itu yang mengajak aku untuk ke kebun duriannya yang lumayan luas itu.
Siapa yang menolak dengan tawaran wak Lebai, durian sekarang ini sungguh mahal harganya dipasar. Kesempatan makan durian gratis begini jarang dan jangan sampai disia-siakan, pikirku.
![]() |
| Durian tembaga idaman si Kolok. |
"Tapi jangan engko ajak si Kempil dan si Punggok tu esok! Karena karang dengar harimau kalau kita ramai-ramai kali mengambil durian nun!" Kata wak Lebai mengingatkanku.
"Harimau?!" Aku terkejut mendengarnya.
"Iya, sekarang lagi musim harimau turun dari gunung ne!" Katanya.
"Baiklah, wak!" Aku menjawabnya dengan heran.
Harimau? Setahuku, sekarang ini tidak ada lagi harimau yang berani turun ke kebun-kebun karena hutan rimba sudah sangat jauh dari perkampungan dan kebun-kebun kampung. Ada yang aneh dengan perkataan wak Lebai kali ini, pikirku.
"Baiklah, Kulok! Ku tengok matahari dah nak tinggi, baek segera berlalu lah aku pergi pulang ... karang kesiangan tak sedap lagi ikan yang ku beli tenan!" Katanya permisi untuk pulang padaku.
"Hah iyalah, wak Lebai! Awak ajak naek dulu minum teh dan bebual-bual sekejap tendak wak Lebai!" Kataku berdiri mengantarkannya keluar halaman rumahku.
"Heh, tak usah! Karang habis gulamu yang tinggal sikit tu ... hemat-hematlah, gula mahal sekarang ne!" Katanya menolak sambil mendorong sepeda unta tuanya.
"Aoklah, wak!" Aku mengiyakan kata-katanya.
"Jalan aku boh ... salam lekom!" Wak Lebai mulai mengayuh sepeda tuanya menjauh dariku.
"Wa alaikom salam!" Aku menjawab salamnya sambil mengikutinya keluar dari pekarangan rumah kayu tinggi bertanggaku, warisan keluarga.
Pagi itu kusiapkan dengan semangat sepeda unta tua warisan ayahku yang rusak itu, besok aku akan mengayuhnya ke rumah wak Lebai untuk mengambil dan menikmati durian dari kebunnya. Aku beberapa kali pernah menikmati durian hasil kebun wak Lebai, memang rasanya teramat manis dan besar-besar pula buahnya. Durian Tembaga, begitu nama jenis durian yang berbuah dipohon-pohon durian yang tumbuh dikebun wak Lebai yang luas itu kami menamakannya.
Singkat cerita, ayam berkokok membangunkanku dipagi hari keesokan harinya. Aku bangun dengan semangat, pikiranku dari semalam selalu terbayang-bayang bagaimana indahnya menikmati menunggu durian jatuh dari pohon dan menikmatinya digubuk kecil yang dibuat khusus untuk menunggu durian runtuh dikebun wak Lebai itu. Aku mandi, sarapan dengan semangat.
"Semangat kali engko, Kulok!" Kata ibuku melihat aku yang begitu bersemangat dari tadi.
"Aok, mak! Awak nak ke kebun durian wak Lebai!" kataku sambil menyisir rambutku didepan kaca cermin yang retak-retak, setelah ku gelimangi dengan minyak rambut murah yang dijual dikedai-kedai.
"Engko mau ke kebun durian atau mau ke undangan pesta kawen? Rapi kali bajumu!" Kata ibuku melihat gayaku.
"Hehehe ... tenang saja, emak! Yang penting pulang nanti kubawakan durian!" kataku tersenyum membayangkan betapa senangnya emakku nanti jika pulang dari rumah wak Lebai dengan membawakan oleh-oleh beberapa butir buah durian.
Pagi itu kukayuh sepeda tuaku dengan riang gembira menuju rumah wak Lebai, dipinggir jalan beraspal yang tidak seberapa lebar itu aku sepanjang jalan bernyanyi sendiri menghibur hati agar tidak lelah selama satu jam perjalanan mengayuh sepeda. Karena aku hanya hapal tiga lagu yaitu Tanjung Katung, Srilangkat dan Bunga Seroja maka sepanjang jalan kuulang-ulang lagu tersebut sampai gigi kering terhembus angin.
Setelah satu jam mengayuh sepeda, akhirnya kulihat halaman rumah wak Lebai, rumah tinggi kayunya bertengger diatas tanah dengan atap seng berkarat menjulang tinggi. Kulihat wak Lebai sedang menyapu halaman dengan sapu lidinya,
"Assalamu alaikom, wak!" Aku memberi salam didepan halaman rumahnya turun dari sepedaku.
"Wa alaikom salam! Yah, engko Kulok ... maya hal ne?" Katanya menjawab salamku.
"Hehehe ... rajin kali, wak!" Aku pun menyapanya khas gaya kampung kami.
"Ah, tadaklah ... kalau tak disapu semak karang halaman ne! Hehehe ... " Katanya sambil terus menyapu.
"Maya hal ne, Kulok? Pagi-pagi dah rapi jauh-jauh engko kemari ... " Ia bertanya padaku.
"Seperti cerita kita semalam, wak! Maya lagi ... awak menagih janji ne, masih adakan durian haritu?" Tanyaku bersemangat.
"Durian? Siapa yang bilang sama engko ada durian?" Ia bertanya melihatku dengan dahi mengkerut.
"Yah, tapi semalam uwak yang menyuruh awak kemari kalau endakka durian nu ... " Kataku kali ini mulai berfirasat tak sedap hati.
"Ah, tadak aku bilang begitu! Mimpi engko ne ... durianku kemaren memang sudah berbuah, tapi sudah habis ku jual ke tokeh durian haritu ... kalau buah rukam, tuuuuuuu banyak!" Katanya sambil menunjuk pohon buah rukam yang sedang berbuah lebat dihalaman rumahnya itu.
"Rukam????"
"Iya, rukam! Tu ambil kalau engko endak ... satu goni pe te ngapa, tapi selesai itu jangan lupa enko sapukan sikit daun-daun yang berguguran tu nanti kalau dah siap!" Kata wak lebai sambil menunjuk-nunjuk pohon buah rukam.
![]() |
| Pohon durian dikebun wak Lebai |
Aku terdiam sejenak mendengar perkataannya, ternyata firasat diawal yang kurasakan tadi benar ... ada yang tidak beres. Ternyata durian itu tidak ada, yang ada hanya buah rukam. Aku lemas mendengarnya, badan yang telah lelah mengayuh sepeda selama satu jam tadi, menjadi semakin lelah ketika kecewa mendengar tidak ada durian yang ditawarkannya semalam.
"Jadi tak ada lah durian tu, wak? Buah rukam yang ada!" Kataku sambil terjongkok disamping sepedaku.
"Aok, buah rukam yang ada! kalau endak engko ada goni dibelakang tu ... ambellah!" Katanya kali ini kemali meneruskan menyapu halamannya yang lumayan lebar itu.
"Kalau buah rukam ... dirumah pe banyak, wak! Buat maya awak kemari ... " Kataku kecewa.
Setelah kecewa, aku tak ingin berlama-lama dirumah wak Lebai. Setelah beristirahat sejenak dan minum segelas air putih aku permisi pulang pada wak Lebai.
"Wak, baleklah awak ya wak!"
"Yah, tak jadi engko bawa buah rukam nun? Sayanglaaaaaaaaa ... " Tanya wak Lebai padaku.
"Tak usahla, wak!" Aku kembali teringat kekecewaanku tadi.
"Balek awak, wak! Salam lekom!" Aku memberi salam sambil berlalu pergi mengayuh sepedaku.
"Wa alaikom salam! Hati-hati engko dijalan!“ Katanya menjawab salamku, lalu ia kembali sibuk dengan kegitatan membersihkan halaman rumahnya itu.
Berbeda dengan ketika pergi aku bernyanyi-nyanyi riang gembira, kali ini aku hanya diam saja mengayuh sepedaku dan berpikir apa maksud wak Lebai yang menyuruhku untuk kerumahnya menikmati durian yang sebenarnya tidak ada, untung tidak kubawa si Kempil dan si Punggok bersamaku ketika itu, Betapa kecewanya mereka dan aku akan menjadi korban tuding-tudingan jika kuajak mereka pagi itu ke rumah wak Lebai.
"Kenak tipu aku sama wak Lebai kali ini!" Kataku dalam hati sambil melamun mengayuh sepedaku dan membayangkan betapa kecewa ibuku nanti.
Sepanjang jalan terbayang-bayang olehku antara durian dan rukam, durian ... rukam ... durian ... rukam ... durian ... rukam ... durian ... rukam! Ah, apapun ceritanya yang penting telah kujelang hari ini dengan keceriaan. Untuk mencoba menghilangkan kekecewaanku, akhirnya kuputuskan untuk singgah ke rumah si Kempil kawanku. Sambil kembali bernyanyi-nyanyi kecil diatas sepeda unta tuaku. Tanjung Katung lagunya.
wasalam!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar