Diceritakan, kurang dari empat kali lagi malam purnama di Persada Nusantara terbit dan tenggelam, maka dilantiklah pendekar dari Padepokan Kerbo Hitam Bertanduk Mata Merah yang berwajah lugu sah mendapatkan Gelar Agung: Raja Maling, sekaligus menjadi Prabu Penguasa Nusantara secara curang tapi tak mampu dibuktikan oleh lawan tandingnya, didepan Mahkamah. Pendekar Tua Bangka yang dulu sempat meludahkan ludahnya ke lantai karena ditanyakan Para Pencerita Hikayat bahwa Raja Maling tak pantas menjadi Prabu Penguasa Nusantara, pada 20 hari bulan Penanggalan Bangsa Kulit Pucat, ikut dilantik menjadi Wakil Prabu Penguasa Nusantara. “Cis! Bisa hancur negeri ini kalau budak tu jadi Penguasa,” Begitu masih segar diingatan Halayak Rakyat Jelata.
Namun sayang teramat disayangkan, ada yang mengganjal dihati, kalau tidak ingin dikatakan dikemauan, bahwa Lawan Tanding diseteru saat Musyawarat Mufakat Pemilihan Penguasa Nusantara ala Demokrasi Bangsa Kulit Pucat yang sudah lama ditinggalkan Bangsa Kulit Pucat itu sendiri, masih terluka terbiarkan oleh Kubu Nusantara Cihui. Atas dasar hal tersebut, entah datang darimana, muncullah Niat Baik dari Sang Raja Maling ingin berpesiar, naik ke beranda dari satu Padepokan Silat ke Padepokan Silat lainnya, milik Kubu Bubur Merah Putih.
Diawal, di beranda milik Datok Saudagar Ujong Andalas, Penguasa Perguruan Silat dengan lambang Pokok Beringin Akar Menjuntai, Sang Raja Maling yang berparas lugu membawa Tepak Sirih menghadap. Lepas sudah Acara Berpantun Pembuka sambil bersirih ria, masuklah mereka kedalam Ruang Runding yang sudah disiapkan. Halayak Rakyat Jelata, melalui cerita dari Para Pencerita Hikayat (baik yang durhaka maupun yang jujur tebujur), tak dapat mengetahui apakan sebenarnya Hal Ihwal yang dibicarakan dalam Ruang Runding yang disiapkan sengaja.
Tapi menurut Datok Saudagar Ujong Andalas yang Kaya Raya sendiri tersebut, tak lebih, tiada yang istimewa dan ditekankan saat mengatakan bahwa Perguruan Sanggar Silat berlambang Pokok Beringin tak seujung kuku pun akan berpaling dari kesepakatan dengan Panglima Tanjak Merah dan Datok Pendekar Uban tentang berjuang bersama-sama dalam Kubu Bubur Merah Putih. Muram durja, pulang membawa Tangan Hampa, Bagai Bertepuk Sebelah Tangan, setelah sebelum dan sesudahnya dengan mesra bersalaman Salam Tanduk Kanan dan Tanduk Kiri. Agung!
Dihadapan ulayat, tertunduklah Sang Raja Maling merasa terhina tapi tak malu. Meskipun bibir sunggingkan senyum, namun masih terbesit rintih kata berharap. “Tak mengapa Tuan-Tuan! Tapi sampai bila Tuan Pendekar Datok Saudagar dan Pendekar-Pendekar di Perguruan Silat Pokok Beringin Akar Menjuntai sekalian tak Berak Malam? Saat itulah beta peroleh kemenangan.”
Tergambarlah kini dibalik niat Sang Raja Maling oleh Halayat Rakyat Jelata. Ada udang dibalik batu! Sekali mendayung, hendak dua tiga pulau terlampaui. Semula Pesiar hasrat menambal luka, ternyata Bujuk Rayu diselipkan dibalik Tepak Sirih. Nista! Tak berhenti disitu saja. Pesiar Membalut Luka tawarkan Tepak Sirih Damai akan keliling dilakukan hal yang sama? Yang jelas, pastilah isi Tepak Sirih tidak sekedar tawarkan sirih, kapur dan pinang semata-mata. Ada 19 Kursi dari 33 Kursi (sebelumnya 34) di Istana Kerajaan yang kelak apabila kapan saja semua Padepokan-Padepokan di Dunia Persilatan, kecuali Perguruan Pendekar Silat Ustad Janggut, bisa disiapkan jika ingin berkhianat dari Kubu Bubur Merah Putih. Sekali lagi, nista!
Bak punggok merindukan bulan, yang dinanti-nanti oleh Halayat Rakyat Jelata selama ini, kira-kira hampir beberapa pekan purnama tak sampai sewarsa lamanya, Sang Raja Maling yang piawai berkelit lidah, juga menjanjikan akan melawat khusus ke kediaman Panglima Tanjak Merah sebelum dilantik menjadi Prabu Penguasa Nusantara. Hal ini disambut baik oleh Orang-Orang Bijak Lagi Arif dan Pemerhati. Menurut mereka, sebuah keharusan yang harus dilaksanakan. Bagi sosok layaknya Sang Raja Maling, berpura-pura menyembah telapak kaki Panglima Tanjak Merah demi menaikkan Harkat dan Martabatnya, bukan hal sulit untuk dilaksanakan. Pak Belalang dalam Nujumnya, menasehati, agar disambut baik oleh Panglima Tanjak Merah, sekalipun pula harus berpura-pura. Buatlah nanti Sang Raja Maling agar senyaman mungkin. Jangan tolak Salam Tanduk Kanan dan Tanduk Kiri khas Raja Maling seperti pada saat Laga Tekak Musyawarat dan Mufakat Ala Demokrasi Bangsa Kulit Pucat lalu.
Apakah Temu Akrab antara dua pendekar besar yang pernah menjadi lawan ini akan berlangsung sebagaimana yang diharapkan? Atau kembali Halayat Rakyat Jelata kembali terima kenyataan bahwa panggung Dunia Persilatan akan dipenuhi aroma Api Permusuhan? Sebagaimana yang selama se-Dasawarsa ini dilakukan oleh Emak Ratu Agung, Sang Penguasa Abadi Padepokan Silat Kerbo Hitam Bertanduk Mata Merah? Penuh dengan Dendam Kesumat? Secara jiwa ke jiwa, hendaknya lah tiada angkara murka. Namun begitu, ihwal Benang Merah memperjuangkan Hak Ulayat Rakyat dalam Lembaga Adat Musyawarah dan Mufakat Rakyat, hendaknya terus berlangsung.
Adapun hikayat ini, munculnya dirawi oleh Pak Belalang Ahli Nujum. Apabila ada kesamaan dalam cerita dengan yang sebenarnya, semata-mata tiada disengaja. Yang paling mustahak bagi Rakyat adalah bagaimana mengambil hikmah. Semoga asap masih bisa keluar dari celah-celah bilah bambu dan atap daun nipah, saat menanak bubur dari beras jatah pembagian Lumbung Padi Kerajaan yang sudah berkutu (itupun kalau tak dihembat Panglima Talam) pada saat musim kering melanda. Wassalam!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar