Kamis, 26 Mei 2016

MISTERI BULU KETIAK PIRANG

Sulit melepaskan kebudayaan bergunjing dalam sebuah masyarakat, menurutku. Apalagi dalam budaya di masyarakat itu ada kebiasaan atau tradisi kumpul-kumpul, seperti Kenduri misalnya. Meskipun antara tabiat bergunjing dengan tradisi Kenduri itu dua hal yang berbeda, tapi tak terdikotomikan, ia terkontaminasi sehingga menjadi identik. Kumpul-kumpul, artinya bergunjing. Biasanya, Bagian Dapur paling vulgar soal bagaimana bertutur tentang gunjing mengunjing. Bayangkan, terkadang saudara atau famili yang di Arab Saudi sedang ngupil saja bisa jadi konsumsi gunjingan saat prosesi makan-makan Kenduri. Meskipun tak tertutup kemungkinan mengunjing, alias gosip dalam bahasa kerennya itu, juga terjadi di beranda tempat prosesi kenduri atau apalah-apalah itu. Hanya beda cara menyampaikan saja dalam bahasanya.

Nah! Dari situlah, dari tradisi kumpul-kumpul makan Kenduri, mengapa gosip isu rumah tangga bang Ujang Semekot dengan kak Menik Sapu Lidi yang sedang tak harmonis itu merebak ke seluruh penjuru kampung. Sengaja atau tidak, dalam kegiatannya, kondisi rumah tangga bang Ujang dan kak Menik dibahas tanpa solusi. Bagi yang punya unsur tidak suka, ini menjadi Lubang Cacing, sekecil apapun itu merupakan Pintu Masuk untuk mencemooh. Belum aku terima klarifikasinya secara langsung dari bang Ujang Semekot, patner kentalku kala mancing di muara itu, tapi yang sampai ke telingaku yang menjadi penyebab retaknya rumah tangga bang Ujang itu karena temuan benda mencurigakan dan mengejutkan oleh kak Menik, di saku celana bang Ujang. Bulu ketiak! Ya, bulu ketiak berwarna pirang.

"Yakin kau, Mbek?!" Tanyaku tak percaya sembari mengaduk Gulai Daun Ubi Tumbuk dalam belanga besar untuk keperluan kenduri.

"Sumpah, bang! Tak percaya abang, pergilah kedepan menguping." Yakin dan mantap sekali si Jambek tegaskan padaku.

"Kalau bual kau, cam mana?" Tantangku.

"Bang Kulok ambeklah sempak warna kuning yang baru kubelik di pajak semalam tu! Ikhlas aku." Ia berani bertaruh.

Si Jambek memang terkenal suka membual, sudah jadi Rahasia Umum, sekampungku juga tahu akan hal itu. Tapi jika ia berani bersumpah dan mempertaruhkan benda kesayangannya, misalnya sempak yang baru dibelinya, apalagi model terbaru, sulit untuk aku menampiknya. Lagipun sejelek-jeleknya kelakuan pembual Si Jambek tapi ia bukan tipe pemuda kriminal pemula yang suka Obral Sumpah. Ia tak pernah terbukti berkata dusta jika sudah bersumpah.

Ok lah! Untuk sementara waktu, selama aku masih terikat dengan Ikatan Kerja Sementara mengaduk Gulai Daun Ubi Tumbuk milik Kenduri Orang Kaya Haji Amer Jungkat Jungket ini, kuterima dulu informasi dari Si Jambek itu sebagai masukan, pikirku. Nanti setelah Job Borongan ini selesai, aku bisa investigasi turun langsung ke lapangan. Selidiki apa yang sedang terjadi. Walau bagaimanapun, kabar gosip retaknya rumah tangga bang Ujang dan kak Menik karena Bulu Ketiak Pirang itu jangan sampai tersebar lebih jauh lagi. Aku merasa punya tanggung jawab, panggilan moril, untuk mencegah agar tidak terjadi gunjingan lebih luas lagi.

---

Sekitar beberapa menit saja setelah selesai Maghrib, kutunaikan hajat hatiku untuk menemui bang Ujang Semekot. Seperti niatku siang tadi yang tak kesampaian karena sibuknya aku seharian, mengurus Gulai Daun Ubi Tumbuk milik Kenduri Orang Kaya Haji Amer Jungkat Jungket alias Haji Ajujung, baru malam ini bisa menemui bang Ujang langsung, empat mata. Minta klarifikasi akan kebenaran gosip keretakan rumah tangganya yang ratingnya lumayan tinggi, dibahas dalam Kenduri Haji Ajujung secara informal, menjadi bagian dalam Tradisi Kenduri.

Kulihat bang Ujang sedang duduk di teras rumahnya, menengadah dagu. Meskipun bola lampu di teras rumahnya tidak menyala karena putus, tapi kulihat seraut wajahnya kusut masai. Ini menjelaskan padaku, bahwa yang dikatakan Si Jambek tadi siang padaku adalah benar! Setidaknya prediksi sementara. "Assalamualaikom, bang Ujang!"

"Lekom salam," Jawabnya lesu.

"Yah. Lesu kali, bang? Belum ganti sempak rupanya?" Tanyaku, basa basi, mukadimah diskusi kami malam itu.

"Sempakku yang warna merah dipinjam Superman, Kulok." Ia rubah posisi duduknya, seakan-akan ingin tunjukkan bahwa ia tak punya masalah.

"Mantaplah kalau gitu, bang. Batman dengan Hulk udah kemari?" Tanyaku lagi asal-asalan.

"Tapi pergi panen Ikan Buntal orang tu ke laut." Tak kalah asalnya bang Ujang menjawab pertanyaanku.

Begitu terus, hingga beberapa menit percakapan kami. Itu tradisi kami, aku dan my best friend, bang Ujang. Rasanya ada yang kurang, kalau tidak memulai percakapan atau bersapa diawali dengan pertanyaan asal-asalan diantara kami. Seperti Orang Kristen yang pesta tanpa tebas leher atau menyucuk pantat babi atau anjing. Tak lengkap! Tapi tak ingin berpanjang-panjang, segera kulontarkan pertanyaan interogasi ke bang Ujang soal gosip Bulu Ketiak Pirang itu padanya.

"Gini, bang! Awak kemari ni ... bukan asal-asal main saja. Ada yang nak awak tanyak sama bang Ujang ni." Aku mulai masuk ke babak wawancara klarifikasi ke bang Ujang.

"Tak usah becakap kau, Kulok. Taunya aku apa yang nak kau tanyakan sama aku ni. Soal rumah tanggaku, kan?" Bang Ujang tak pakai basa-basi lagi, menebak hajatku.

"Eh! Kok tau abang?" Akupun terkejut, tapi syukurlah jika ia sudah duluan tahu.
Setidaknya, tak perlu aku memutar atau membelit kemana-kemana point pertanyaanku nanti untuk menjaga hatinya, agar tak tersinggung.

"Yah taulah aku. Tak jadi rahasia lagi, Kulok. Dah jadi bahan gosip sekampung cerita kami ni dah," jawabnya.

"Itulah, bang. Cemana rupanya ceritanya? Karena kalau info yang awak dapat ... katanya kak Menik jumpa Bulu Ketiak Pirang dalam kantong celana abang. Betulnya itu?" Tanyaku penasaran.

Sejenak ia terdiam. Wajahnya tanpa ekspresi sama sekali, dingin. Cepat sekali berubahnya sejak aku datang diawal tadi. Tatapan matanya pun sempat kosong beberapa saat. Sepertinya kali ini bang Ujang Semekot, rekan sejawatku memancing itu, mengalami masalah dengan tingkat trauma pikiran berat. Aku harus mampu meringankan sedikit bebannya. Tidak banyak sedikit pun jadi, pikirku. Begitukan yang dimaksud dengan solidaritas dan kesetia-kawanan?

"Jadi ... sudah tersebarlah kemana-mana tentang Bulu Ketiak Pirang tu, Kulok?" Pertanyaan bang Ujang kali ini dengan suara parau, berat.

"Itulah, bang. Entah hapa-hapa udah cerita Orang Kampong kita ni. Cemana ceritanya, bang?" Tanyaku lagi.

"Entahlah, Kulok. Biniku tu, terlalu posesif. Makan hati jugak aku dibuatnya. Kau tau, Kulok? Nanti kalau cari bini kau ... yang biasa-biasa sajalah. Tak usah cantik-cantik kali macam kakak kau itu. Susah aku dibuatnya," Keluh bang Ujang.

Kak Menik memang pernah masuk dalam daftar gadis terpopuler di kampungku, pada masanya. Rupanya yang cantik mirip artis Ely Sugigi itulah yang dulu menawan hati bang Ujang Semekot. Bukan tak pernah kuperingatkan bang Ujang waktu itu, untuk tak usah berupaya mengejar cinta dan menawan hati kak Menik. Tak sepadan, menurutku. Tapi akibat tak mau mendengarkan nasehatku, akhirnya pernikahan mereka berlangsung.

"Kan aku dah becakap dulu, bang!" Sanggahku.

"Itulah ... " Putus hingga disitu saja perkataannya kali ini.

"Jadi, apa penyebabnya?"

"Kalau kau dengar gunjingan orang-orang kampong tentang Bulu Ketiak Pirang tu. Betol lah adanya," Katanya membenarkan.

"Alahmak ... betolnya tu, bang?! Sama siapa rupanya bang Ujang selingkuh?!" Aku terkaget-kaget.

"Aku tak pernah selingkuh, Kulok! Tak pernah,"

Aku yakin seratus persen jika bang Ujang tak pernah selingkuh, meskipun tak terlalu yakin. Yakin, tapi tidak yakin? Bingungkan? maksudnya begini; keyakinanku itu berdasar sebab bang Ujang selama bergaul denganku, tak pernah punya reputasi 'gatal' atau pernah tunjukkan prilaku menyeleweng. Tapi yang buat aku kurang yakin ialah, pertanyaan tentang benda misterius Bulu Ketiak Pirang itu. Milik siapa? Aku semakin bingung.

"Kau tau, Kulok? Sebenarnya, Bulu Ketiak Pirang yang jumpa biniku itu ... bukan bulu ketiak siapa-siapa. Itu bulu ketiakku sendiri." Bang Ujang tegaskan padaku.

"Bulu ketiak bang Ujang Sendiri? Untuk apa abang nyimpan bulu ketiak sendiri, setelah dicabut? Dah gitu ... ngapain pulak bang Ujang mempirangkan bulu ketiak? Aihmak! Misterius kali abang ni ah," Bertubi-tubi pertanyaan kuhujamkan padanya.

"Itulah, Kulok. Sebenarnya begini ceritanya. Jadi, tau kau Si Noni Bencong kan?"

"Noni Bencong mana?" Belum usai penjelasannya bang Ujang, sudah kupotong lagi dengan pertanyaan, tentang sosok Bencong Noni.

"Halah ... Si Nonok!"

"Oooo ... pakcik Nonok! Bencong tua tu, bang." Aku mengingatnya.

"Iya ... dialah. Jadi waktu itu aku sedang makan rujak di simpang. Jumpalah aku sama Si Noni Bencong itu. Ditawarkannya aku jualan produk kecantikan. Termasuk cat rambut." Cerita bang Ujang panjang lebar.

"Kenapa bang Ujang cat bulu ketiak abang? Kenapa tidak ke rambut ... atau bulu kuduk? Ah, bang Ujang ni pun aneh-aneh saja!" Cetusku.

"Gini, Lok. Kalau ku cat ke rambut ... makin gilak curiga kakak kau tu nanti. Taulah kau, macam kubilang tadi ... posesif kali dia sama aku. Jadi, biar tak nampaknya aku seperti mau bergaya, kucat lah ke bulu ketiakku. Paham kau kan?" Bang Ujang ngotot kali ini paksakan aku agar paham.

"Terus?"

"Sudah kutolak. Tapi dia maksa. Dikasinya aku dua bungkus cat rambut. Katanya untuk kutes, sama sampel. Jadi, waktu itu penasaran aku. Kutes lah ke bulu ketiakku. Ternyata manjur, Lok! Mantap kali memang cat bulu ... eh, maksud aku cat rambutnya itu." Sambung bang Ujang.

"Jadi, gara-gara itulah mangkanya ada Bulu Ketiak Pirang tu? Tapi ... kenapa pulak bang Ujang simpan bulu ketiak abang tu?" Aku sempat tertegun kagum, lalu bertanya lagi ingin tahu.

"Itulah, jadi waktu kutengok mantap warna bulu ketiakku itu, rencanya mau kutunjukkan sama Si Ponah, gadis yang jualan Mi Pecal di simpang tu. Mau kutawarkan sama dia. Karena pernah kulihat dia aplod foto ketiaknya di Instagram, dicatnya bulu ketiaknya warna kuning sebelah. Sebelah lagi warna ungu. Cubak-cubaklah aku tawarkan sama dia. Biar lebih yakin dia rencananya mau kutunjukkan berapa lembar Bulu Ketiak Pirangku. Sampel. Mana tau ... bisa bisnis aku dari situ, hehe ..." Bang Ujang jawab pertanyaanku dengan lugas.

"Ooooooh gitu." Aku mengerti sekarang.

---

Menjelang menjemput larut malam, alam pikirku masih terbawa kedalam masalah Bulu Ketiak Pirang milik bang Ujang. Meskipun berpikir keras tapi aku tak temukan alasan untuk menyalahkan dirinya dalam Skandal Bulu Ketiak Pirang itu. Aku tak punya dalih untuk memberikan label bahwa bang Ujang layak dikatakan sebagai Sentral Masalah dalam hal ini. Dan mengenai bagaimana bergunjingnya masyarakat di kampungku tentang penyebab retaknya rumah tangga bang Ujang Semekot dengan kak Menik Sapu Lidi, sungguh tidak sesuai dengan realitas yang ada. Bahwa bang Ujang selingkuh, itu tidak benar sebagaimana yang dihembuskan selama ini! Itulah akibat bergunjing tanpa ingin minta klarifikasi. Akhirnya menjadi fitnah.

Untung, aku bersyukur tak ingin masuk dalam kegiatan gunjing menggunjing tersebut. Aku tak suka berasumsi tanpa dasar. Sebab itu adalah hal yang salah. Daripada tersesat, lebih baik minta klarifikasi langsung ke Si Pelaku atau yang sedang bermasalah. Jika tak punya keterangan sama sekali, lebih baik memposisikan diri pada posisi netral. Terkadang, Sangsi Sosial itu lebih sadis daripada Sangsi Hukum dan Politik sekalipun. Selalu terjadi penghakiman Main Hakim Sendiri, apakah itu sifatnya kekerasan verbal, gosip, fitnah bahkan terkadang sampai pada tingkat membully. Tapi tanpa mau melihat masalah itu dengan fakta dan dasar! Kejam.

Dalam perasaan ikut sedih dan gundah atas apa yang menimpa bang Ujang, tak sanggup tahankan kantuk, aku akhirnya menjemput Dunia Mimpi. Malam adalah Ratu Hari, yang dimana manusia hidup dalam kehampaan peraduannya. Terbuai dalam gelap dan dingin. Kepasrahan, menyerahkan diri pada Sang Pencipta menjadi keharusan disaat-saat Ruh sejenak terpisah dari jasad yang kasar ini. Selamat malam duniaku.

--- sekian ---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar