Sabtu, 17 November 2012

Kopiah Baru Wak Alang



Akisah pada suatu hari,

       Tidak seperti biasanya  wak Alang pagi ini sudah terlihat rapi. Ia tidak pergi ke kebunnya. Hari ini wak Alang mau pergi ke pasar dengan sepeda tuanya untuk membeli kopiah baru. Kopiah lamanya sudah terlihat buruk dan lipu. Jadi, ia berpikir untuk membeli kopiah yang baru.

     “Mau kemana, wak?” Tanya Atan dari tangga halaman serambi depan rumahnya pada wak Alang.

       “Hei ... kau, Atan! Mau ke pasar aku.”

       “Buat apa ke pasar, wak?”

     “Rencanaku nak membeli kopiah baru!” Jawab wak Alang sambil perlahan mendorong sepeda tuanya, keluar dari kolong rumah tinggi wak Alang.

     “Iyalah, cocok lah sudah diganti kopiah uwak tu! Dah burok kali kutengok, tak macam kopiah lagi bentuknya.

       “Nak ikut kau, Atan?” Ajak wak Alang.

      “Kalau tak ada janjiku sama si Jambek tu, mau memancing ke muara kami siang ni. Endak juga aku ikut, wak!” Jawab Atan menolak ajakan wak Alang.


     Hari terlihat begitu cerah pagi itu. Matahari bersinar tampak tersenyum ceria. Langit pula membiru menghias bumi Kampong Srimerdu. Bersama siulan burung-burung pagi, wak Alang mengayuh sepeda tuanya pelan namun pasti. Pasar yang tak jauh dari tempat tinggalnya wak Alang adalah tujuan.
  
     Sepanjang jalan tak henti-henti sapa ramah orang-orang pada wak Alang. Maklum ia cukup dikenal di Kampong Srimerdu. Sepak terjangnya dalam bersosialisasi dengan rakyat Kampong Srimerdu tak bisa dianggap enteng. Wak alang orang yang suka bergaul dimana, kapan dan pada siapa saja tanpa pandang bulu.


       “Assalamualaikom, wak Alang!” Salam si Mat Botak dari tepi jalan di persimpangan jalan.


     “Wa alaikom salam!” Jawab wak Alang memandang sambil tersenyum pada Mat Botak.

       “Mau kemana, wak?”


       “Ke pasar!” Jawab wak Alang singkat sambil terus mengayuh pelan sepeda tuanya.

    “Wak, singgahlah dulu! Apa hal pagi-pagi dah nak ke pasar ni?” Tanya Mat Botak mengharap wak Alang singgah.

       Wak Alang menghentikan sepeda tuanya, berbalik arah ia ke tempat Mat Botak berdiri. Merasa tak terlalu terburu-buru, wak Alang menyinggahi Mat Botak untuk sekedar bersapa. Terkadang kesempatan seperti itu mendatangkan rejeki pada wak Alang. Manakan tahu ada kabar tentang kerja sampingan untuknya, pikirnya.

       “Rencananya, nak membeli kopiah baru aku, Mat. Tak kau lihat dah buroknya kopiahku ni,” Kata wak Alang memberitahukan niatnya ke kota pagi itu.

       “Ooooo, iyalah!”

     “Apa cerita harini? Ada job tidak?” Tanya wak Alang.Wak Alang sebagai petani tradisional, terkadang harus mencari-cari kerja serabutan. 

      Maklum, hasil kebun jagungnya tak dapat diharapkan untuk menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dari pergaulanlah terkadang pembuka jalan pintu rejekinya. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

       “Kalau iya pun. Buat apa cepat-cepat kali ke pasar tu, wak? Belum lagi buka toko si Mehmed Jaber tu jam segini! Duduk di kedai kopi Jamel tu dulu lah kita, becakap-cakap sebentar. Nanti jam sembilan, baru uwak lanjut ke kota.” Ajak Mat Botak.

       “Becakap-cakap saja tak minum kopi, malaslah aku. Karang bebuih tepi muncung bibirku ni!” Tolak wak Alang.

          “Tidaklah becakap saja, minum kopi kita.” Kata Mat Botak.

          “Kau yang bayar kopi ya, duitku lagi tak ada ni!”

       “Gampang tu, ada job sikit untuk wak Alang ni. Kalau wak Alang mau,” Tawar Mat Botak pada wak Alang.
       
       “Inilah yang sedap. Kalau ada job, kenapa pulak aku tak mau?” Jawab wak Alang senang mendengar tawaran Mat Botak.


      Tak menunggu lama, sudah duduk mereka didalam kedai kopi bang Jamel. Dua gelas kecil kopi dan beraneka jenis kue dalam piring terhidang. Kedai kopi bang Jamel seperti biasanya ramai dengan pelanggan. Gaduh canda cerita penghuni Kampong Srimerdu terdengar ramai.


       “Apa job yang kau tawari tadi?” Tanya wak Alang sambil menghembus-hembus kopinya.

    “Wak Alang kan tau, ini tahun-tahun dah mau dekat nak Pilkada di daerah kita. Aku kebetulan dapat job jadi Tim Sukses salah satu calon. Yaitu memasang spanduk, menempel kertas, membagi-bagi kartu nama dan kalender. Kalau wak Alang mau, kubagi sikit job ni untuk wak Alang.” Mat Botak menawarkan pada wak Alang.

Mat Botak memang aktivis partai kelas akar rumput kesohor di Kampong Srimerdu. Untuk kelas desa seperti Kampong Srimerdu, Mat Botak tak diragukan lagi kalau soal menggalang masa. Ia selalu laris untuk diajak menjadi Tim Sukses kelas akar rumput. Meskipun tak jarang calon yang diusungnya selalu kalah ditiap-tiap Pemilu.

“Pasang spanduk?!”

“Iya, wak! Ada lima puluh buah di rumah tu. Wak Alang kukasi lima spanduk, terus wak Alang pasanglah di tempat-tempat yang strategis.”

“Berapa upahnya?”

“Satu spanduk, sepuluh ribu! Ini harga khusus untuk wak Alang, jangan bilang-bilang yang lain.”

“Mak jang! Besar tu, maulah aku.” Kata wak Alang senang.

“Nanti sore kuantarkan, tapi jangan lupa uwak. Pas pemilu nanti coblos gambar beliau tu.”

“Iyalah.” Kata wak Alang senang.

“Ha, untuk sementara ini ada kalender sama kartu nama dari pasangan calon gebernur kita nanti! Jangan lupa dipasang didinding rumah wak Alang tu. Wak Alang dengung-dengungkan juga pada yang lain,” Kata Mat Botak memberikan sebuah kalender bergambar pasangan yang dibelanya di Pemilu kali ini.

       “Kalau soal dengung mendengunkan, emak-emak yang rajin begunjing di kedai lah kau tawari! Kujamin, tak sampai seminggu, sudah bedengung kuping beliau tu karena disebut-sebut orang.” Usul wak Alang.


       “Cocok, ada wak Alang kenal emak-emak tukang begunjing di kedai?”


       “Tak ada! Kau tanyalah sama binimu,”

           “Iya, ya! Kenapa tak terpikirkan aku selama ini? Wak, biniku tu kadang-kadang suka begunjing juga! Makanya kalau dah ke kedai jarang bisa dua tiga menit, bisa sampai nak Dzuhur baru dia pulang.” Cerita Mat Botak tentang istrinya.

      “Haaaaaa, pas lah itu! kan, cocok. Daripada begunjing sia-sia tak dapat apa-apa, bagus kau angkat binimu jadi ketua tim gunjing sekali ini!”

       “Betul, wak! Tak sia-sia aku cerita-cerita sama wak Alang ni. Dapatku ide briliun ... eh, brilian maksudku!” Kata Mat Botak senang bukan main.

        “Mat botak,”

        “Apa, wak Alang?”


        “Tidak merokok kita ni? Asam mulutku,”


      “Oh iya, lupa aku wak! Jamel, kau kasi rokok wak Alang ni sebungkus dulu! Aku yang bayar,” Kata Mat Botak pada bang Jamel yang sedang sibuk melayani pelanggannya.

       “Ok bang Mat Botak! Segara datang, apa nama rokok wak Alang tu?” Sahut bang Jamel segera mengambilkan rokok untuk wak Alang dari stelling kayunya.

      "Rokokku yang Cap Kuda Kencing Bediri tu, Jamel!" Kata wak Alang memberitahu merek rokok kesayangannya.

         "Waduh, habis wak! Kalau yang Cap A Tungang Langgang mau wak Alang?"

         "Jadilah, daripada tak ada," Jawab wak Alang pasrah.

      Cerita punya cerita, hampir setengah hari juga wak Alang dan Mat Botak bercerita di kedai kopi bang Jamel hari itu. Suara adzan Dzuhur yang akhirnya membubar mereka siang itu. Usai berjamaah di Masjid kampung yang tak jauh dari kedai kopi bang Jamel, wak Alang dan Mat Botak pun berpisah dengan jalan sendiri-sendiri.

       Sakin senangnya, wak Alang lupa dan tak jadi ke Pasar. Ia pun langsung pulang ke rumah selesai dari sholat Dzuhur di Masjid tadi. Di tempelkannya ke dinding kalender pemberian Mat Botak padanya tadi. Lalu ia duduk memandangi selembar kalender pasangan calon peserta Pilkada Incumbent dikalender itu.


       “Gagah memang orang yang bakal maju jadi gebernur ni, macam Roy Marten kawan ni! Kalau wakilnya, macam Ongky Alexander kutengok.” Kata wak sambil menghisap rokok Cap A Tunggang Langgang pemberian Mat Botak tadi.

     “Assalamualaikom!” Tiba-tiba ada suara memberi salam dari bawah depan serambi rumah wak Alang.“Wa alaikom salam! Siapa tu?!” Tanya wak Alang dari ruang depan rumahnya.


      “Aku wak, Biden Sampan!” Jawab Biden Sampan dari depan tangga serambi depan rumah wak Alang.

         “Oooo, kau Biden! Ha, naiklah!” Kata wak Alang menyuruh Biden Sampan untuk naik ke rumah panggungnya itu.

       Biden Sampan tetangga wak Alang. Ia pun naik keatas rumah tinggi wak Alang, setelah wak Alang menyuruhnya naik. Ditangannya ia membawa bungkusan kantong plastik besar berwarna hitam. Lalu dengan senyum khasnya, Biden Sampan duduk disebelah wak Alang yang masih duduk menghadap kalender dari Mat Botak tadi.


       “Siapa tu, wak?” Tanya Biden Sampan pada wak Alang sambil memuncungkan bibirnya kearah kalender salah satu pasangan calon Gubernur yang diusung partainya Mat Botak.


       “Entah, akupun tak tau! Baru sekali ni aku melihat mukanya, kata Mat Botak bakal calon Gebernur kita. Kabarnya, hebat beliau ni!” Kata wak Alang.

         “Ah, darimana wak Alang tau?”

       “Dari Mat Botak lah, dari mana lagi?”

       “Hebat apanya, wak?”

       “Entah, kata si Mat Botak hebat. Ya, hebat lah kubilang!”

     “Wak, lepaskan saja kalender tu. Tak usah wak Alang pasang di rumah uwak ni! Buat sarang nyamuk saja,” Kata Biden Sampan pada wak Alang tak senang melihat gambar dikalender itu.


       “Kenapa pulak begitu?” Tanya wak Alang heran.


     “Ini, wak Alang liat betul-betul! Ini baru pantas sebagai calon pemimpin gebernur kita. Kalau yang ini, wak Alang pasti kenal. Tidak macam kawan tu.” Kata Biden Sampan menunjukkan kalender dari kantong pelastik bawaannya.

     “Siapa ni, Biden?” Tanya wak Alang sambil menyipitkan matanya memandangi gambar dua orang didalam kalender yang diberi Biden Sampan.


      “Yah, tak tau wak Alang? Beliau ni lah tokoh politik nomor satu di daerah kita ni. Banyak yang sudah dibuatnya untuk kita, wak! Tak nyesal kalau wak Alang mendukungnya.”


     Ternyata isi dalam kantong plastik hitam berukuran paling besar yang dibawa Biden itu kalender juga. Biden Sampan memang aktivis kelas akar rumput juga, dari partai lain. Sepak terjangnya dalam merebut hati rakyat tak kalah hebatnya dibanding Mat Botak. Mereka berdua memang selalu bersaing jika jumpa dimasa-masa kampanye seperti ini.
     “Beliau ini kan, juga pemimpin di daerah sebelah sana tu! Dekat dengan sungai yang sering tegenang kalau musim hujan tu.” Kata Biden Sampan semangat menerangkan.


        “Ooooo, yang itu! Yang rakyatnya banyak nelayan miskin tak terurus tu? Tapi apa yang sudah dibuatnya untuk kita ni rupanya, Biden?” 


       “Macam-macam lah, wak. Termasuk jalan tu!”

     “Jalan, jalan yang itu? Yang baru siap proyeknya semalam, harini dah rusak tu? Yang setiap tahun ditambal karena rusak tu?”

      “Wak ada cecak besar kali lewat! Tu haaaaaaaaaaaaa,” Kata Biden Sampan mengalihkan pertanyaan wak Alang.

    “Kalau tak ada kalender yang kau bawa ni. Mungkin tak tau aku yang mana muka orangnya ni, Biden!” Kata wak Alang memandangi lagi kalender yang dibawa Biden Sampan.

       “Ha, sekarang wak Alang kan dah kenal!”


      “Tapi yang di gambar tu tak kalah hebatnya juga. Wakil kita dipusat, katanya. Walaupun tak pernah aku merasa terwakili, sor juga aku liat tampangnya tu.” Kata wak Alang.


     “Wak Alang. Bantu aku membela kawan ni, wak! Nanti wak Alang kubagi job, lumayan besar duitnya wak.” Kata Biden Sampan membujuk wak Alang.

       “Job apa?” Tanya wak Alang.

       “Biasalah, pasang spanduk. Satu lembar bayarannya lapan ribu!”

       “Delapan ribu? Mat Botak menawarkan aku memasang spanduk juga, tapi sepuluh ribu.” Kata wak Alang.

       “Iya? Sepuluh ribu katanya? Sepuluh ribu pun jadi, asal wak Alang ikut aku! Tapi jangan sama siapa-siapa, ini harga khusus untuk wak Alang.” Kata Biden Sampan.


     “Haaaa, itu baru cocok. Jadi! Tenang kau, kalau wak Alang jaga rahasia ... biar pecah diperut asal jangan pecah dimulut!” Kata wak Alang senang.


       Bagaimanakan hati wak Alang tak senang, ia dapat dua job langsung hari ini. Bagi wak Alang uang segitu belum tentu didapatnya dihari-hari lain. Memang fenomena pesta demokrasi tiap-tiap lima tahun sekali itu mendatangkan berkah, pikir wak Alang.




        “Biar sajalah, wak. Kan ada untungnya juga untuk kita, bisa kita dapat job kecil-kecilan.” Kata Biden Sampan.

       “Iyolah, bawa kemari spanduk tu. Nanti malam kupasang. Sekalian uangnya, mau beli kopiah baru aku besok!”

      “Tapi wak, jangan lupa uwak. Pasang ditempat-tempat yang paling strategis, tempat yang orang pasti melihatnya. Supaya teringat-ingat orang pada beliau tu.” Kata Biden pada wak Alang.

       “Kalau itu, usah kau ajari aku! Aku tau tempat paling strategis di dunia ni. Paling tidak, sekali dalam sehari orang pasti memandangnya penuh konsentrasi dan harus!” Kata wak Alang meyakinkan Biden Sampan.


     Selesai deal mereka siang itu, Biden Sampan pun pulang. Setelah memberikan lima lembar spanduk pada wak Alang. Disore harinya, Mat Botak pula datang menyerahkan lima lembar spanduk pada wak Alang.


       Tak hanya Mat Botak dan Biden Sampan yang memberikan job memasang spanduk pada wak Alang. Udin Kura-kura, Iwan Cebong dan Husin Ketam juga mendatangi wak Alang. Tak ubahnya Mat Botak dan Biden Sampan, mereka juga meminta wak Alang memasang spanduk calon gubernur mereka masing-masing.

       Mat Botak dan Iwan Cebong sebenarnya jika tidak dimusim Pemilu begini, bekerja di kebun seperti wak Alang. Ada juga yang sebagai nelayan seperti Biden Sampan, Udin kura-kura dan Husin Ketam. Tapi karena penghasilan yang tak seberapa dari profesi sebenarnya, maka mereka melakoni pekerjaan musiman lainnya.


       “Alhamdulillah. Satu hari ini, dapatku dua ratus lima puluh ribu. Besok, bisa aku membeli kopiah kelas atas. Yang mirip kopiah Orang Kaya Tungir tu,” Kata wak Alang sambil menghitung uang yang didapatnya dari masing-masing TS kelas Akar Rumput, dari berbagai pasangan calon Guberbur yang mau berlaga di Pemilu kali ini di daerah wak Alang.


       Sambil mengipas-ngipas uang yang didapatnya hari ini. Ia memandangi lima lembar kalender besar yang lengket di dinding papan rumah wak Alang. Tersenyum lebar ia menatap wajah-wajah didalam gambar itu.


       “Gagah kali kalian kutengok, macam-macam akrab aku sama kalian ni! Rasanya macam-macam dah kenal dua puluh tahun yang lalu aku sama kalian ni. Makanya hapal kali aku sama tabiat kalian. kalau tak karena ajang lima tahun sekali ni, tak akan kudapat kopiah baru dari kalian.” Kata wak Alang menggeleng-gelengkan kepalanya bicara sendiri pada gambar dikalender itu.


       Keesokan pagi, seperti pagi semalam. Wak Alang sudah siap-siap dan tampak rapi untuk pergi ke pasar. Ia berniat kembali pergi ke pasar untuk membeli kopiahnya yang tertunda semalam. Begitu keluar dari halaman rumah ia sudah bertemu dengan Mat Botak, Biden Sampan, Udin Kura-Kura, Iwan Cebong dan Husin Ketam yang sedang menuju rumahnya.

       “Cemana wak? Sudah uwak pasang spanduk tu?” Tanya Mat Botak sambil melirik sinis pada yang lain.

       “Sudah, tadi malam aku pasang. Tenang saja kau,” Jawab wak Alang dari sepeda tuanya.

       “Punyaku, wak?” Tanya Udin Kura-Kura pula dari sepeda motornya.

     “Sudah! Semua spanduk yang kalian kasi sama aku tu, sudah kupasang,” Jawab wak Alang lagi.


       “Ditempat strategis kan, wak?” Kali ini Udin Ketam yang bertanya.


      “Dijamin sangat strategis! Paling tidak, sekali sehari orang akan melihatnya dengan tatapan tak bisa ke tempat lain. Penuh fokus!” Kata wak Alang lagi.

       Mendengar jawaban wak Alang, kelima TS kelas akar rumput itu merasa lega. Setelah saling bertatapan sinis, mereka saling membuang pandangan. Biasalah kalau orang lagi bersaing saling bertemu. Lalu bubar meraka pergi ke tempat tujuan masing-masing dengan sepeda motor mereka. Tak lain tak bukan, kedai kopi bang Jamel.
        “Jamban umum tu apa kurang strategisnyaTak mungkin orang tak nengok kalau lagi berak. Sudah kusetel, kalau bejongkok nak buang hajat. Nampak orang lah gambar para calon tu langsung kemukanya! Hehehe ... ” Kata wak Alang dalam hati.

     Setelah para TS kelas akar rumput itu bubar, Wak Alang pun sambil mendayung sepedanya berlahan namun pasti melanjutkan perjalanannya ke pasar. Ia ingin menunaikan niatnya untuk membeli kopiah barunya yang tertunda semalam. Sinar mentari dan kicauan burung menemani kayuhan sepedanya. 


     Ditelusurinya jalan kecil di kampung mereka, Kampong Srimerdu. Senyum lebar menghias wajah. Langit biru yang menghias Kampong Srimerdu tanda keramahan alam. Wak Alang adalah sepenggal cerita dari sekian banyak masyarakat di Kampong Sriumerdu. Yang tak pernah riuh oleh kekurangan. Namun selalu riang dengan segala kecukupan, berkecukupan pada apa yang disediakan alam untuk mereka.


Wasalam,


Sabtu, 10 November 2012

WAK ALANG BERFIRASAT


       Menengadah dagu, wak Alang duduk disudut kedai kopi bang Jamel. Ditangan kanan rokok masih terbakar dan mengeluarkan asap dibiarkannya sia-sia. Pandangannya kosong dengan bola mata terlihat menerawang keatas atap daun rumbia kedai kopi bang Jamel. Duduknya sambil mengangkat kedua kaki naik keatas bangku, tinggalkan sepasang sendal jepitnya diatas lantai tanah.
      
       Bang Jamel sambil meracik kopi, sesekali melirik wak Alang dari balik steling kayu. Kedai kopi bang Jamel masih terlihat sepi pagi itu. Belum ramai dengan suara-suara pelanggan setianya. Selesai meracik kopi, bang Jamel mengantarkan kopi panas pesanan wak Alang itu.
      
       "Wak, ayamku kemarin melamun macam uwak ni. Tapi tak berapa lama kutengok dah tekapar jadi bangkai tak bernyawa," Kata bang Jamel sambil meletakkan kopi diatas meja wak Alang.

      "Eh ... bukan melamun sembarang melamun aku, Jamel. Ada hal yang kupikirkan." Kata wak Alang tersadar dari lamunannya.
 
       "Usah banyak kali berpikir wak. Masih pagi lagi ni, tidak wak Alang pergi ke ladang tu?" Tanya bang Jamel sambil duduk dibangku, tepat didepan wak Alang.
 
       "Lagi tak semangat aku nak ke ladang tu, hari ini biarlah aku bersantai sejenak dahulu." Jawab wak Alang sambil menuangkan sedikit kopi panasnya kedalam piring kecil alas dari gelas kopinya.
      
       Bang Jamel membakar rokoknya, ia melihat seperti ada yang menjadi beban dipikiran wak Alang. Bang Jamel sangat hapal akan tabiat dan sifat wak Alang. Ingin sedikit meringankan beban pikiran wak Alang, bang Jamel ikut duduk bersama wak Alang.
      
       "Apa lagi sekali ni yang uwak pikirkan?" Tanya bang Jamel kali ini mau tahu akan perkara yang sedang dipikirkan wak Alang.
      
       Wak Alang menyeruput kopinya dipiring kecil dari alas gelas kopinya yang ia tuangkan tadi. Sesekali ia menghembusnya. Uap putih tipis keluar dari kopi hitam pekatnya  wak Alang. Tampak sejenak wajahnya menikmati kopi buatan bang Jamel yang terkenal enak itu. Sebelum ia menceritakan apa yang sedang dipikirkannya.
      
       "Aku heran dengan keadaan negeri kita belakangan ni. Kenapa setiap kali aku membuka koran pagi di kedai kopi kau ni, selalu ada saja berita kerusuhan dalam kolom koran tu?" Kata wak Alang bertanya heran.
      
       "Kalau itu, entahlah, wak. Manakan sanggup aku menjawabnya," Kata bang Jamel.
      
       "Aku bukan minta jawapanmu, Jamel! Aku hanya memberi tau kau tentang apa yang kupikirkan. Tau aku, tak mampu otakmu itu menjawab pertanyaanku ni." Kata wak Alang yang kesal dengan jawaban bang Jamel.

       "Hahahahaha ... hahaha," Bang Jamel tertawa mendengar perkataan wak Alang.
      
       Wak Alang memang tak bisa menahan kata. Ia orang yang spontanitas, selalu ceplas-ceplos. Apa yang terpikirkannya ketika itu, maka itulah yang ia ucapkan seketika. Tapi gaya bicaranya yang spontanitas itu selalu dianggap lucu bagi masyarakat penghuni Kampong Srimerdu.
      
       "Kalau menurut firasatku, tak kan mungkin semua kejadian kerusuhan itu tanpa ada maksud dan tujuan. Artinya, ada yang bermain wayang dalam usaha mewujudkan sebuah skenario," Kata wak Alang dengan dahi mengerut serius.
      
       Bang Jamel diam saja mendengar celotehan wak Alang. Ia tersenyum dan menikmati asap dari hisapan sebatang rokoknya. Bagi bang Jamel, wak Alang seperti pelawak yang sedang menghiburnya karena memikirkan hal yang terlalu aneh bagi orang seperti wak Alang.

       "Wak, usah dipikirkan kali. Baik uwak berpikir macam mana supaya pokok ubi dikebun uwak tu bisa berbuah tomat. Itu lebih bermanfaat menurutku," Kata bang Jamel pada wak Alang.
      
       "Kau sajalah yang memikirkannya, tak pernah kudengar seumur hidupku ada pokok ubi bisa berbuah tomat!" Kata wak Alang semakin kesal.
      
       Kalau sudah begitu, jiwa perajuknya pun muncul. Duduk menyamping dia tak ingin melihat bang Jamel.
      
       "Susah becakap sama kau ni, Jamel. Wawasanmu kurang, taumu cuma seputar kedai kopimu ni sajalah."
      
       "Buat apa uwak memikirkan kejadian yang terjadi jauh dari sini? Ada orang lain yang lebih pantas memikirkannya, wak! Para aparat kan ada disana," Kata bang Jamel ungkapkan pendapatnya.
      
       "Ni lah tak ngerti kau. Kita sebagai warga negara berhak tau apa yang sedang terjadi pada kondisi negeri kita ni, jadi kita tau memposisikan diri apabila muncul sebuah gejala dalam suatu masyarakat. Kontrol Jamel, kontrol!" Kata wak Alang bersemangat menerangkan maksud pikirannya.

        "Betul kata wak Alang tu, bang Jamel!" Sahut Marfu'ad dari bangku dihujung lain kedai kopinya bang Jamel itu.
       
       Marfu'ad yang sedari tadi terlihat begitu khusuk membaca koran, akhirnya tergugah juga ingin ikut dalam pembicaraan pagi mereka. Dilipatnya koran yang baru saja selesai ia baca. Sambil bangkit berjalan menuju meja wak Alang dan bang Jamel duduk.
      
       "Buatkan aku kopi susu lah bang!" Marfu'ad memesan minum paginya.
      
       "Sekalian kau bawa kueh bakwan tu nanti kemari Jamel," Kata wak Alang pula.

        "Menurut uwak, apa yang sedang terjadi sekarang ni wak? Analisa uwak lah!" Marfu'ad bertanya pendapat wak Alang.
       
        Bang Jamel bangkit dari duduknya untuk membuatkan pesanan Marfu'ad. Marfu'ad duduk tepat disamping bekas bangku bang Jamel duduk tadi.
      
       "Aku kurang paham kalau kau minta analisa. Karena aku main firasat saja, Fu'ad. Tapi yang pasti kalau kulihat latar belakang kejadian tu, tidaklah begitu mendasar pada filosofi atau isme," Jawab wak Alang.
      
       "Betul, wak. Ini seperti suatu kejadian yang ditimbulkan dari provokasi yang kuat dalam suatu masyarakat. Tapi kita hanya dapat curiga, tak bisa menuduh." Marfu'ad setuju dengan firasat wak Alang.
      
       "Benda, gitulah kunamakan. Nah semua urusan benda tu sudah diserahkan pada wakil kita. Sekarang tinggal bagaimana benda tu diolah oleh wakil kita menjadi benda aman," Kata wak Alang ungkapkan firasatnya.
 
       "Setuju aku dengan firasat uwak tu. Tapi wak,  kalau lah benda tu masih tetap menjadi duri bagi kita nanti. Macam mana, wak?" Marfu'ad bertanya lagi.
      
       "Ha, itulah yang susah! Seperti kau tau, wakil kita yang diharap untuk mengelola benda tu kan mayoritas bagian dari golongan yang tengah berkuasa saat ini." Jawab wak Alang.
     
        Tak lama bang Jamel sudah berada ditengah-tengah mereka lagi. Setelah diletakkannya kopi serta kueh pesanan Marfu'ad dan wak Alang, ia kembali duduk dibangkunya semula tadi. Tampaknya ia mulai tertarik akan cerita tentang pikiran wak Alang pagi itu.
      
       "Tapi kalau menurutku, ada baiknya kalau negeri kita ni punya benda tu. Sebab walau bagaimana pun, benda ini diperlukan untuk yang berwenang agar beraksi tanpa ragu-ragu." Kata bang Jamel sekali ini tampak mulai ikut berdiskusi.
       
       "Betul, namun begitu perlu kau ingat, bagaimana benda tu betapa mudahnya dijadikan alat oleh penguasa untuk menyelewengkan kekuasaannya." Kata wak Alang khawatir.
       
       Sejenak mereka terdiam setelah wak Alang utarakan tentang kekhawatirannya. Marfu'ad terlihat mengerutkana dahi, bang Jamel pula menggaruk-garuk kepalanya. Mereka seperti dalam situasi rapat pengambilan keputusan yang tak menemukan jalan keluar.
      
       "Bagaimana menciptakan kontrol dan penyeimbang ini memang sulit. Negeri kita ini belum punya formula yang cocok untuk itu," Kata Marfu'ad seperti putus asa.
      
       "Seharusnya, kita sudah mampu punya sistem yang baik. Ya, kan? Bukan sedikit orang pintar dan ahli dalam bidang Tata Negara kita yang mampu mengulas bagaimana sebaiknya menciptakan negeri yang mahdani untuk kita ni,” Kata wak Alang.
 
       Bang Jamel mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar pendapat wak Alang. Ia terpesona dengan cerita pagi mereka hari ini. Sampai-sampai tak sadar mereka akan kedatangan si Kudin. Si Kudin tak segera menegur mereka tapi hanya berdiri diam dari jauh mendengarkan pembicaraan mereka. Sambil mengucek-ucek matanya yang masih sayu karena baru bangun tidur ia berusaha memahami apa yang sedang wak Alang, bang Jamel dan Marfu’ad bicarakan pagi itu.

       “Woi, apa cerita kalian ni?!” Teriak si Kudin, akhirnya si Kudin menegur mereka karena merasa tak juga ada yang memperdulikannya.

       “Eh, kau Kudin.” Kata Marfu’ad memandang ke arah si Kudin yang sedang berdiri didepan pintu masuk kedai kopi bang Jamel.

       Wak Alang dan bang Jamel pun ikut terkejut dan memandang ke arah Kudin. Kudin tersenyum senang melihat ekspresi mereka. Wajahnya yang kuyu tadi hilang berganti senyum senang. Didatanginya mereka yang sedang asyik santai duduk dikedai kopi bang Jamel itu.

       “Apa cerita pagi ni, wak Alang? Serius kali kutengok dari tadi, sampai-sampai tak tau kalian aku datang,” Kata si Kudin duduk disebelah wak Alang.
 
       “Biasalah Kudin, kalau wak Alang ceritanya selalu soal negeri. Bukan ladangnya tu yang dikhawatirkannya,” Bang Jamel yang menjawab pertanyaan si Kudin.

       “Halaaaaaaah, wak! Tak usah uwak pening-pening kali, biar orang-orang hebat tu yang membahas hal-hal yang seperti itu. Kalau kita di kedai kopi ni, ceritanya yang santai-santai sajalah.” Kata si Kudin sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya.

       “Kau minum apa, Kudin?” Tanya bang Jamel yang tak melupakan kewajibannya sebagai pemilik kedai kopi untuk memberi servis yang baik pada pelanggan setianya.

       “Oh, iya! Aku kopi susu lah, bang. Sekalian bikinkan aku nasi goreng, bang!” Pesan Kudin pada bang Jamel.
 
       Bang jamel bangkit dari duduknya, untuk menunaikan permintaan si Kudin. Kedai kopi bang Jamel juga menyediakan makanan-makanan berat seperti nasi goreng, mi goreng, lontong dan kue-kue basah untuk sarapan. Biasanya kak Timah yang memasak. Namun karena hari ini kak Timah belum datang, terpaksalah bang Jamel yang memasak nasi goreng untuk si Kudin itu.

       “Kau Kudin. Dengan si Jamel tu, sama saja! Kalian ini pemuda, seharusnya kalian yang lebih kritis memandang masalah yang sedang terjadi hari ini, pada negeri kita tercinta ini.” Kata wak Alang pada si Kudin.

       “Kalau si Kudin, wak Alang. Dia lebih peka pada masalah si Julia tercinta, gadis cantik anak pak Penghulu tu daripada keadaan negerinya.” Sahut Marfu’ad menyindir si Kudin.
 
       “Halaaaah, Fu’ad ... Fu’ad. Macamlah kau tidak saja, ini karena didepan wak Alang-nya kau bercerita. Cubak didepan kami kalau tak ada wak Alang, ntah hapa-hapa ceritanya wak!” Si Kudin tak mau kalah membalas Marfu’ad.

       “Samalah kalian itu, sebelas dua belas. Sesama ntah hapa-hapa usah berkelahi.” Kata wak Alang sambil menyeruput kopinya lagi.

       “Kalian tau, kalau generasi seperti kalian ini tak mau kritis dalam berbangsa. Maka tak akan berubah-ubah sendi-sendi kehidupan kita. Begitu-gitu sajalah, jadi kapan kita ni akan berubah menjadi bangsa yang sejahtera?” Kata wak Alang lagi pada mereka.

       “Bukan apa-apa, wak. Kadang-kadang pening kepalaku memikirkannya, kalau dipikir-pikir kali pun bukannya bisa berubah nasib kita ni,” Kata si Kudin sambil membakar rokok pertama yang dihisapnya pagi ini.

       “Betul wak kata si Kudin tu! Bukan kita yang mempunyai kuasa langsung untuk bisa merubah keputusan yang sudah dibuat mereka-mereka tu.” Sahut bang Jamel sambil menggoreng nasi goreng.
 
       “Ah, entahlah! Jam berapa ni, Fu’ad?” Tanya wak Alang pada Marfu’ad, satu-satunya orang yang memakai jam tangan di kedai kopi bang Jamel pagi ini.

        Marfu’ad melihat jam tangannya, “Jam sembilan, wak. Kenapa rupanya, wak?”

       “Jam sembilan sudah?!” Wak Alang terkejut mendengar jawaban Marfuad.

       “Ke ladang lah aku, semalam kuletakkan pupuk taik lembu ditepi dekat sawahnya Paijo tu. Takutku kalau berlama-lama dibiarkan nanti habis kering jadi debu,” Kata wak Alang sambil cepat-cepat menghabiskan kopinya.

       “Yah, baru saja aku duduk. Sudah nak pergi wak Alang? Tak mau bekawan nampaknya wak Alang lagi sama aku ni?” Kata si Kudin pada wak Alang.

       “Bukan begitu, Kudin. Baru teringatku nasib pupuk taik lembu yang kemarin kubeli tu, takutku nanti tak bisa lagi dipakai menjadi pupuk. Bukan murah sekarang taik lembu tu segoni, biar tau kau!” Kata wak Alang menerangkan.
 
       “Sekarang ni ... taik lembu pun mahal ya, wak?” Kata Marfu’ad.

       “Harga diri sekarang yang murah. Bahkan kadang-kadang tak ada harga,” Kata wak Alang sambil mengeluarkan uang dari kantong celanannya.

       Diluruskannya satu persatu uang kertasnya yang berlipat-lipat kumal, terdiri dari berbagai pecahan. Warnanya tampak belang-belang. Wak Alang tak pernah memakai dompet karena tak pernah mengantongi uang banyak. Tak pula menyimpan foto, KTP. Apalagi kartu kredit.
 
       “Berapa semua belanjaku, Jamel?” Tanya wak Alang pada bang Jamel.

       “Masih sama macam yang semalam, wak. Belum kunaikkan lagi harga kopi dan kueh tu!” Teriak bang Jamel sambil masih membuat nasi goreng pesanan si Kudin.
      

       Usai membayar semua belanja makan dan minum sarapan pagi, wak Alang keluar dari kedai kopi bang Jamel. Didatanginya sepeda unta tua miliknya yang telah sekian lama menemaninya ke ladang. Ataupun kemana saja ia berpergian. Karatnya tak cegah sepeda tua wak Alang untuk tidak mengantarkan wak Alang menuju ladangnya.

       Tinggi matahari pagi, bersinar menemani kayuhan kaki wak Alang. Duduk diatas sadel sepeda tuanya dengan wajah senyum ramah. Jalan kecil berbatu dengan aspal tipis dijalaninya menjadi rutinitas jalan menuju ke ladang kecilnya. Dalam sebuah perjuangan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Berkeringat sebelum harus berkeringat merupakan keharusan.

       Wak Alang adalah sepenggal jalur cerita akan sekian banyaknya orang-orang di Kampong Srimerdu. Sebuah kampung kecil yang terletak dipesisir sebuah pulau kecil pula. Yang tak pernah riuh oleh kekurangan. Namun selalu ramai dengan keceriaan. Kearifan mereka pada lingkungan menjadikan alam sebagai sahabat. Yang hingga kini tetap menyediakan kebutuhan mereka.

       Wasalam,