Apalagi kalau tidak ikut merasakan rasa senang saat melihat sahabat yang hidup rukun dengan rumah tangganya. Sudah lima tahun lamanya Si Jambek membina rumah tangga dan baru belakangan ini kulihat ia bisa begitu bahagia saat bersama-sama dengan anggota keluarga kecilnya itu. Rumah tangga yang sakinah mawadah dan mawarahmah kupercayai sebagai elemen penting untuk ciptakan individu yang berkarakter baik. Bisa dipastikan, hampir setiap insan yang tak punya jiwa yang baik itu menurutku terlahir dan hidup dari rumah tangga yang amburadul.
Akan tetapi, disisi lain dari rasa bahagia menatap dari kejauhan kebahagian keluarga kecil Si Jambek belakangan ini, ada sedikit kekesalan yang datang menghinggapi diriku. Jujur aku punya rasa iri pada Si Jambek karena sudah mampu membina rumah tangga sejak masa mudanya, tapi bukan itu yang membuat aku memendam rasa kesal padanya. Yang selalu dan paling meluluh-lantahkan batinku yaitu pertanyaan-pertanyaannya, yang meskipun sebenarnya bukan dengan niat untuk menyakiti, tapi cukup menyakitkan bagiku. Pertanyaan; kapan aku akan menyusulnya untuk membina rumah tangga?
Pertanyaan itu! Diulang-ulang selalu dilisankan terucap dari lidahnya yang tak bertulang, selalu membuatku kelimpungan ketika harus menjawabnya. Oh Tuhan, kapan ia tak lagi menanyakan pertanyaan mudah itu tapi cukup sulit bagiku untuk menjawabnya? Selalu aku berdoa agar tak terjadi jika kami sedang bertemu. Apakah itu di kedai kopi bang Jamel atau ketika sekedar bersama-sama sedang di anterean di Pangkalan Becak saat menunggu penumpang. Meskipun aku sudah menerangkan dengan sejuta alasan mengapa aku belum ingin membina rumah tangga tapi ia seakan-akan tak ingin dan mau mengerti. Terus saja memaksa aku agar terjerumus kearah segera membina rumah tangga.
"Aku harus bilang apa lagi, boy?!" Aku tuangkan isi hatiku pada Si Punggok sore itu, maksudku harus beralasan apalagi.
"Sabarlah, pren. Kau macam tak kenal saja sama Si Jambek tu? Dia tu mulutnya saja yang kasar, tapi hatinya baek tu. Cayalah cakapku." Si Punggok berusaha menenangkan perasaanku, sambil mengutak-atik sepeda motor tua buatan tahun '70-an kesayangannya.
"Ah, sama saja kau ni sama Si Jambek, Nggok! Tak mau ngerti kalian sama aku." Aku kesal.
Ucapan kekesalan terakhirku, akhirnya menyita perhatiannya. Ia hentikan kesibukan mengutak-atik sepeda motor tuanya. Masih dengan Kunci Inggris di tangannya Si Punggok bersegera menghampiriku dan duduk di bak samping sebelah becak motor sewaan ku. Sebelum ia mengucapkan kata yang ingin disampaikannya padaku, kulihat ia merenung sejenak sambil menatap dalam-dalam cahaya mentari senja yang kian merona jingga di langit. Pancarannya menyeruak hingga menembus di sela-sela rindangnya dedaunan pohon-pohon rambutan yang banyak tumbuh disekitar lingkungan kami.
"Lok, aku mau becakap apalah sama kau? Tak tau aku mau bilang apa lagi, tapi cakap Si Jambek tu ... ada betulnya." Katanya berucap.
Mendengar perkataannya, aku jadi semakin tak senang dengannya. Jelas! Dua sahabat yang dimana kami pernah menjalani hidup bersama sehidup semati dan sejak kami kecil telah mengenal satu sama lain itu, baik Si Jambek maupun Si Punggok, sama-sama terlihat lagi bukan sebagai sahabat yang pernah aku kenal dulu. Tak ada gunanya lagi aku berharap bantuannya untuk mau menolongku menerangkan pada Si Jambek agar tidak lagi menuntut aku agar segera berumah tangga, pikirku.
"Dah lah, Nggok! Dah sore hari, pulang lah aku dulu." Aku permisi ingin beranjak dari pelataran halaman rumahnya yang tepat berada disebelah rumah milik orang tuaku.
"Mau kemana kau, pren?!" Nadanya bertanya seperti keberatan dan tak merestui aku untuk segera pulang.
"Dah lah, Nggok. Paham aku. Tak usahlah panjang lebar lagi kita becakap." Kupertegas nada kekesalan dan kekecewaanku, agar ia bertambah paham akan perasaanku saat itu.
"Tunggu dulu. Inilah kau ni! Cepat kali merajok. Tak berubah-ubah tingkahmu dari sejak kecil, Lok. Merajokmu tu ... tak tahan aku." Si Punggok tak mau beranjak dari jok bak samping becak motorku meskipun telah kuusir.
Itu artinya Si Punggok masih ingin menjelaskan sesuatu padaku. Atau barangkali ia ingin menyampaikan nasehat-nasehat yang sama, yang selalu saja Si Jambek sampaikan padaku alasan-alasan agar aku segera membina mahligai rumah tangga? Daripada harus mendengarkan nasehatnya, lebih baik ku dului dengan alasan mengapa aku memintanya menasehati Si Jambek agar tak lagi mengganggu dengan pertanyaan-pertanyaan seputar privasiku. Pikirku.
"Aku terus terang saja ni, Nggok. Aku tak usahlah dinasehati lagi soal-soal kayak gitu. Halaaaaaah ... aku bukannya tak tau cemana Si Jambek tu dulu. Baru sekarangnya dia tu bisa nampakku bahagia." Ku dului Si Punggok.
"Kenapa rupanya rumah tangga orang tu, Lok?" Keningnya Si Punggok mengernyit seribu lipatan, tak mengerti maksud ucapanku.
"Kau kan tak tau. Baru belakangan ni sajanya Si Jambek tu bisa tersenyum, ketawa-ketiwi, bahagia kita nampak rumah tangganya dengan Si Ra'odah tu, Nggok. Dulu ... sewaktu awal-awal berumah tangga tak tau kau, kan?" Aku tak bisa lagi menahan rahasia yang selama ini kupendam dari Si Punggok, pecahlah apa isi di perut.
"Gitu rupanya?"
Pertanyaan Si Punggok itu mungkin juga mengandung rasa tak percaya terhadap ucapanku terakhir. Wajar saja jika ia terkaget-kaget karena selama ini aku adalah Si Kulok yang sikapnya dikenal bukan tipe yang suka menceritakan aib orang lain. Bahkan dibanyak percakapan obrolan kami, aku cenderung tak suka masuk pada tema-tema yang bersifat urusan pribadi. Tapi kali ini aku terpaksa karena ingin membela diri. Apa boleh buat.
"Kau kan tak tau ... hanya karena gara-gara Sayur Bening sama Tahu Goreng, hampir tiap hari pening kepalaku harus berpikir macam mana caranya agar dua sejoli yang baru habis masa bulan madunya itu tak bercerai. Tau kau itu?!" Aku jelaskan dan minta penjelasan seberapa jauh Si Punggok mengenal pribadi Si Jambek diawal-awal membina mahligai rumah tangganya itu.
"Iyanya?" Kulihat wajah Si Punggok tunjukkan raut tak percaya.
Aku bukan orang yang asing bagi keberlangsungan mahligai rumah tangga Si Jambek. Bukan ingin membangkit apa saja jasaku dulu. Bagaimana ikut menjaga dan berperan agar rumah tangga sahabatku itu tidak hancur berkeping-keping tapi, kurasa, aku harus menceritakannya agar Si Punggok memahamiku. Bagaimana aku ikut merasakan sedih, khawatir, bimbang dan juga terkadang merasakan emosi yang sama ketika keluarga baru itu jadi bahan gosip di kampung kami. Aku rasakan semua!
Bermula hanya gara-gara Si Ra'odah, wanita yang dicintainya dan kini telah selama lima tahun belakangan ini menjadi pendamping hidupnya, yang ketika itu tak juga pandai memasak. Disitulah awal bermulanya hari-hari rumah tangga yang seharusnya masih dalam masa indahnya Bulan Madu itu, tiba-tiba harus berubah seratus delapan puluh derajat menjadi bak dua manusia yang punya dua karakter bertolak belakang dan harus disatukan dalam satu rumah kontrakan petak kecil.
Teringat aku bagaimana tiap-tiap hari ketika itu Si Jambek menyampaikan keluhannya padaku. Mengatai istrinya sendiri, "Tau kau, Kulok? Tiap hari Si Nenek Sihir tu masak Sayur Bening. Sayur bening lagi, sayur bening lagi ... sayur bening lagi. Lauknya Tahu Goreng, kau pikir?!"
"Kalau gitu sekali-sekali makan di luar lah kau, Mbek." Waktu itu aku berusaha berikan solusi.
"Sedap kau becakap, Lok! Maulah digeraoknya aku malamnya, Lok. Dia kalau aku makan di luar cemburu. Ntah hapa-hapa dituduhkannya padaku. Kau pikir?!"
Aku tak bisa banyak komentar kala itu. Semakin aku berusaha menyabarkan dan ingin menenangkannya, Si Jambek justru mengira aku berpihak membela untuk membenarkan sikapnya Si Ra'odah, istrinya yang baru dua bulan dinikahinya kala itu. Aku hanya bisa memilih memposisikan dirimu menjadi pendengar dan ikut merasakan, pusingnya tujuh keliling!
"Kalau Sayur Bening-nya berubah-ubah tiap hari ... tak apa-apa, Lok! Ini udahlah Sayur Bening, tau kau camana rasanya kan? Tiap hari pulak dari bayam ke bayam yang dimasaknya. Kau pikir?!" Si Jambek seperti ingin muntahkan rasa geramnya padaku, aku bahkan tak berani lagi berkomentar apapun.
Aku diam saja. Kadang-kadang aku sampai-sampai berpikir dalam hati kala itu, mengapa aku sial sekali hari itu? Aku belum menikah tapi aku harus ikut merasakan 'getah' buruknya efek pernikahan! Oh, Tuhan. Kalau Si Jambek tahu, selama hampir setahun atau dua tahun ketidak-akuran mahligai rumah tangganya sedikit banyaknya salah satu faktor yang mempengaruhi membuat aku enggan mengarungi Samudera Rumah Tangga yang katanya kebanyakan orang itu, indah? Aku mengalami yang namanya entah itu phobia atau trauma tapi yang jelas aku jadi punya pengalaman buruk tentang pernikahan.
"Kalau lah sekali-kali diganti sayur tu, Lok? Tak bisa dia? Aku bukan apa-apa ... tak kuharap lah dia tu memasak gulai sayur, tidak! Tak apa-apa Sayur Bening tiap hari, tapi beganti lah pulak sayurnya! Hari ini Sayur Bening Kacang Panjang, misalnya. Besok pulak Sayur Bening Kol. Ha, lusanya bikin pulak Sayur Bening Terong. Apa tak bisa dia? Bayam ke bayam tiap hari. Dipikirnya aku ni kambing apa? kau pikir?!" Kuingat celotehan Si Jambek kala itu ketika amarahnya sedang memuncak, begitu dua tahun lalu.
Panjang lebar kujelaskan bagaimana perjalanan lika-liku awal mahligai rumah tangga Si Jambek sore itu pada Si Punggok. Banyak lagi 'motif' yang menjadi sumber malapetaka di rumah tangga mereka. Rumah tangga yang baru dibina seumur jagung. Termasuk bagaimana klimaksnya, puncak konflik rumah tangga mereka yang hampir harus berakhir di Sidang Meja Hijau di Pengadilan Agama. Demi mewujudkan hasil kata sepakat mereka ketika itu, yaitu mufakat untuk bercerai. Si Punggok hanya diam seribu kata mendengarkan penuturanku tentang jalannya mahligai rumah tangga mereka, tak menyangkanya. Hanya bisa terkadang menggeleng-gelengkan kepala saja dan seraya sekali-sekali berucap, "Gitu ya, Lok?"
Puas juga aku menjelaskan semua yang pernah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri perjalanan mahliga rumah tangga itu. Mungkin tepatnya keluarkan unek-unek yang selama ini sudah lama kutahan. Itu yang selalu dituntut agar aku juga mengalaminya. Memang benar, tak semua akan mengalami pengalaman yang sama. Tapi jika ditilik dari kedekatan faktor latar belakang kemiripan taraf kehidupan ekonomi kami, bisa diprediksi, seribu persen aku akan mengalami hal yang sama. Kecuali aku dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa pendamping hidup dari tulang rusukku turunlah seorang bidadari. Bukan pesimis tapi melihat kenyataan yang ada hal itu hanya bisa terjadi hanya di alam dongeng atau, mimpi!
Si Punggok dua tahun umurnya dibawah kami. Aku dan Si Jambek yang sebaya. Ia sama dengan ku, belum terlihat tanda-tanda akan mendirikan mahligai rumah tangga. Itu alasannya selama hampir 6 tahun belakangan ini sibuk dengan mengadu nasib di perantauan. Ia katanya berjuang ingin menabung untuk mengumpulkan modal. Semuanya demi satu tujuan, yaitu meminang gadis pujaannya Si Ruki'ah. Itu mengapa ia tak cukup mengenal dan mengetahui bagaimana sesungguhnya jalan cerita mahligai rumah tangga Si Jambek. Tapi ia beruntung karena umurnya yang lebih muda dariku. Itu yang membuatnya selalu luput dari perhatian dengan pertanyaan; kapan menikah? Tidak seperti aku yang selalu sial dan selalu jadi sentral perhatian di lingkunganku terkait soal pernikahan.
Lama kami sejenak saling berdiam diri tak ada sepotong kata pun yang terucap dari bibir kami masing-masing, usai aku menjelaskan hasratku mengapa menemuinya sore itu. Entah apa dipikirannya selama diam kami itu. Yang jelas aku hanya ingin berekspektasi lebih padanya, mengantungkan harapan agar ia mau membantuku menjelaskan semuanya itu ke Si Jambek. Aku bukan ingin menakuti-nakutinya atau mengajaknya bernasib sama dengan ku. Tapi melihat kesamaan nasib, aku berani berspekulasi kalau-kalau hidup kami, yang berdiri dalam kesamaan derajat dilevel ekonomi melarat mungkin menjadi bahan renungannya untuk terpaksa memilih jalur hidup layaknya diriku. Kecuali besok atau lusa ia menag lotere, siapa tahu?
Hampir Adzan Maghrib ketika aku berpamitan pulang padanya. Kami sudahi perbincangan kami tentang Mahligai Rumah Tangga senja itu. Rona jingga senja hampir saja sempurna berubah berganti menjadi haru biru pekatnya malam. Tak terasa berat lagi kala itu Si Punggok melepasku beranjak pulang. Dalam pelannya laju becak motorku menuju rumah, aku sedikit merasa lega karena sudah melihat adanya tanda-tanda ia, Si Punggok, bisa memahami pilihanku dalam mengarungi ritme irama nasib. Semoga Si Punggok mau membantuku esok hari menjelaskan semuanya pada Si Jambek. Dan aku berharap sejak itu tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang tak jahat tapi cukup 'menjahatiku' itu. Semoga aku dalam harap.
-- Selesai --
Tidak ada komentar:
Posting Komentar