Selasa, 11 Oktober 2016

REFLEKSI SURAT AL MAIDAH 51 & KEJUJURAN AHOK

Riuh rendahnya konstelasi politik Pilgub DKI di 2017 ini tidak hanya di ibukota saja, tapi ternyata mampu menyita perhatian se-tanah air. Apalagi bagaimana hiruk pikuknya strategi yang dimainkan kubu Ahok, petahana saingan dari 2 paslon lainnya, hingga mampu memancing sentimen Umat Islam tanah air dalam setiap ucapan, kebijakan dan tingkah lakunya. Ahok memang tokoh yang kontroversial dari sejak kemunculannya menjabat sebagai Wakil Gubernur di 2012 lalu mendampingi Jokowi. Kerap kali menjadi polemik dan menarik untuk dibahas dalam kolom-kolom tulisan opini oleh para pakar politik karena tindak tanduknya.

Seperti yang terakhir, belum selesai bagaimana ucapannya menuduhkan pada salah satu saingannya, bahwa peserta Tax Amnesty adalah merupakan pelaku pengemplang pajak, video ucapannya dalam sebuah Temu Warga di Kepulauan Seribu tentang Surat Al Maidah ayat 51 menjadi viral di Sosial Media dan memancing kemarahan Umat Islam se-tanah air. Seakan tidak mampu menjaga lisannya, Ahok begitu fasih menyebut Surat Al Maidah ayat 51 telah membodohi Umat Islam karena menghalangi pemilih beragama Islam di DKI untuk memilihnya sebagai Calon Gubernur DKI di Pilgub DKI 2017 mendatang karena imannya, begitu yang tertangkap dipersepsikan ucapannya didalam video viral tersebut.

Benarkah Surat Al Maidah melarang memilih pemimpin beda iman?

Jawaban pertanyaan diatas dijawab berbeda-beda oleh banyak kalangan pakar dalam tulisan opininya diberbagai Media Massa maupun Sosial Media. Jelas, opini tentu menjawabnya dengan melihat dari banyak aspek dan disiplin ilmu masing-masing. Juga bagaimana eratnya kaitan dengan kepentingan dan keberpihakan. Tergantung siapa yang beropini menjadi cukup jelas disitu. Apalagi ucapan Ahok dalam video viral tentang Surat Al Maidah ayat 51 tak jauh-jauh dari kegiatan politik dan menjelang suasana Pesta Demokrasi yang merupakan ajang adu strategi politik belakangan ini. Sulit untuk temukan opini yang benar-benar objektif dan murni ingin menafsirkan Surat Al Maidah ayat 51 tersebut.

Namun begitu, pihak kubu lawan politik Ahok yang memanfaatkan moment keterberatan serta tersinggungnya Umat Islam bahwa Ahok telah menistakan ayat dalam kitab suci milik Umat Islam, Al Quran, tidak berlebihan adanya. Ahok menyesalkan mengapa ada pihak-pihak yang dianggapnya memanfaatkan Surat Al Maidah ayat 51 menjadikannya sebuah rujukan bagi warga DKI yang menganut agama Islam agar tidak memilihnya karena beda iman, sebagaimana pernyataanya dalam video viral, merupakan hal yang berlebihan. Dan mengajak agar tidak mengindahkannya sebuah bentuk intervensi, memaksakan umat beragama lain agar tidak menjalankan dan mempercayai Kitab Suci-nya. Bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan bagaimana konstitusi negara ini, UUD 1945, yang menjamin kemerdekaan menjalankan agama.

Merujuk dari sebuah Tafsir Al Quran salinan dari Naskah Departemen Agama Republik Indonesia, yang diadakan oleh Proyek Pengadaan Kitab Suci Al Qur'an Dept. Agama RI Pelita III/Tahun IV/1982/1983, yang diterjemahkan oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al Quran Hak Penterjemah Dept. Agama Republik Indonesia di jaman Menteri Agama Munawir Sjadzali, dalam Surat Al Maidah ayat 51 memang jelas-jelas dalam tafsirnya Allah swt memerintahkan Orang-Orang Yang Beriman agar tidak memilih pemimpin diluar Iman Islam. Sebagaimana dalam artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi yang sebahagian yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS Al Maidah, 51)

Jika belum cukup jelas atas perintah Allah swt dalam Surat Al Maidah ayat 51 tadi diatas, sebagaimana banyak yang mencoba mempersepsikan ayat tersebut dengan pemikiran masing-masing, ada banyak ayat lain setelah ayat 51 tadi yang dimana perintah Allah swt dengan jelas dan tegas melarang mengambil Pemimpin Kafir diatas Umat Islam. Surat Al Maidah ayat 52 hingga ayat 63 dalam bunyinya Allah swt jelas-jelas menjelaskan sangsi, tanda-tanda bahkan akibat jika Umat Islam mengambil Pemimpin Kafir. Misalnya di Al Maidah ayat 57 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) diantara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman." (QS Al Maidah, 57)

Di Surat Al Maidah ayat 57 tadi, Allah swt menguji apakah hambanya benar-benar ingin patuh dan dikatakan sebagai Orang-Orang Yang Beriman dengan tidak mengambil Pemimpin Yahudi, Nasrani dan Kafir agar bertakwa. Perintahnya jelas, kekuatannya mirip dengan bagaimana Allah swt memerintahkan hambanya, Orang-Orang Beriman diharuskan menjalankan ibadah wajib puasa agar bertakwa. Di surat-surat selanjutnya, Al Maidah 58-63, Allah swt membuka rahasia tabir apa yang ada didalam hati Pemimpin Kafir dan akibatnya ancaman Allah swt dan bagaimana seharusnya Kaum Muslimin menjawab Kaum Nasrani, Yahudi dan Kafir penyembah thaghut bahkan Orang-Orang Munafik dalam ajakan mengambil pemimpin.

Dengan diungkapnya Surat Al Maidah ayat 51 kehadapan publik di DKI, sebagai 'senjata' pihak lawan politik Ahok untuk menghadangnya, apalagi memanfaatkan 'kekhilafan' ucapan Ahok yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang atau tokoh praktisi dunia politik, otomatis pemilih beragama Islam akan dengan sendirinya mencari Pemimpin Islam, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala dalam Al Quran, terutama Surat Al Maidah ayat 51 hingga ayat 63. Namun begitu muncul pertanyaan; yang manakah dari dua paslon lawan politik Ahok yang benar-benar Islami? Jelas tidak ada! Ini bukan soal ada atau tidak adanya Pemimpin Islam atau lebih tepatnya pemimpin yang punya gagasan dan kebijakan sebesar-besarnya merujuk pada nilai-nilai Islam, akan tetapi hanya sekedar mengambil pemimpin yang pribadinya menganut agama Islam dengan ideologi Non Islam. Jika pemilih, yaitu Orang-Orang Yang Beriman, DKI merujuk pada Surat Al Maidah dalam panggilannya ingin memenuhi perintah Allah swt maka tak akan ada yang bisa mencapai nilai ketaqwaan tadi. Sebab, dua paslon lawan politik Ahok tidak satu pun yang memenuhi keriteria sebagaimana disebutkan dalam tuntutan Surat Al Maidah sama sekali. Akibat ideologi mereka jauh dari nilai-nilai Islam.

Tapi masalahnya bukan itu. Bukan ingin memenuhi keriteria Pemimpin Islam tapi hanya sekadar bagaimana memenangkan kontestasi politik di DKI tanpa Ahok. Karena kriteria pemimpin yang mendekati Pemimpin Islam yang Islami itu sendiri telah jauh-jauh hari disingkarkan oleh ketidak konsistenan parpol-parpol yang tidak mau memgemban nilai-nilai Islami. Yusril Ihza Mahendra, didustai oleh parpol-parpol berideologi nasionalis dan Islam yang tidak Islami. Ini soal bagaimana menyikapi keterlanjuran. Hanya ada pilihan mengambil yang mendekati baik dari pilihan buruk yang ditawarkan, dipaksa oleh parpol, kehadapan pemilih. Surat Al Maidah ayat 51 dengan sendirinya akan membawa keterpanggilan Umat Islam yang ingin dipanggil sebagai Orang-Orang Yang Beriman agar bertaqwa, mengikuti perintah Allah swt dalam memilih pemimpin. Paling tidak sedikit mendekati.

Apakah Umat Nasrani tidak boleh memilih pemimpin yang tidak seiman?
Yang tak kalah menarik ialah bagaimana dikesempatan lain, Ahok dalam klarifikasinya tentang ucapannya terhadap Surat Al Maidah, mengatakan bahwa ada juga dari kalangan dari Gereja Kristen Katholik dianggapnya sebagai pengecut yang juga menggunakan ayat dalam Kitab Injil untuk dipakai guna dukung mendukung Saudara Seiman mereka (sesama Nasrani) di Pilgub DKI. Seperti yang dikutip perkataan beliau mengatakan:

" ... atau juga ada yang rasis yang pengecut dari pihak Kristen. Dia juga ada menggunakan satu ayat, saya lupa nih kitab apa, dia bilang begini; kita harus membantu semua orang terutama saudara seiman. Itu juga dipakai untuk membodohi orang-orang Kristen Katholik di Gereja supaya jangan memilih yang Non Gereja Non Kristen Katholik. Itu yang saya maksud saya sampaikan di Pulau Seribu."

Sampai disitu, Ahok disamping sikap yang selalu terlihat meledak-ledak, sering marah tak terkendali dengan ucapan-ucapan kasar yang kontroversial, ada sedikit nilai kejujuran yang ada pada dirinya. Penjelasannya bagaimana ada pihak Gereja Katholik yang jelas-jelas menyitir ayat-ayat dalam Kitab Injil sebagai pengecut untuk mengajak Saudara Seiman mereka tidak memilih Pemimpin Tidak Seiman. Ini seperti semangat 'Perang Salib' yang dipakai oleh pengecut dari Gereja untuk mengajak tidak memilih pemimpin beragama Islam. Mungkin, Ahok membenarkan apa yang telah dilakukan J.E Sahetapy dalam pidato keagamaannya saat berjemaat di Gereja, sebagaimana pula sempat tersebar video viralnya beberapa waktu lalu di Sosial Media.

Islam sama seperti Yahudi dan Nasrani, tergolong dalam agama samawi. Islam dihadirkan ke muka bumi oleh Allah Ta'ala untuk menyempurnakan agama-agama sebelumnya, agama yang juga diturunkan pada mereka Al Kitab. Jika Gereja Katholik melarang memilih pemimpin diluar iman mereka, itu benar! Tapi 'fatwa' itu tidak berlaku untuk memilih Pemimpin Islam. Posisi agama Nasrani itu sendiri dihadirkan Allah Ta'ala setelah sekian ratus tahun sepeninggal Nabi Musa a.s dengan Taurat-nya. Yahudi adalah sasaran mengapa Nasrani hadir dengan Nabi Isa a.s sebagai Rasul. Itu jauh-jauh diatas sebelum kelahiran Rasulullah, Muhammmad saw, diutus sebagai utusan yang membenahi agama pada seluruh Umat Manusia, termasuk bangsa Israil dengan agama Yahudi dan Nasrani lahir dari masyarakatnya. Sebagaimana yang diberitakan dalam Taurat dan Injil, agama yang dibawa Muhammad saw harus diimani sebagai penyempurnaan. Jadi, tak heran jika tak ada sepotong ayat pun dalam Kitab Injil dan Taurat tentang larangan mengambil Pemimpin Islam bagi Yahudi dan Nasrani. Sebagai agama dengan 'sekte' tertua, Gereja Katholik seharusnya tidak 'memfatwakan' larangan memilih pemimpin Muslim. Selayaknya seolah-olah akan menghadapi 'Perang Salib'.

Siapa yang menghancurkan Ahok?

Umat Islam atau Tokoh Islam yang menghancurkan karir politik Ahok jika kelak beliau tidak terpilih lagi dalam ajang Pilgub DKI? Tidak, jawabannya. Tapi Ahok bisa saja dijauhi dan dikucilkan Umat Islam di DKI karena bisikan bohong orang-orang dekat disekitarnya. Ring 1 Ahok memberikan pertimbangan-pertimbangan yang menyesatkan Ahok sendiri. Terutama pengenalan tentang Islam, yang merupakan agama mayoritas yang dipeluk rakyat di DKI bahkan di republik ini. Padahal hal tersebut, mengenal Islam, adalah faktor penting dalam Dunia Politik di tanah air.
Bagaimana tidak, entah darimana Ahok bisa mengungkapkan makna kata; aulia, dengan arti; kawan? Penterjemah Bahasa Arab mana yang 'membisikkan' Ahok, atau Ahli Penterjemah Al Quran dari kalangan ulama mana yang memberikan penjelasan kepada Ahok? Sehingga beliau dengan yakin dan pede-nya menjelaskan dalam klarifikasinya beberapa waktu lalu? Mustahil Ahok demikian jika tidak atas pertimbangan-pertimbangan 'para pembohong dan penjilat' yang menyesatkan beliau. Ahok dikelilingi Fanatikers Buta! Jadi kesimpulannya, Ahok sendiri yang menghancurkan Ahok. Dalam artian Ahok dan Tim Ahli Strategi.

--- o0o ---

Yang disayangkan dari konstelasi politik Pilgub DKI kali ini adalah, ketika semangat ingin membangun demokrasi tanpa SARA justru yang terjadi sebaliknya. Padahal, katanya, elit parpol-parpol sudah bersepakat memunculkan calon-calon pemimpin dengan latar belakang Non Agama. Yang dianggap bisa memicu isu SARA. Pada kenyataannya, strategi pemenangan dan ganjal mengganjal lawan poltik masih dan kental dengan berkutat dikubangan isu SARA. 'Kekhilafan' salah ucap Ahok saat di Kepulauan Seribu itu dijadikan Senjata Ampuh untuk membungkam suara Ahok menjelang Pilgub DKI 2017 nanti, dalam elektabilitas dan popularitasnya. Bagaimana manuver Tim Ahok dan Mesin Parpol koalisinya bisa mengembalikan elektabikitas Ahok? Sehingga Ahok kembali menuai simpati rakyat DKI, terutama Umat Islam, akan menarik diperhatikan untuk edukasi politik di tanah air.

Selamat berjuang Ahok!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar