Bang Udin Sengal sedari tadi menatapku dengan penuh curiga. Tak kuhiraukan. Aku sadari bahwa pandanganku kearah jemuran tetangga, tempat dimana kedai kopi yang sedang aku dan bang Udin Sengal tongkrongi, telah membuatnya curiga padaku. Bagaimana tidak, aku memang tak lepas-lepas dengan menatap ke benda satu-satunya yang tergelantung di kawat jemuran itu sedari tadi, bh alias kutang. Sejak kami masuk dan duduk di kedai kopi bang Jamel.
"Mau kau curi bh basah yang kau pandangi tu?" Akhirnya bang Udin Sengal pecahkan benaknya dengan pertanyaan itu padaku.
"Aku ada ide, bang!" Jawabanku tak menjawab pertanyaannya, bersemangat.
Diaduknya Kopi Susu dalam gelas pesanannya tadi dengan sendok teh, raut wajahnya tak tunjukkan rasa gembira meskipun kukatakan, menurutku, sebuah kabar gembira. Datar saja.
"Aku, tak usahlah kau ajak kalau cuma untuk mencuri jemuran." Ia lantaskan padaku.
Sepertinya bang Udin Sengal yang sedang kesal karena tak bisa lagi menyewa becak milik pakcik Burhan Polit, tak tertarik dengan segala macam tawaran alih 'profesi' baru dariku. Pakcik Burhan Polit, juragan becak motor, memutuskan hubungan kerja secara sepihak dengan bang Udin Sengal gara-gara setorannya sering terlambat. Tak menyerah, ku utarakan ideku. "Gini bang, bagaimana kalau kita dagang bh!? Ke pajak-pajak (pasar) pekan, bang."
"Ah ... ada-ada saja kau!"
"Inilah abang ... dengarlah dulu ceritaku!" Aku bersikeras.
Dipalingkannya arah duduknya dariku. Seakan tak mau perduli. Tapi aku kenal bang Udin Sengal, meskipun kesal dan hatinya mendongkol tapi kupingnya tak lepas dari kegiatan menguping akan ocehan-ocehanku. Tak mau menyerah meskipun ia tak perduli, jadi kenapa tidak kuteruskan saja utarakan 'proposal' ku padanya, pikirku.
"Bang, memang nampaknya sepele. Tapi cubaklah abang pikir ... berapa banyak kalilah pemain bh di pajak (pasar) pekan-pekan tu, bang? Langka, bang!" Kuyakinkan ia.
Diliriknya aku sekelibat. Matanya melotot, keningnya masih mengernyit. Seperti menganggap aku sedang membual. Bh? Lucu dan aneh memang. Tapi melihat peluang dan permintaan besar, sedangkan 'pemain' tadi yang hanya sedikit jumlahnya, pasti menguntungkan! Berdasarkan telaahan analisa Ilmu Ekonomi Pasar-ku yang pas-pasan. Hukum Supply and Demand.
"Cemana maksudmu?" Tampaknya ia mulai berikan aku peluang, setidaknya pertanyaannya dengan nada seperti itu.
"Yah, bang ... lihatlah bh basah Mak Timah di jemuran tu! Entah macam mana bentuknya. Kita usahakan bisa penuhi kebutuhan bh, atau sempak dengan harga murah. Bang, sekmen orang-orang yang tak mau buang-buang uang bayar kutang atau sempak mahal besar, bang. Ini prospek, bang. Kalau kita bisa menjual bh dengan harga dibawah pemain bh lain, pasti kita untung!"
Bang Udin Sengal melirik ke arah jemuran, yang dimana bh milik Mak Timah pagi itu menggantung terjemur. Tangannya masih memain-mainkan sendok teh, mengaduk-aduk Kopi Susu-nya yang sudah teraduk rata. Air cucian masih menetes diantara renda-renda yang telah rusak dan karet tali kutangnya Mak Timah yang tak punya daya elastisitasnya lagi. Awalnya, bang Udin Sengal hanya melirik tapi akhirnya ia terang-terangan ikut melototi bh alias kutang basah di jemuran itu bersamaku. Aku tahu, pikirannya sedang menerawang jauh. Pastinya. Mudah-mudahan kami mulai ke arah pikiran yang sama dengan memandangi bh Mak Timah yang meskipun telah bersih, tapi masih terlihat jorok karena umur dan kondisinya yang tua. Sama tampilannya dengan separuh baya umur Mak Timah.
"Sudah kau pelajari cara main bh tu, Kulok?" Bang Udin Sengal mendalami ideku.
"Bah! Tiga hari ini ... utakku tak jauh-jauh dari memikirkan bh, bang. Semalam, waktu aku keliling pasar mengayuh sepeda tu ... cari-cari grosir bh lah aku. Survei aku, bang." Aku berupaya meyakinkannya.
Untuk sementara ini, tak ada yang lebih hebat dari usahaku untuk mampu meyakinkan bang Udin Sengal. Ini sangat urgent, agar kedepan ia mantap dengan bisnis bh atau kutang ini. Jika sudah penuh keyakinannya, maka aku tak perlu lagi bersusah payah memikirkan hal-hal lain. Karena biasanya bang Udin Sengal lebih punya solusi dan kiat jika ia sudah punya tekad menjalankan suatu profesi. Ia cukup kreatif, apalagi mungkin terkait dengan bh alias kutang.
"Dapat?" Tanyanya penasaran.
"Bang Udin tak usah khawatir. Dah ditanganku semua tempat grosir jual bh termurah se-Nusantara. Kalau ada modal kita ... tak usah ragu. Semuanya sudah diakalku, bang. Yakinlah cakapku. Dalam tempo dua bulan ini saja, kalau rajin kita ke pajak-pajak pekan jajakan bh kita, jadi juragan bh lah kita." Aku meyakinkan.
Kali ini bang Udin Sengal kulihat tak lagi tunjukkan raut wajah kesal, dengan pengajuan ide dagang bh alias kutangku. Ia justru tunjukkan wajah nafsu, nafsu ingin cepat-cepat realisasikan cita-cita kami berdagang kutang. Begitu dirinya jika sudah merasa dapatkan masukan, hasratnya terlihat seperti menggebu-gebu. Apalagi kali ini ideku tentang tak jauh-jauh soal bagaimana dapatkan penghasilan demi memenuhi kebutuhan. Terlihat dari bagaimana caranya menghisap asap rokoknya dan tatapan tajamnya ke bh basah Mak Timah di tali jemuran. Aku senang!
"Jamel!" Bang Udin Sengal tiba-tiba memanggil pemilik kedai kopi.
"Apa, boss?! Tambah kopinya?" Tanya bang Jamel melayani kami.
"Tak usah! Kau hitung berapa semua."
Kumat kamit bang Jamel menghitung minuman dan makanan yang kami santap pagi itu, sambil menunjuk ke sana sini, ke arah sajian piring dihadapan kami. Lantas ditagihnya, "Lima belas ribu, boss!"
"Ok! Catat ke bon aku dulu. Kemon, Kulok. Kita sambung cerita kita di rumah. Tak konsentrasi aku kalau cerita bisnis disini." Sambil bangkit dari tempat duduk, bang Udin Sengal mengajakku keluar dari kedai kopi.
---
Sepanjang jalan pulang menuju rumah bang Udin Sengal, kami tak lepas-lepas berbalas pantun dengan ide-ide jualan bh nanti. Kalau dihitung-hitung, mungkin ada seribu kali lebih hanya menyebut kata bh atau kutang selama dalam perjalanan yang memakan waktu tujuh menit ke rumah bang Udin Sengal, yang jaraknya tak lebih dari dua ratus meter dari kedai kopi bang Jamel. Bang Udin bak eksekutif muda yang memprospek aku, ia seakan-akan lebih mengerti menjelaskan padaku bagaimana nanti berstrategi memasarkan dagangan bh alias kutang rencana kami. Aku lebih banyak mengangguk dan berkata; iya dan setuju!
Aku belum tahu apakah ide berjualan bh itu akan terealisasi, dalam waktu dekat. Mengingat bang Udin Sengal pun sepertinya masih belum yakin mendapatkan modal darimana. Meskipun, akhirnya api semangatnya bang Udin Sengal lebih berkobar dari semangatku. Tapi paling tidak, pagi itu kami, aku dan bang Udin Sengal adalah dua laki-laki dewasa pengangguran yang penuh percaya diri dan optimistis, dimusababkan karena bh alias kutang. Mungkin dari sekian juta laki-laki dewasa lain yang juga tercatat atau tidak, oleh pemerintah, sebagai pengangguran.
Kami dua laki-laki nganggur yang berhasil keluar dari pesimistis dan tak berekspektasi melangit menanti uluran tangan pemerintah, serta kinerjanya dalam memberantas pengangguran. Dengan hanya memandang bh alias kutang basah Mak Timah di jemuran, pagi itu. Apa yang terjadi esok? Biarlah itu tangangan untuk besok. Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar